Kujanjikan Aku Ada

‘Maaf ya dik, orang tuaku minta calon mantu yang seagama. Aku sudah berusaha meyakinkan mereka, tapi mereka malah menyuruhku memilih, dibuang dari keluarga, atau tetap bersama mereka. Kau tahu dik, pilihan terakhir yang kupilih, karena restu mereka sungguh sangat kubutuhkan…’

Kepalaku langsung berat. Jadi, ini akhirnya setelah 5 tahun kita bersama? Suka duka kita lewati, demi menunjukkan pada dunia keseriusan kita. Namun hal yang berlarut-larut ini memang melelahkan, hingga akhirnya Mas harus mengambil keputusan.

‘Dik, aku yakin kau akan menemukan jodoh yang seiman. Kau akan lebih bahagia bersamanya, demikian juga orang tuamu’.

Aku hanya diam. Sejujurnya, ku mau hanya kamu.

Mas, meskipun tak bisa bersama, kujanjikan aku ada. Cinta mungkin tak bisa memiliki, namun kau selalu di hati.

***

‘Maafkan Papa, Ma’ katanya terisak. ‘Mereka menjebakku! Padahal aku hanya mengantarkan uang yang diperintahkan oleh bos besar. Mereka telah menunggu! Satu isyarat, dan tertangkaplah aku!’ teriaknya.

Aku memeluknya, berusaha menenangkannya. Dia terisak di pangkuanku, agak ketakutan mungkin. Mengingat petugas tak berseragam telah menunggunya di luar. Terjawab sudah kenapa meskipun bukan pejabat, namun ada saja rejeki berlimpah bagi keluarga kami.

Aku menengadahkan wajahnya, menghapus air matanya, dan mencium bibirnya dengan lembut. Kubisikkan pelan di kupingnya ‘Serahkanlah dirimu. Aku akan menunggumu. Kujanjikan aku ada di setiap persidangan dan jadwal besukmu’.

***
Aku melihat semua. Tangisan dan kesedihan yang terpancar. Dia berusaha menyembunyikan di balik kacamata hitam, namun sikap tubuhnya memperlihatkan rasa kesedihan yang mendalam.
Segala rangkaian acara telah dilewati. Kini saatnya dia menjalani kehidupan seperti biasa, namun kali ini seorang diri. Kulewatkan malam-malam sepi melihatnya menangis dalam doa tengah malamnya. Dia, yang berusaha tegar di depan anak-anaknya, mengalami kerapuhan dan kehancuran saat sedang sendiri.

Aku ingin membelainya, tapi tak bisa. Ingin kuteriakkan ‘Aku disini!’ tapi tak mungkin. Genap empat puluh hari, dan saatnya aku kembali. Berusaha mendekatinya untuk terakhir kali, mulutku membuka tapi tak terdengar suara.

‘Meskipun berbeda dunia, kujanjikan aku ada
Aku menangis…dan terangkat tinggi.

***

20130131-195554.jpg
Sumber: pinterest.com

Advertisements

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s