Resensi Novel Grafis: Sepeda Merah, Bunga-bunga Hollyhock #2

20130102-125302.jpg

Setelah membaca novel grafis Sepeda Merah yang pertama, selanjutnya saya membaca Sepeda Merah seri kedua, Bunga-bunga Hollyhock. Novel ini terdiri dari 31 kisah, atau 5 bagian. 4 bagian mengenai musim, dan bagian terakhir yang agak panjang mengenai Kisah Para Ibu. Total ada 166 halaman berwarna di dalamnya.

Baru membuka halaman pertama, sudah ‘melting’ dengan pesan yang disampaikan penulis.

Pada suatu hari yang cerah, aku menerima kartu pos tak terduga.
Kartu pos itu diselipkan ke amplop bagaikan kelopak bunga,
Dari balik amplopnya yang putih aku dapat menghirup aroma angin yang mengembus dedaunan pohon poplar.
Kartu pos itu berasal sari Desa Yahwari, di kanton imha (cari).

Desa Yahwari tidak terdaftar dalam peta.

Namun penduduknya menguarkan wangi rerumputan.
Garis-garis keriput yang menghiasi wajah penduduk bahkan lebih dalam daripada bedeng di ladang-ladang mereka.
Penampilan mereka mengingatkan pada bunga-bunga liar.
Membuat kita ingin duduk bersama mereka di dekat perapian seraya berbincang-bincang hingga larut malam.
Desa ini dituangkan di atas selembar kerta yang didasarkan pada kisah-kisahnya.
Mirip kain perca yang dibuat dengan kesabaran.

Ketika telinga dipasang, kita dapat mendengar siulan si tukang pos yang menempuh perjalanannya di atas sepeda merahnya.
***

Kali ini si tukang pos banyak menjadi pihak ketiga, mendengarkan orang bicara, menyaksikan sesuatu dengan seksama, atau hanya lewat saja. Terkadang ia berkata-kata dalam hati, namun lebih banyak membiarkan para tokohnya saling berkomunikasi.

Tak ada cinta dari seorang gadis untuk tukang pos. Yang ada cinta dari para sesepuh di desa untuknya. Dan itu banyak. Ada juga cinta dari seorang anak laki-laki padanya, dengan cara memberikan roda sepeda yang sedang dipakainya untuk tukang pos, karena rodanya rusak di tengah jalan.

‘Tidak apa-apa, sekolah sudah selesai dan aku sedang menuju pulang. Tapi Anda, masih banyak surat yang harus dikirimkan’
Ouuugh….melting tenan…

Yang lainnya adalah cinta nenek ke cucunya, cinta duda ke janda, cinta para pasangan tua yang berantemnya kembali seperti anak kecil ,cinta alam, cinta lingkungan pedesaan, cinta tetangga, hubungan menantu dan mertua, cinta ibu ke anak laki-lakinya, dan cinta ayah ke anak perempuannya.

Ada tiga kisah yang mengangkat tema terakhir ini. Yaitu ayah yang menamam bunga hollyhock mulai dari gerbang desa hingga rumahnya agar kala anak perempuannya pulang, ia akan mendapat kesan sedang berjalan sambil menggenggam tangan ibunya; ayah yang menyemangati anak perempuannya yang telah bercerai dan merasa putus asa dengan perumpamaan tunas muda yang menembus kulit kayu pohon yang keras; serta ayah yang mengantar anak perempuannya pergi ke kota, sambil menyemangati supaya jangan sedih.

‘Apa aku kelihatan seperti pohon yang gemetar kedinginan sendirian di tengah padang rumput? Bagaimanapun, bukan itu permasalahannya. Akar-akar pohonku terbenam dalam sekali di tanah, dan cabang-cabangkulah yang menjalar ke kota.
Jangan lupa, bahwa cabang-cabanglah yang mengalami kedinginan, bukan akar-akarnya…’

Semuanya indah, dan mengajarkan pada kita kelas yang akan kita ikuti berikutnya. Istilah kelas dimunculkan sebagai perlambang periode kehidupan yang kita lewati. Untuk masa kanak-kanak adalah kelas pagi, dewasa di kelas siang, dan para tetua di kelas sore.

Mengenai masa tua ini, tukang pos juga menanyakannya ke seorang nenek yang sedang berkaca di Sepeda Merah yang pertama.

Untuk apa menghitung keriput-keriputnya?
*
Sudah lama waktu berlalu sejak aku menikah muda…
…Wajahku halus bagaikan selembar kertas putih…
Saat ini, semua dipenuhi keriput.
Haha…aku punya banyak garis disitu.
Terkadang aku merasa sedih, terkadang, aku merasa bangga..
Ketika kita menua, kita kehilangan ingatan
Karena itulah kita menggambar semua jejak itu di wajah-wajah kita, agar tidak melupakan apa-apa.
Garis yang kita buat sambil tertawa terlihat di dekat mata…
Garis sulit yang kita buat sambil menggigit gigi, terlihat di samping mulut..
Keriput yang panjang untuk jalan yang panjang, keriput yang pendek untuk jalan yang pendek.
*
…aku ingin tahu keriput apa yang kudapat.
*
Tidak akan lucu jika kita telah mengetahuinya terlebih dulu.
Kau akan menggambarnya satu persatu…

***

Saya –>berasa tua hari ini….

2 comments

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s