Pergi Ke Rumah Hantu

13591060141117706763

Sebenarnya saya ngga mau, tapi teman-teman penasaran ingin tahu. Seperti apa sih isinya rumah hantu? Padahal saya suka ketakutan setengah mati, nonton tivi saja sudah ngga bisa tidur sampai pagi, apalagi melihat sendiri. Tapi dasar teman-teman hobi memaksa, katanya kalau ngga ikut ngga setia. Huh, akhirnya terpaksa deh masuk juga, ngga ada cowok, cewek semua.

Kami masuk berlima, dibuka oleh penjaga yang sok seram. Tidak apa, cuma berdarah saja mukanya. Yang jadi masalah, setannya ternyata suka pegang-pegang. Huh, dengan sebal saya tepiskan tangannya. Enak aja! Pacar saya aja jarang-jarang, dia kok seenaknya ambil keuntungan.

Lalu saya mulai melangkah, coba ada kereta, kan lebih enak ya. Saya bisa menundukkan kepala, tanpa perlu melihat seramnya suasana. Ada tengkorak dimana-mana, tirai hitam yang bergantungan, dan suara-suara seram bermunculan.

Padahal saya sudah waspada, ketika terdengar teriakan dimana-mana. Namun tak urung kaget juga, waktu bayangan hitam menyentuh pundak saya, dan kukunya yang panjang putih semua.

‘Hou!!’ teriaknya di telinga.

‘Huaaaaa!!!’ dengan ketakutan saya berlari darinya. Tanpa pikir panjang peluk orang yang ada di depan. Saya peluk dia dari belakang. Badannya gempal tapi cukup nyaman. Ada dua menit saya terdiam, dia juga terdiam. Sampai seorang wanita berkata ‘kok lama amat mbak, meluknya?’. Waduh, suami orang ternyata!

Saya langsung mundur minta maaf. Bapaknya sih senyum-senyum saja. Saya yang malu bukan kepalang. Untung istrinya ngga naik pitam, melihat suaminya dipeluk orang tak dikenal.

Dengan cepat saya langkahkan kaki, sudah cukup untuk hari ini. Ingin rasanya segera keluar, tapi jalannya kok ngga kelar-kelar. Kiri kanan banyak pemandangan menyeramkan, tempo-tempo ada yang pegang pinggang. Hiyaaaa….kali ini saya gapai kerudung teman. Saya tarik-tarik karena ketakutan. Teman saya berteriak dengan kesal, dandanannya jadi berantakan. Jarum untuk menata jilbabnya hilang, dan kerudungnya hampir terlepas.

Saya cepat-cepat minta maaf, bukan maksud saya mau menyakiti teman. Betulin di dalam rumah hantu juga ngga nyaman, mana enak ngebenerin sambil diliatin setan. Jadi kita harus cepat-cepat keluar.

Eh, di ujung jalan ada lagi kejutan. Kali ini ada tengkorak melayang, ingin mencium salah seorang. Kami berteriak, bukan kegirangan, tapi ketakutan. Kali ini saya menundukkan kepala, sehingga ciuman mengenai teman saya. Dengan marah-marah saya mengacungkan tangan ‘lain kali saya bawa pentungan!’

The End.
***
Sumber gambar : atmokanjeng.wordpress.com

Advertisements