Rahasia 4 Waktu

Saat saya menghadiri acara POMG di TKnya adik, pembicara yang juga pengajar pada suatu sekolah kepribadian memberikan kami rahasia 4 waktu. Wah, tentu saja kami memasang telinga baik-baik, apa ya maksudnya?

Ternyata, isinya adalah bagaimana kita dapat mengendalikan hari, dengan mengetahui karakteristik masing – masing waktu. Karena disini pembacanya ada dua, single dan double, eh, telah berkeluarga, maka pembahasannyapun saya bagi dua.

20130228-043535.jpg

Berkeluarga

Pagi hari adalah saat yang tepat untuk menyemangati semua. Berikan senyuman yang terindah, semangat yang terkuat, dan meski ada masalah, misal anak bangun terlambat, atau ayah (belagak) lupa ngasih uang belanja, jangan sampai marah-marah dan mengacaukan semua. Tahan diri, yang penting semua orang bisa pergi beraktivitas dengan tenang. Kita sendiri juga akan jadi kacau ritmenya kalau pagi hari sudah marah-marah.

Siang, setelah makan siang, adalah saat yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Saat itu manusia sudah cenderung rileks, kitapun sudah sedikit agak reda kemarahannya, sehingga bisa membicarakan masalah dengan lebih obyektif. Lawan bicarapun cenderung tidak defensif, sehingga solusi bisa tercapai. Misal kita telepon suami yang tadi lupa memberi uang belanja tadi, ingatkan baik-baik besok jangan terulang,atau bisa-bisa sekeluarga ngga jadi makan.

Sore hari, saat senja membayang, saatnya untuk bersenang-senang. Kalau ayah pulang ke rumah, bisa dengan mengajak anak-anak bermain di luar. Ibupun dapat menyediakan secangkir kopi hangat untuk ayah. Saat itu segala kepenatan semoga bisa hilang, dan hidup menjadi lebih seimbang.

Malam hari, adalah saat bicara dari hati ke hati. Keadaan yang rileks, terkantuk-kantuk, membuat orang cenderung berkata sejujurnya, menjadi diri sendiri dan tidak ada yang ditutupi. Temani anak-anak saat mereka akan tidur, tanyai aktivitasnya di sekolah. Tanyai juga bapaknya, di kantor ngapain aja, kenapa tadi pulangnya telat, dan sebagainya.

Kalau masih single, bagaimana menyikapi 4 waktu ini?

Meskipun single ada dua, yaitu masih mengejar target dan in-relationship, mari bayangkan mereka telah mempunyai pasangan. Maka pagi hari adalah saat yang tepat untuk menyapanya, terserah dengan cara apa, agar ia bersemangat untuk memulai harinya. Bisa dengan membuat status penuh semangat dan menyebarnya melalui media sosial, atau meneleponnya, atau kalau ngga sibuk muncul di depannya, sambil ngajakin olahraga.

Siang hari, kalau bisa lunch bareng sih OK juga. Sehabis makan siang, mulai deh diskusi hal-hal yang menjadi ganjalan dalam hubungan. Misal beda kebiasaan, satu rapi satu berantakan, nah titik tengahnya gimana? Kalau tidak bisa ketemu, ya telepon atau BBMan dengan si dia, ngomongin masa depan. Itu kan yang biasa diomongin orang pacaran, mikirin masa depaaaan terus, sampai berantem ngomongin hal yang belum ada 🙂

Sore hari, paling sip ya jemput dia, lalu pergi ke suatu tempat. Misal ke cafe, nganterin dia ke toko buku, nongkrong di taman juga bisa. Rayuan bisa dilancarkan di sini. Kalau di dunia maya, kita bisa posting cerita lucu biar si dia baca, bisa mengajaknya main game online atau chatting saling bully mesra dan bercanda.

Nah, begitu malam hari, karena biasanya tinggalnya belum serumah, mulai dah chatting atau telepon, sampai target atau pacar ketiduran. Saatnya mengajukan pertanyaan ngapain seharian, pergi ke mall sama siapa, atau siapa yang membantu mengerjakan tugasnya. Karena sudah ngantuk, jadi susah mau bohongnya. Tentu saja buat acara interogasi ini jadi wawancara mesra, bukan seperti nangkap maling ayam. Oya jam tidurnya kadang beda. Ada yang masih sore sudah minum susu-cuci kaki-gosok gigi siap-siap ke pulau mimpi, ada juga yang lewat midnight masih aktif bersosialisasi. Nah, sabar-sabar aja ya jadi pacarnya..hehehe.

Mengenai keefektifannya, silakan dibuktikan sendiri-sendiri ya. Segala efek samping karena penerapan informasi ini mohon dianalisis dan dipikirkan sendiri.

*penulis lempar granat lalu sembunyi* hihihi…

Advertisements