Godaan Itu Banyak Kawan, Tinggal Kita Mau Apa Ngga

pinterest.com

pinterest.com

Kemarin, pendeta saya cerita saat kunjungan beliau ke Yogya. Saat sedang menunggu temannya menjemput, ada tukang ojek yang gigih banget menawarkan untuk diantar ke pijet yang simbol tambahnya lebih dari satu. Selain menyesalkan ’mungkin penampilan saya kurang mendetani’ (beliau nih masih muda dan bening) sehingga kok ada yang nekat nawarin, beliau juga menyampaikan untung temannya segera datang, ’karena kalau tidak mungkin saya akan jawab : boleh deh.’ (ampuuuun..pak pendeta, saya cuma niru apa kata panjenengan lo :P).

 

Bayangin, katanya, semuanya pas. Pas ke luar kota, pas ngga ada istri, ada uang, ada kesempatan, what else? Satu-satunya penghalang cuma sang teman yang keburu datang #eh. Bukan ding..penghalang sebenarnya adalah nurani. Perasaan bahwa it doesn’t seem good, it doesn’t feel good. Beliau bisa saja mengeluarkan ayat-ayat yang berhubungan dengan melawan godaan, namun menurut saya, bahkan untuk orang non-religion pun, mereka bisa melakukan hal yang sama pula, melawan godaan.

 

Akan halnya dunia tulis menulis, saya juga bisa kok memplagiat tulisan orang. Apalagi di dunia maya, wah, sumber yang menarik bertebaran di mana-mana. Tujuannya jelas, supaya saya bisa terkenal sebagai penulis yang fascinating, tulisannya selalu berkelas, atau sebaliknya selalu membumi, mudah dimengerti dan lain-lain. Saya pun tahu, bagaimana cara memplagiat yang baik dan benar, sekaligus mengklaim bahwa itu karya kita sendiri. Tapi saya merasa, bahwa perbuatan itu salah, maka sebaiknya tidak saya lakukan dan mengikuti etika yang diberlakukan.

 

Untuk melawan godaan, memang kita bisa melakukannya dengan dua cara. Menghilangkan faktor penarik dan pendorong. Kalau faktor penarik ya godaan itu sendiri. Menjauhi, menghindar, menghilangkan bisa jadi pilihan. Misal pak pendeta tadi, langsung melipir saja kalau ditawarin seperti itu. Atau menolaknya sudah ngga pakai cara halus lagi, tapi super halus *pura-pura nelpon sampai temannya datang*.

 

Sedangkan faktor pendorong, dengan menghilangkan kemungkinan untuk digoda. Berpikir bahwa selalu ada Tuhan yang melihat perbuatan kita. Berpikir kita sudah punya pasangan resmi yang wajib dirawat dan diruwat. Berpikir bahwa perbuatan salah akan menghantui kita kemana-mana.

 

Suami saya bilang, godaan itu juga malas datang, kalau kita menutup kemungkinan tersebut. Jadi, dicolek-colek ya jangan ketawa kesenengan. Dipuji-puji ya jangan perlihatkan hidung kita mekar. Orang juga males kan ngegodain kalau kita judes bin jutek.

Tapi semua itu butuh proses, hadapi saja, jika kita mampu melalui godaan tersebut, niscaya kita akan menatap masa depan dengan kepala tegak.

 

Advertisements