Melihat Yang Tak Terlihat

20130928-063817.jpg

Waktu saya membaca kalimat ini, bayangan saya langsung mengarah pada peramal, atau dukun sekalian. Yang tak terlihat adalah masa depan. Maka mereka, dengan metodenya, entah dengan bola kristal atau membedah perut binatang, dapat memperkirakan kondisi di masa mendatang. Entah benar atau tidak. Kalau tidak kan bisa ngeles. Bolanya kurang bening, atau binatangnya kurang segar.

Ternyata, ada juga yang menggunakannya untuk melihat yang tak terlihat, pada kondisi saat ini. Misalnya saja dokter, yang dapat memperkirakan penyakit pasien yang tersembunyi di balik tubuhnya. Tentu, dokter melihat gejala yang ada, memiliki ilmu yang cukup untuk mengurai gejala tertentu mengindikasikan apa, dan membuat dugaan yang dibuktikan dengan pemeriksaan, cek lab sekalian.

Atau detektif yang menyelidiki, siapakah pembunuhnya. Yang dia dapati hanya korban, pembunuhnya entah dimana. Maka mulailah detektif mencoba merunut peristiwa, merangkai kepingan puzzle agar mendapatkan suatu fakta yang jelas. Berbagai fakta yang ada, dibuktikan ya dan tidaknya satu persatu. Sampai ketemu pembunuhnya.

Jadi, yang tak terlihat melahirkan dugaan. Dugaan tersebut harus dibuktikan, untuk mendapat suatu kesimpulan. Bukan untuk menilai.

Jika kita melompat dari dugaan menjadi penilaian, hal yang lucu akan terjadi. Saat kita ditanya jaksa, kenapa kok tahu kalau dia pembunuhnya dan kita jawab, ‘Saya melihat yang tak terlihat’ bisa diketawai pengunjung sidang. Atau saat kita berusaha meyakinkan investor, proyek ini pasti menguntungkan berdasarkan ‘melihat yang tak terlihat’ kita akan mendapati ternyata kita adalah satu-satunya orang yang bertahan di ruangan.

Apa yang bisa dipercaya pada seseorang yang tak mampu menjelaskan fakta, yang ada cuma keyakinan diri yang begitu besar atas hal yang diyakininya. Tambah parah lagi ketika pengetahuannya tak sebesar yang dilukiskannya, sehingga apa yang diucapkan seperti tong kosong nyaring bunyinya. Ditambah tak pernah mau belajar karena merasa sudah pintar, lengkap sudah kekonyolannya.

Sampai membutakan matanya.

Ia jadi tak melihat realita. Pernyataan ‘melihat yang tak terlihat’ ternyata hanya menutupi ego bahwa ia hanya mau ‘melihat yang ingin dilihat’. Untuk hal-hal yang tak ingin ia lihat, maka ia akan berpura-pura, secara sadar maupun tak sadar,untuk mencelikkan matanya. Menganggap hal itu tak ada. Pikiran, mengaburkan pandangan.

Gelap mata?

Bisa jadi. Berdasarkan hati, bukan logika, melangkah salah berdasarkan keyakinan yang salah. Tabrak sana sini, seperti banteng yang matanya hanya melihat pada kain yang dikibaskan, tanpa merasa bahwa sebenarnya ia adalah korban. Korban dari tontonan yang dipersembahkan pada para pengunjung gelanggang. Mereka yang bersoraksorai jika ada yang bisa terbunuh dalam arena.

Maka selalu yang bisa tersenyum di atas kerasnya kehidupan, adalah mereka yang mau membuka mata. Menyadari realita, dan hidup di dalamnya. Bukannya larut dalam khayalan dan mengabaikan semua fakta.

***
IndriHapsari
Gambar : betanews.com

Advertisements