The Amazing Pomelo

20130513-203927.jpg

Serombongan turis asing dipandu pemuda lokal memasuki pasar tradisional di Bali. Mereka berjalan beriringan, sambil sesekali berhenti di lapak pedagang. Pada satu lapak, pemuda itu berhenti dan menghadap ke para turis.

‘Do you know doughnut?’ tanyanya pada mereka. Terdengar gumaman ‘of course!’ dan ‘yes!’.

‘You must be remember the size. Now, I will show you…Bali’s doughnut!’ katanya sambil menunjuk kue bolu yang bolong tengahnya. Terdengar gumaman kekaguman yang diikuti lampu blitz para peserta tour. Si ibu pedagang cuma bengong menghadapi serbuan para fans donat tersebut.

Mereka berjalan lagi, hingga akhirnya pemuda itu berhenti di salah satu lapak. Ia mengacungkan buah hijau kecil sambil bertanya, ‘What is it?’. Para turis berkerumun sambil memperhatikan buah yang ternyata jeruk nipis tersebut. Seorang peserta menebak dengan tak yakin, ‘Ehm..citron?’.

Pemuda itu mengangguk. ‘Yes, right! Do you know what is like Bali’s citron?’ Para peserta menggeleng. Dengan kedua tangan, pemuda tersebut mengangkat buah yang dimaksud. Para turis berdecak kagum. ‘Wow! Amazing!’ Berkat pemuda tersebut, para turis mengenal Bali atas benda-benda yang amazing tadi.

Kisah di atas saya ceritakan kembali berdasarkan potongan artikel di harian Kompas Minggu, beberapa waktu yang lalu. Tentu tak selebay itu, yang pasti, jeruk Bali alias Pomelo membawa harum nama bangsa. Nama latinnya saja Citrus Grandis atau Citrus Maxima, sudah terbayang kan gimana gedongnya.

20130513-204152.jpg

Kenapa saya tertarik membahasnya? Ah ya, sebelumnya sudah banyak artikel yang membahas manfaat jeruk Bali, karena kandungan vitamin C, pektin dan kaliumnya yang tinggi. Bisa dihubungkan dengan daya tahan tubuh, mempercepat penyembuhan luka, baik untuk penderita diabetes dan menurunkan kadar kolesterol. Tapi itu semua itu bisa Anda dapatkan pada artikel lain, saya akan cerita lainnya saja.

Yang saya ingat pada saat kanak-kanak, kami terbiasa dibuatkan mobil-mobilan oleh Bapak, dari kulit jeruk Bali ini. Kulitnya yang tebal dan empuk, membuatnya gampang dibentuk. Dihubungkan dengan sebatang lidi, bangga rasanya bisa menariknya kemana-mana. Dalam acara outbond di Trawas untuk mahasiswa kemarin, mereka diminta membuat kapal dari kulit jeruk Bali. Selain ngambang, kapalnya juga harus jalan. Akhirnya mereka akali dengan memanfaatkan sebagian potongan kulit dan karet gelang untuk menjadi rotor. Waktu diuji coba bisa jalan sih, meski ngga jelas arahnya karena tidak ada kemudi.

Nah waktu mereka sedang sibuk membedah kulit jeruk Bali inilah saya ditawari buahnya. Awalnya saya tolak karena sudah lama sekali saya tak memakannya karena takut masam. Tapi melihat mereka makan dengan asyik, apalagi udara Trawas ternyata panas juga kalau siang, saya coba cicipi satu potong.

Dan ngga berhenti-berhenti sampai sekarang. Tiap hari selalu tersedia jeruk Bali di dalam kulkas, karena hawa Surabaya yang aduhai panasnya ini ternyata menyebabkan jeruk Bali menjadi sparing partner yang pas untuk menghalau kepanasan. Disantap dingin-dingin, rasanya yang manis dan bulirnya yang penuh berisi air sukses menghalau haus dan lapar. Apalagi kalau dijadikan rujak..hmmm….

Lalu, apa anak-anak saya jadi main mobil-mobilan? Ngga bisa, karena kalau kita membelinya di supermarket, si jeruk Bali ini sudah setengah telanjang, kulit nya hanya tersisa bagian bawah. Bagian atasnya sendiri ditutupi dengan plastic wrap.

Jadi ngebayangin, kalau turis asing menemui si Pomelo di supermarket, masihkah ia berteriak ‘Amazing!’ ?

***

20130513-204509.jpg
Sumber gambar : pinterest.com

Advertisements