Garang di Maya, Letoy di Nyata

20130613-071606.jpg

Merasa heran saja dengan mereka yang mengkritik ini itu, tanpa memperhatikan etika kesopanan dan terkesan asal jeplak. Bisa ditebak dimana mereka melakukannya, di dunia yang orang bisa menjadi apa saja, di dunia maya.

Karena kalau di nyata, sesungguhnya tak ada yang mengindahkan mereka. Tidak punya suara, apalagi kuasa untuk membuat orang lain mendengarkan. Karena itu aktif sekali mereka berinteraksi, terutama jika terjadi konflik, itulah saatnya mereka muncul, nebeng popularitas. Atau kalau perlu, merekalah yang menciptakan konflik itu.

Popularitas berdasarkan konflik? Selain mencerminkan kemampuan intelegensia yang bersangkutan, kelihatannya nganggur banget sampai memelihara hal yang ngga berguna. Tetapi jangan khawatir, selalu ada pendatang-pendatang baru, yang melahap mentah-mentah sajian yang disodorkan, tanpa melihat ada kebusukan di dalamnya.

Sikap yang sebaiknya diambil adalah, jauhi konflik. Fokuslah pada dunia nyata, yang lebih memberikan hasil, dan tidak penuh kepalsuan seperti di maya. Dimana harus berpikiran sama supaya dianggap teman, harus ikut berperang untuk membela teman yang belum tentu benar, dan harus siapkan waktu, tenaga dan biaya untuk sesuatu yang tidak menghasilkan.

What for?

Termasuk jika harus meninggalkan daerah konflik, harus dilakukan. Karena untuk apa mempertahankan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat, malah banyak menciptakan mudharat. Buatlah kebaikan, bukan kebathilan.

IndriHapsari
***
Pinterest.com

Advertisements