Hujan Membelah Malam

20121217-183240.jpg

Membelah gelapnya malam. Tetesan air ganas menghujam kaca. Wiper bergerak dengan putus asa. Lampu kabut kunyalakan. Katanya ini kota, tapi gelap gulita. Di kiri sungai kecil, di kanan pepohonan. Jalan harus pelan-pelan. Meski tak ada satu pun kendaraan, ku tak mau terjadi kecelakaan.

Sepi. Sendiri. Jadi ingat kamu. Di sana hujan ngga? Deras ngga? Gelap gulita ngga? Pasti di sana lebih parah deh. Kamu sih, milih tempat kerja kok jauh sekali.

Ah, kenapa aku peduli. Kamu aja mungkin tak peduli aku. Coba, kalau aku telepon sekarang, lalu aku bilang, aku rindu, kamu bakal nanggapin ngga? Bilang hal yang sama ngga? Kangen juga ngga?

Bodoh. Jangan nangis.

Terlambat. Aliran hangat sudah sampai di pipi. Tergesa ku mengusapnya. Bisa tambah ngga jelas lihat jalannya. Ini saja satu meter ke depan masih tak dapat kuterka, jalannya lurus atau belok saja.

Kalau ada kamu kan, aku ada yang menemani. Kamu yang aku ajarin nyetir, terus dengan pedenya bawa mobil. Mobil yang papa beliin buat aku kuliah. Awalnya kamu masih agak kaku sih, hampir nabrak sana nabrak sini. Tapi udah gitu, eh, kamu lebih jago dari aku. Parkir paralel, lewat jalan sempit, termasuk menggertak pengamen yang nekat minta duit ngga mau pergi, kamu bisa semua. Makanya kalau ada kamu, kamu aja yang nyetirin aku.

‘Bobo aja’ kamu selalu bilang gitu kalau sudah mengambil alih mobilku. ‘Kasian, capek ya kuliah?’ katamu penuh perhatian. Ih, padahal lebih capek kamu kan baru pulang kerja seharian. Tapi disetirin kamu, enak bener deh, aku sampai ketiduran. Sesekali aku ngerasa, kamu membelai rambutku saat ku tertidur. Hihihi, tidur kok masih ngerasa ya…pssst…jangan bilang-bilang kalau aku sengaja!

Tapi sebenarnya, yang paling asyik itu waktu kamu belum belajar mobil, masih jadi senior yang usil. Seneng banget nongkrong di jurusanku, bawa motor laki-laki, terus nungguin aku pulang. Mobil kutinggal aja di parkiran, trus aku dibonceng. Kesempatan bisa meluk kamu dari belakang.

Kalau hujan begini, kamu akan meminggirkan motor di tempat yang teduh, dan cepat-cepat mengeluarkan jas hujan. ‘Maaf ya, hujan’. Aku nyengir aja. Emang salahmu, kalau hujan turun? Ih, kamu baiiiiik deh. Dan karena jas hujannya cuma satu, kamu akan membagi bagian terbesar untukku, biar aku ngga kuyup. Kepalaku tertutup jas hujan itu, dan badanku menempel di punggungmu. Erat. Melindungiku dari air dan angin yang jahat. Dan kamu akan mengendarai motormu dengan hati-hati. Takut aku terciprat. Takut motor tak bisa dikendalikan. Takut aku kuyup kehujanan.

Heh! Jangan nangis lagi!

Aku mengerjap-ngerjapkan mata yang mulai berkabut. Kenapa sih kamu mesti terima kerjaan itu? Main terima saja, ngga konsultasi dulu. Emang gampang, pacaran jauhan? Ah, kamu selalu yakin sama dirimu sendiri! Ngga peduli aku!

Hujan reda. Lampu kota mulai terlihat satu dua.

I’m coming home. Without you.
.
IndriHapsari

Advertisements