Banyak Anak Banyak Rejeki?

20130617-220436.jpg

Kenapa ya, yang semangat untuk nambah anak selalu kaum bapak. Seribu alasan (yang berbuah omelan) bisa ditujukan pada mereka. ‘Soalnya ngga ngerasain sakitnya sih!’, atau ‘Ngerawatnya itu lo!’. Seakan-akan semua urusan mulai dai melahirkan sampai membesarkan diserahkan sepenuhnya ke para ibu. Bapaknya sih nanem’saham’ doang.

Suami saya ngga dong. Dia sih mau saja diminta nyuapin, ngegendong, ngajarin, sama nemenin main. Tapi gantian jaga pas malam? A big NO, mending ngga minta dia. Meskipun dia mau, yang ada begitu kena bantal langsung tidur, trus meski ada sejuta topan badai juga ngga akan kebangun. Yang ada sayalah yang kebangun, soalnya sejak jadi ibu jadi makin sensi, terhadap suara dan sentuhan…*ehem* maksudnya kalau babynya bangun, emaknya juga bangun.

Ceritanya, saya mau beresin gudang. Segala macam perlengkapan bayi, baju, stroller, box bayi mau saya sumbangin. Sama bapaknya ngga boleh, without reason. ‘Simpen aja dulu,’ katanya kalem, yang tentu memancing kecurigaan saya.

Ah, sebenarnya apa salahnya sih punya anak banyak? Kan rumah jadi rame tuh, pulang ada hiburan, trus kalau anaknya berprestasi, bangga dong kita. Belum kalau anaknya berbakti, memenuhi semua kebutuhan orang tua, sampai ajal menjemput ya hidupnya senang-senang saja, menikmati usia senja. We-o-we banget pokoknya!

Meski saya bisa menyodorkan kenyataan yang sebaliknya, selalu ada yang berpendapat seperti itu yang saya sebutkan di atas. Apalagi kalau dikaitkan dengan biaya membesarkan anak, pasti ada yang jawabannya gini, ‘Ah, tiap anak kan ada rejekinya sendiri-sendiri.’ Ehm, yang ngasih…Tuhan? Tuhan pernah janji gitu? Kalau begitu mestinya Tuhan juga menyediakan semua serba berlimpah yah. Air, fosil, tumbuhan, hewan, tanah…Masalahnya, kok bumi ngga memuai ya. Kok sekarang mau beli rumah aja mesti tunda lagiiii tunda lagi, karena harga tanah makin meningkat. Jangankan itu, nyari lahan buat kuburan aja susah!

Jadi, ada masalah lain dengan pertambahan penduduk yang nauzubillah itu. Deret makanan kalah cepat dengan deret pertambahan penduduk. Makanya makanan kita disarankan untuk makin aneh-aneh. Serangga, tikus, tupai, ular jadi pilihan. La, daripada kelaparan?

Air, juga bermasalah. Makin banyak orang, makin banyak air disedot untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pengembaliannua ke bumi perlu waktu, dan ngga secepat penyedotan tadi. Belum masalah energi yang makin langka, misal fosil sebagai bahan dasar pembentuk bensin, solar dan avtur. Makanya minyak bumi tambah mahal, karena makin sulit mengilangnya. Banyak orang berarti perlu AC dimana-mana, toilet tersebar kalau ngga mau setiap pohon bau pesing, fasilitas transportasi perlu diperbesar atau diperbanyak.

Banyak anak itu bukan masalah satu keluarga saja, tapi satu dunia. Dengan membatasi jumlah kelahiran, diharapkan dapat memperpanjang usia bumi dan kenyamanan mereka yang sudah hidup di atasnya.

IndriHapsari

***

Advertisements