Aku Ingin Jadi Pengarang

20130607-151524.jpg

PROLOG
Kadang aku berharap, dapat menjadi seorang pengarang. Mengetahui apa isi hati seseorang, tanpa perlu menebak, dan…salah. Enaknya jadi pengarang, aku bisa dengan bebas menentukan, nanti mereka jadian atau pisah, atau kubuat dulu mereka menderita dalam ketidaktahuan.
*
Bukan begini caranya. Bukan begini.

Aku menggelengkan kepala dengan gelisah. Mungkin sebagian salahku, tanpa berpikir menerima telepon setelah melihat nama ‘Benny’ muncul di layar. Ia yang berbulan-bulan tak menghubungiku, tiba-tiba menelepon hanya untuk menanyakan kabar. Hilang sudah semua usaha, untuk melupakan dia, selamanya.

‘Kau sudah jadian?’ tanyanya tadi.

Selalu. Selalu begitu harapannya. Berharap aku jadian dengan seseorang, kecuali dirinya sendiri! Begitu tak menariknyakah diriku, hingga tak pernah selintaspun ia memikirkan kelayakanku?

‘Ya belum lah Ben. Kau kira gampang cari cowok sekarang ini?’ Gampang, kalau saja si duduls itu tahu aku telah lama menunggu.

‘Ya cari-cari dimana kek. Atau siapa tahu kau akan mendapatkannya, kalau Ibu Warung ngga punya kembalian.’ katanya terkekeh.

Aku merengut. ‘Kau kan tahu Ben, ngga mungkin aku mau dapat cowok dengan cara seperti itu. ‘

‘Becandaaa….hahaha..aduh, serius bener ya sekarang. Ngapain aja sih waktu aku tinggal?’ katanya masih tak paham.

Menghitung hari, Ben. Melihat kalender, dan menandai tanggalnya satu persatu. Seperti dipenjara, Ben. Menunggu hari pembebasanku. Saat bebas kukatakan rindu. Tapi sedihnya saat tahu, penantianku ternyata tak ada artinya bagimu.

‘Eh..serius ya? Kok diam saja? Ah..eh..Oke oke..tadi aku telpon mau tanya apa yaaa.’ katanya tersadar.

‘Udah lewat,’ kataku dingin.

‘Ah..eh..ya sudah kalau begitu…masih ngambek ya? Nanti aku telepon lagi deh…’ katanya pasrah, ‘kalau inget!’ dan derai tawanya menutup pembicaraan.

Bukan begini, Ben. Sungguh bukan begini caranya memperlakukan perempuan. Beri kepastian Ben, semisal aku akan kau tinggalkan, atau akan kau pinang dengan ikatan.

*

Tiin!

Suara klakson mobil membangunkanku. Huf, tuan putri sudah kembali. Entah dimana si mbok berada. Tapi bunyi klakson yang berkali-kali cukup membuatku bangun dengan terpaksa.

Sambil terkantuk-kantuk kubuka pintu gerbang. Rupanya senja telah datang, mobil tuan putri berwarna temaram. Dimatikannya lampu ketika mobil memasuki pelataran.

Kak Riska keluar, dari sebelah kiri. Loh, kok bukan dia yang bawa? Pertanyaanku terjawab, ketika Ben keluar dari sisi pengemudi.

‘Noh, yang kangen kamu.’ kata Kak Riska padaku, sambil mengedikkan kepalanya ke Ben. Ben tertawa-tawa. Berpergian keliling nusantara, karena tugasnya sebagai jurnalis rupanya tak menghilangkan rasa humornya. ‘Ben tadi tanya, apa kabarmu.’ kata kak Riska sambil melepas sepatu.

‘Ngga berani aku Ris. Galak benar dia!’ katanya sambil mengacak-acak poniku. Aku cemberut. ‘Sampai aku lupa tadi telpon adikmu sebenarnya untuk menanyakan kau selesai praktik jam berapa. Habis, jutek banget! Keder cowok dibuatnya!’ Dan berderailah tawanya yang khas.

‘Masuk, Ben. Makan malam di sini ya.’ Kak Riska bergegas masuk. Jas putihnya tak sempat dilepasnya. Pasti Ben menyusul kakak di tempat praktiknya, dan menunggu di sana.

‘Yuk, nona manis. Mau bengong terus di sini?’ katanya sambil berlalu.

Dan akhirnya sang pangeran menyusul tuan putri ke dalam. Meninggalkan dayangnya sendirian di gerbang istana.

Bukan begini yang kumau. Bukan begini.

***
Kini, kau tahu kan kenapa aku ingin jadi pengarang? Aku ingin membuat Ben sebagai tokoh utama, dan akan kubuat dia menyatakan cinta. Tapi…meskipun aku telah menjadi yang kuinginkan, sanggupkah aku melakukannya?

20130607-151606.jpg
Pinterest.com

Advertisements