Sekolah Kehidupan

20130205-060829.jpg

Berada di rumah duka selalu menjadi renungan. Tempat jenasah bersemayam, tempat orang-orang yang kehilangan, dan tamu-tamu yang kebanyakan tidak saya kenal berdatangan.

Tidak, tak ada tangisan meraung-raung lagi seperti biasa saya saksikan di UGD. Yang ada hanya sikap pasrah, merelakan, meski diam-diam air mata menetes perlahan. Tidak laki-laki tidak perempuan. Tatapan mata kosong dan nanar, serta wajah-wajah kelelahan akibat begadang menunggu semalaman.

Saya yakin meski semua fasilitas disediakan pengelola rumah duka, mulai untuk pengurusan jenasah hingga kepentingan keluarga yang menunggu, tetap rasa tidak nyaman itu ada. Sudah harus menata hati agar tak sedih lagi, berikutnya harus menyambut tamu yang berdatangan dan memberikan pertanyaan yang sama, lagi dan lagi. Bayangkan jika ‘bagaimana kejadiannya?’ ditanyakan berulang kali. Berarti bayangan tentang kejadian itu, yang tak mengenakkan hati, harus diputar ulang berkali-kali.

Kesehatan harus tetap dijaga, karena prosesi bukan sampai di sini saja. Masih ada upacara, kebaktian, misa, sembahyang dan perjalanan yang dilakukan. Perjalanan yang dilakukan untuk terakhir kali, meninggalkan orang-orang yang dikasihi.

Akhirnya sebagai tamu, saya selalu diingatkan atas kelas-kelas yang sudah saya hadiri selama ini. Dulu kelas pagi, dengan berbagai pelajaran hidup yang harus dilewati. Sekarang di kelas siang, dengan matahari terang di atas awan. Harus semangat menghadapi kehidupan. Saat saya memandang oma opa yang ada di sana, mereka sudah di kelas sore, dengan pelajarannya mungkin merenungi apa yang sudah mereka jalani.

Maka kematian mestinya adalah wisuda, bagi mereka yang dinyatakan lulus oleh Kepala Sekolah. Kini saatnya mereka memasuki kehidupan yang abadi.

Advertisements