Opak

20130928-054623.jpg

Setiap melihat penjual opak, saya sempatkan untuk membelinya. Kasihan, alasan utamanya. Penjualnya adalah bapak-bapak dengan kulit coklat karena berjalan memanggul bungkusan-bungkusan opak yang empat kali lebar tubuhnya, di bawah terik matahari. Ia biasa duduk di emperan toko, mengipaskan topi ke arah wajahnya, sampai peluhnya hilang, kemudian melanjutkan perjalanannya.

Sebenarnya saya tak terlalu tertarik dengan barang yang ia jual. Jaman sekarang, produknya menjadi begitu kuno di mata konsumen. Kadang saya berpikir, kenapa sih dia tidak jualan barang lain yang lebih menarik saja? Lalu kembali saya termenung, mungkin ia tak punya kesempatan untuk itu. Baik dalam hal modal maupun kemampuan.

Opak dalam pandangan saya seperti krupuk. Sepengetahuan saya terbuat dari singkong, dihaluskan, dicetak bundar-bundar, lalu digoreng. Hasilnya krupuk bulat datar yang dibungkus per lima lembar (saking tipisnya) dalam kantung plastik warna kuning, sehingga terlihat dari luar isi produknya.

Saya sudah hapal harganya. Lima ribu, dan ia akan memasukkan dua plastik kuning itu dalam plastik hitam. Dengan memberikan lima ribu padanya, saya menebus rasa kasihan saya, memberi ia sedikit penghidupan, dan uang segitu tidak akan membuat saya miskin. Maka setiap melihatnya, saya akan sempatkan mendatanginya.

Kebiasaan saya adalah, menaruh bungkusan tersebut pada kursi samping kendaraan, lalu sesampainya di rumah memberikannya pada Mbak di rumah. Mereka bilang di daerah mereka tinggal juga ada yang jual, dan harganya seperlima dari yang saya beli. Saya abai saja, karena tak mungkin bagi saya untuk menawar opak yang akan saya beli. Membayangkan ia mesti berjalan kaki di tengah kepungan kendaraan, disinari terik matahari kota metropolitan, belum biaya-biaya hidup yang mahal. Harganyapun sudah lama tak berubah, tak terpengaruh UMR maupun biaya bahan bakar yang makin meningkat.

Tadi malam, saya lakukan hal yang sama. Namun kali ini bersama anak-anak saya. Mereka bertanya – tanya, ‘Itu apa Ma?’ saat saya keluar dari toko dan berhenti di penjual opak tadi. ‘Opak,’ jawab saya singkat. Selesai, kami melaju pulang. Rencananya, seperti biasa, akan saya serahkan pada para Mbak di rumah.

‘Cobain dong Ma,’ seru si sulung. Agak ragu sebenarnya saat saya membuka bungkusan itu. Saya ngga yakin plastiknya menjaga kerenyahan opaknya. Saya menduga rasanya bakal hambar dan anak saya tak akan mau menghabiskannya. Saya takut kotor. Saya takut minyak untuk menggorengnya sudah menghitam.

Tapi akhirnya saya serahkan juga, dengan pesan, ‘Mesti dihabiskan,’ meski saya rasa kalaupun ia tak habis, terpaksa saya yang akan menghabiskannya. Memang lebih mudah membuangnya, tapi bapak tadi, atau istrinya, atau seseorang, telah membuatnya dengan susah payah. Tak laik rasanya bila kami menyia-nyiakannya.

Gigitan pertama, dan saya sudah siap menerima keluhannya. Namun yang anak saya ucapkan malah, ‘Enak Ma!’ dan berlanjut ke gigitan lainnya. Terdengar bunyi renyahnya opak dikunyah, dan saya jadi penasaran. Selera kami sama, dan mestinya benarlah apa yang ia katakan.

Saya meminta sebagian dari opak yang belum dimakannya. Dan saya mendapatkan opak yang crunch, berbunyi saat digigit dan dikunyah. Mengherankan bagaimana cara membungkus bisa menjaga kerenyahan produk. Rasanya, manis dan asin yang samar. Namun cukup gurih untuk jadi camilan, ataupun teman makan nasi.

Tak terasa satu bungkus habis selama perjalanan.

Entah apa yang saya rasakan dan tak tahu pula bagaimana melukiskannya. Namun, akhirnya saya menemukan kata padanannya.

Sombong.

Saya sombong dengan memberikan lima ribu itu untuk menebus rasa bersalah atas penampakannya di depan mata, bukan untuk membantu hidupnya. Saya sombong dengan tidak mencicpinya, berasumsi bahwa opaknya pasti tak enak, sehingga langsung saya ‘lempar’ ke orang lain. Saya sombong dengan menganggap orang-orang seperti itu pastilah tak punya kemampuan memenuhi selera saya.

Dan penjual opak telah menyadarkan saya.

Ia membuat produknya dengan sungguh-sungguh, meskipun keadaanya serba terbatas. Ia berikan rasa yang bisa diterima semua lidah, menjaga kesegaan produknya, dan bersedia mendatangi pelanggannya. Ia rela menempuh perjalanan panjang untuk menjajakan produknya. Ia menjaga martabatnya, dengan tidak mengemis, namun menukar uang dengan kreasi yang ia bisa lakukan sendiri. Ia tidak merendahkan diri, ia mampu menatap mata pelanggannya tanpa minta dikasihani.

Entah mengapa, kini saya merasa kecil di hadapannya.

***
IndriHapsari
Gambar : resepbunda.wordpress.com

Advertisements