Cantik Karena Cinta

Tidak sangka, artikel ini susaaah sekali menulisnya. Dimulai sejak tanggal 31 Desember, tulisan-tulisan saya yang biasanya mengalir jadi terhambat begitu kena artikel ini. Draft dibongkar terus, dari renovasi kecil-kecilan dengan menambahkan teras depan, sampai bongkar pondasi saking putus asanya.

Menghubungkan cantik dengan cinta, sebegitu sulitkah?

Judul pertama artikel ini semula adalah cantik karena dicintai. Tentu ini pendapat umum yang berlaku ya. Anda bisa lihat roman muka gadis yang sedang jatuh cinta. Senyum-senyum sendiri, mata berbinar-binar, pipi bersemu merah..dan tanggapan Anda saat melihatnya? Dia jadi cantik luar biasa bukan? Saat sudut bibir naik ke atas sedikit, pandangan mata mulai melembut..ih, saya kok gemes sendiri ya…

20130106-232856.jpg

Jadi, cantik karena dicintai itu sudah terbukti. Dan ngga hanya berlaku untuk gadis muda saja loh. Saya melihat hal yang sama, saat datang di kebaktian pagi, dimana ada opa oma dari panti jompo yang selalu berombongan datang (iya, saya memang seusia mereka…hihihi). Biarpun tubuh lemah, kulit sudah penuh keriput, tapi senyuman yang tulus, dan mata kecil yang mengintip dari balik kacamata itu…berbinar. Coba, sudah melampaui puluhan tahun di dunia, masih bisa mempunyai wajah yang menarik sebegitu rupa, apa ngga hebat namanya? Hal ini sekaligus juga menjadi bukti, hidup di panti jompo bukan akhir dari dunia. Yang menyebabkan kita melihat para lansia tidak bahagia di panti jompo, bukan karena tempatnya, tapi perasaan tidak dicintai.

Kita bisa memberikan berbagai syarat untuk menjadi cantik. Kalau kita sehat, cantik itu otomatis. Kalau kita hidup cukup, kita bisa cantik. Kalau kita mencintai dan dicintai, kita juga jadi cantik.

Apakah tidak mungkin, pasien rumah sakit, atau orang dengan penyakit gawat, terlihat cantik di mata kita, karena ia dicintai? Lihat senyuman seorang anak di ranjang rumah sakit, sambil memeluk boneka yang dihadiahkan tantenya. Cantik. Lihat mata seorang istri, berkaca – kaca dan tersenyum haru, ketika melihat suaminya mengurus segala keperluan anak – anak, ketika ia terbaring sakit. Cantik.

Kalau ngga punya uang, memang dilarang cantik? Banyak gadis- gadis yang kehidupannya ngga lihat matahari, maksudnya pergi subuh pulang maghrib karena pekerjaannya, masih punya senyum yang manis, di tengah wajah yang kelelahan. Atau saat ia janjian dengan pemuda idamannya, kecantikannya masih terasa. Jadi, sekali lagi, cantik karena cinta.

Bagaimana kalau TIDAK ADA yang mencintai kita. Coba kita bahas ya, meski saya kok ngga yakin, ada orang yang benar-benar tidak dicintai di dunia ini. Bahkan seorang penembak biadab, menewaskan sejumlah anak-anak sekolah di Amerika Serikat, masih dicintai orang tuanya. Sebelum masuk bahasan ini, coba kita cek, apakah benar kita tidak dicintai? Cinta itu universal, tidak hanya dengan kekasih atau suami. Ada cinta dari anak, cucu, tetangga, teman, saudara, kakek nenek, om tante dan sebagainya. Mau lebih jauh lagi? Rekan kerja, cleaning service, pak satpam, ..lo lo lo..kok jadi ngawur gini?

Cinta apapun wujudnya, betapapun sepelenya, bisa menjadikan hari kita luar biasa. Mendapatkan senyum dan hormat dari Pak Satpam saat kita masuk kantor, senyum dari petugas cleaning service yang ngebelain berhenti menyapu karena kita akan lewat, sapaan dari rekan kerja saat berpapasan dengan kita. Jangan salah lo, menyapa seseorang itu kadang suliiit kita lakukan, apalagi kalau sudah ada benih perpecahan sebelumnya.

Apapun posisi kita, sedang dicintai ataupun mencintai, mencintai itu wajib hukumnya. Dan lihat kecantikan yang terpancar saat kita melakukannya dengan tulus. Tatapan tulus Bunda Theresa, membuat siapapun ingin dekat padanya. Atau saat kita melihat seorang gadis menolong seorang anak yang terjatuh. Kita jadi ingin tahu siapa sih gadis itu. Atau seorang ibu yang membujuk anaknya dengan lembut karena kepanasan waktu naik kereta ekonomi, kita jadi ingin ngobrol dengan dia.

Yang paling tinggi tingkatannya, love your enemy. Waduh, tingkatan saya belum sampai disana. Misal, seorang ibu yang kehilangan anaknya, karena ditabrak oleh pelaku tabrak lari. Bisakah sang ibu memaafkan tindakan pengecut itu, bahkan saat si pelaku sedang tertawa-tawa tidak menyadari kesalahannya. Senyuman yang semula menghiasi wajahnya, bisa jadi hilang ketika ia mengetahui, ia sedang berhadapan dengan orang yang menghilangkan nyawa anaknya.

Sudahlah, saya tidak mau membahas hal-hal yang bisa mengurangi kecantikan saya dan Anda. Yang pasti, nikmati saja indahnya dunia, dan anugrah yang Tuhan telah berikan pada kita, dengan mencintai dan berusaha membuat diri kita layak dicintai^^

Sumber gambar:whycenter.com

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s