It’s Not A Home Anymore

20130517-033205.jpg

‘Mamaaaa…aku pulang!’

Hening.

‘Mamaaaaa!’

Aku membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.

Rumah ramaaai sekali. Ada banyak orang bicara sana sini. Sekelompok orang berdiskusi di pojok. Cukup serius. Ada pula yang entah ngobrol entah berantem. Pakai banting-banting kursi soalnya. Di sudut lain, ada yang hahahihi, tertawa gembira tak tahu tentang apa. Masih ada lagi yang duduk terpekur sendiri. Menunggu didatangi, atau enggan mendatangi (?).

Dimana Mama ya?

‘Mamaaaa…’ masih saja aku mencari. Ada banyak tamu seperti ini, kok Mama ngga kelihatan sih? Sebagian dari mereka adalah saudaraku, dan aku menyapa mereka. Namun yang lain, tak tahu siapa.

Ah, itu Mama! Di pojokan, dengan wajah yang tak bisa kutebak, entah senang atau susah.

‘Mama, kenapa begitu banyak orang?’

‘Mereka tertarik dengan rumah kita, Jojo. Kata mereka, rumah kita bagus. Dilihat dari luar, sangatlah menarik. Sehingga mereka datang, dan ingin tinggal disini.’

‘Owh..’ kataku bertepuk tangan. ‘Wah, aku nanti punya banyak teman ya Ma! Pasti asyik deh main sama mereka.’

‘Kau pikir begitu?’ kata Mama balik bertanya.

‘Iya dong Ma. Aku bisa belajar banyak sama mereka. Eugh…kecuali..mungkin yang suka marah-marah itu Ma..aku ngga mau! Trus yang suka ngomong kasar, ngomong bohong, aku juga ngga mauuuu.’ Ah, kenapa rasa cemas kini melandaku?

‘Tapi Mama harus menerima mereka tinggal disini Jojo..dengan mereka di sini, akan menarik lebih banyak orang datang.’

‘Mama…’ kataku mengiba ‘Apa ini yang Mama inginkan, rumah jadi ramai? Bisakah Mama mengatur mereka semua, supaya ngga ribut seperti ini?’

Mama hanya mengedikkan bahu. ‘Mama juga ngga tahu Jo. Mama hanya menerima saja. Kalau ada yang nakal karena ada yang lapor, akan Mama keluarkan. Tapi lainnya, Mama ngga bisa awasi satu-satu.’

‘Kenapa sih Ma, ngga diperiksa dulu aja waktu mereka memasuki pintu itu?’ tanyaku lagi.

‘Ngga bisa, Jo. Mama cuma sendirian ini..ngga sempat periksa satu-satu.’

Aku mengernyit. ‘Loh, Mama kan sudah rekrut Bi Ijah, Mang Asep, Bi Surti, Mbak Susi sama Pak Jono. Mereka kemana Ma?’

‘Mereka sibuk di luar, Jo. Mama kan perlu dana untuk mengecat rumah, membeli tanaman hias, dan membuat kolam ikan.’

‘Terus, gimana dong Ma ngatur orang-orang ini?’ tanyaku putus asa.

‘Ah, Mama hanya bisa bilang, mereka semua bukan anak Mama. Mereka hanya tamu. Jadi apa yang mereka bicarakan, bisa jadi ngibul belaka. Kalau ada yang marah dan merangsek ke mari, Mama persilakan saja untuk membawa paksa tamu-tamu itu. Mama juga persilakan saja kalau ada yang mencuri dengar ucapan tamu-tamu, dan kemudian mengulang ucapannya di rumah lain. Cuma ngibul kok dipikirin.’

‘Mamaaa…ngga semua gitu. Ada yang benar-benar anak Mama lo. Selalu memberikan yang terbaik dan ucapannya itu beneran, serius, dan asli. Ngga asal cuap atau meniru orang lain. Kalau ada yang begitu, Mama tuduh berbohong juga? Ngga diaku anak juga?’

‘Jojo, Mama terpaksa. Daripada ngurusin bagian dalam, Mama mending jadi pembicara seminar Bagaimana Membangun Rumah Idaman.’

‘Tapi kenyataanya ngga gitu Ma! Rumah kita bobrok! Mama ngga sadar berapa perabot yang sudah hilang! Mama ngga tahu setiap musim hujan rumah kita becek karena bocor dimana-mana! Mama ngga hitung berapa anak yang ngga pernah pulang!!’ kataku gemas.

‘Jojo! Ngga usah nasehatin Mama. Sekarang Jojo ikuti kata Mama, atau ngga usah panggil Mama lagi!’

Dengan lunglai, setengah patah hati aku menutup pintu. Berdiri di pagar. Ditolak Mama sendiri, padahal aku membawa persembahan terbaikku setiap hari.

Seseorang menanyaiku saat ia melihatku berdiri termangu. ‘Hai! Rumahmu bagus. Tapi kenapa kau tak masuk?’

Aku menggeleng. ‘Rumahku memang di sini. Tapi aku tidak tinggal di dalamnya.’

20130517-033310.jpg
***
Gambar : Pinterest.com

Advertisements