Aku sudah siap.
Kumasuki ruangan itu tanpa ragu. Dengan mahkota di kepalaku, aku selayaknya seorang ratu. Saat kumasuki ruangan itu, semua mata memandangku.
Termasuk kamu.
Dengan senyum kau mendekatiku. Membungkuk dengan hormat dan merayuku.
‘Putri cantik, bolehkah ku dansa denganmu?’
Aku mengangguk malu. Dengan lembut kau pegang tanganku, letakkan di bahumu. Satu tangan lain kau genggam erat. Tubuh kita berdekatan. Dapat kurasakan dadamu. Detak jantungmu.
Ah, sudah biasa bagimu berdansa dengan putri-putri lain. Mengapa kurasa detak ini hanya untukku?
Kita melangkah seirama musik yang dinyanyikan. Saling memandang disinari rembulan.
Tak peduli banyak mata memandang. Ingin dansa denganmu, atau heran terhadap siapa aku.
‘Kau cantik’ katamu sambil memandangku. Lekat.
‘Terima kasih’ kataku sambil balas memandangmu.
‘Siapa kamu?’ tanyamu lagi.
‘Aku..’ dan aku tersentak!
Dentang itu!
Aku harus bergegas!
Kujauhkan diriku dari dirimu. Tapi kau terlalu kuat. Tetap dilingkarkanlah lenganmu ke pinggangku. Memelukku.
‘Kenapa?’ katamu lembut.
‘Tak bisa’ jawabku sedih.
‘Ku akan selalu ada’ katamu lagi.
‘Terima kasih’ kataku hampir menangis. ‘Tapi tolong lepaskan’ kataku sambil melepaskan pelukanmu.
Aku berbalik. Berlari. Kau mengejarku.
‘Aku akan merindukanmu!’
Aku tahu.
Tapi aku tetap berlari. Pedih.
Dan di tangga itu, aku kehilangan sepatuku.
Kereta kencana telah berubah jadi labu. Kuda gagah telah berubah jadi tikus rumah. Dan gaunku telah menjadi pakaian buruk rupa.
Aku berlari. Kembali ke rumah.
Dan di sana kau terduduk. Memandang sedih kepergianku. Sambil memegang sepatu kacaku.
Putriku, harus kemana kucari kamu?
***
Inspirasi dari cerita : Cinderella

