Pantai Papuma: Pantai Interlokal dengan Fasilitas Lokal

Kadang suka ketipu ya sama foto wisata yang aduhai indahnya, pas nyampe sana nggeletek ealaaa…gini aje? Nah di antara yang terindikasi ‘gini aje’ itu terselip Pantai Papuma di Jember, atau Pasir Putih Malino. Dari foto bagus banget kaya (foto) di Maldives, begitu nyampe…ternyata beneran bagusnya 😀

image

Lewat jalan pintas

Kalau dari Jember se-jam-an deh dengan kondisi jalanan mulus dan lancar ya. Pakai Google Map dipilihin jalan tercepat dan terdekat, menurut hitungan satelit. Kenyataannya sih kita disasarin ke jalan desa, yang kalau dua mobil papasan dua-duanya mesti ngalah turun ke bahu jalan. Untunglah jalanan ini meski kecil masih termasuk mulus dengan diseling jalan bebatuan. Masih mending dibanding jalan gede di Ajung yang aduhai lubangnya, gara-gara dilewati truk dan pemeliharaan yang entah deh gimana. Padahal jalanan ini melewati stadion baru nan megah (keliatan loh dari jauh #bangga) dan ke Bandara Notohadinegoro. Oya, ke bandara ini juga mesti melewati jalanan-kecil-ngga-cukup-untuk-dua-mobil tadi. Untunglah (iye..saya orang Jawa, ujungnya untung terus :D) yang dilewati persawahan, perkebunan tembakau, tebu, jagung dan perbukitan. Lumayan lah mengusir kecemasan karena serasa in-the-middle-of-nowhere 😛

image

Rindangnya pepohonan

Kalau Google Map menyarankan untuk memasuki pantai ini via Watu Ulo, boleh ngikutin boleh ngga. Karena faktanya masuk komplek Watu Ulo, kita (1 mobil, 2 dewasa dan 4 anak) mesti bayar 40 ribu. Habis itu masuk ke Pantai Papuma bayar lagi 95 ribu. Tapi jalannya bagus dan emang lebih dekat. Kalau mau ngga masuk Watu Ulo, belok kanan aja sebelum belokan di ujung. Selamat menikmati jalanan-kecil-ngga-cukup-untuk-dua-mobil, ditambah kondisi jalan yang rusak parah. Pemandangan sih bagus, selain yang mainstream tadi, ada juga pohon jati mas dan sengon.

image

Pilih yang mana?

Pantai Watu Ulo sendiri sekarang jadi sepi ya sejak Pantai Papuma dibuka aksesnya. Habis di Watu Ulo ombaknya gede banget, karena berhadapan langsung dengan Laut Selatan. Dulu ada mitos apa ya, ngga boleh pake baju ijo atau merah gitu, biar ngga diajak ‘berenang’ sama Ratu Pantai Selatan. Jadi emang ada beberapa kejadian pengunjung yang terseret ombak. Lagian pantainya penuh bebatuan, susah mau melangkah dan licin pula.

image

Tiket Papuma

Kalau Pantai Papuma ini, kita mesti melewati bukit dulu. Bukitnya juga berfungsi sebagai hutan lindung, dengan banyak monyet bertengger di pohonnya. Dari atas ada spot yang keren buat foto, karena keliatan lautnya yang biru kehijauan, deretan perahu nelayan yang berwarna-warni, batu besar-besar, dan cakrawala yang biru jernih. Ini sih beneran, pemandangan seindah fotonya.

image

Dari atas bukit

Turun dikit, masuk ke pelataran parkir pantai yang agak berantakan karena banyak dedaunan berjatuhan. Tadinya mau nongkrong di situ, dekat klenteng. Tapi trus diperingatkan banyak monyet berkeliaran, dan mereka suka ngambil makanan orang yang piknik. Jadilah kita rada ke selatan, tempat mobil bisa parkir di depan warung ikan bakar.

image

Pantai Papuma

Pantainya baguuus banget. Coba pantai ini ada di Bali, pasti kalah deh Dreamland, Pandawa dan Kuta #sesumbar. Kenapa yang saya sebut pantai-pantai itu, karena pasirnya sama-sama putih. Cuma yang di Papuma ini bersiiih banget ombak dan pasirnya. Jangankan sampah, rumput laut dan kerang juga ngga ada. Ombaknya lebih besar daripada di Dreamland, tapi masih bisa buat berenang buat yang handal. Kalau kesini sih bukan buat berjemur, karena pantainya ngga terlalu lebar dan panjang. Area didominasi dengan perahu nelayan, ada pula yang bebatuan, tempat orang mancing. Mataharinyapun ngga se-nyentrong kaya di Bali. Mungkin karena pinggirnya hutan lindung ya, jadi lebih adem.

image

Bakar ikan

Setelah berbasah-basah di pantai, saatnya makan dan minum. Minumnya es degan yang segar, makannya ikan bakar. Pilih aja mau ikan apa, ikannya rapi disimpan di plastik, es dan kotak styrofoam. Jangan khawatir stok lama, karena ketauan dari dagingnya, baunya dan matanya. Kami pilih ikan sotong dan kakap merah, per kilonya 70 ribu. Trus pilih deh mau digoreng atau dibakar. Dibakarnyapun pakai batok kelapa.

image

Mari makan 🙂

Kelebihan lain dari pantai ini, air bersihnya gampang dan bersih. Kebayang dulu pas di Pandawa, mau bersih-bersih mesti antri, bayar, toiletnyapun bau pesing. Petugasnya sibuk ngangkutin air yang mesti dia beli berjerigen-jerigen. Nah di Papuma entah dari mana ya dapatnya, tapi kamar mandi ada banyak, termasuk warung ikan ini. Kami nebeng ke kamar mandi dan toiletnya yang penuh berisi air bersih, mengalir deras, dan…gratis.

Ngga sampai sejam, ibu dan bapak yang menyiapkan makanan kami telah menaruh sebakul nasi, piring dan baskom air, lalapan terong bayam timun, sambal tomat dan sambal kecap, serta dua ikan yang kami pesan. Wih enak banget lo! Nasi putihnya diangkat dari dandang, ikan kakapnya digoreng kering dengan daging tebal-tebal, ikan sotong dibelah dua, dibakar dengan saus kecap. Ikan segar tuh terasa dari dagingnya yang kenyal, ngga amis dan rasanya gurih. Kelas warung aja kaya gini 😀 Tanya-tanya ke ibu penjual, katanya dia buka sampai jam 9 malam. Ckckck, mengingat minimnya penerangan, saya sangsikan deburan ombak bakal keliatan oleh para muda mudi yang getol mendatangi tempat ini. Berarti mereka mau lihat apa ya…:D

Sayang banget wahana wisata yang dikelola oleh Perum Perhutani ini terkesan masih seadanya. Pantainya kelas dunia, tapi fasilitasnya masih malu-malu untuk popular. Iya sih kalau melihat dari komersialisasi pantai-pantai di Bali, seiring pula dengan peningkatan profesionalisme. Tapi bisa ngga sih, kita konsumen mendapat tempat wisata yang terjangkau tapi profesional? Cottage perlu dibuat lebih menarik, penerangan memadai (saya pernah nyampe Papuma jam 6 sore, tentu, sudah ngga kelihatan apa-apa :D), tempat pikinik dibuat lebih nyaman. Akses jalan, kayanya mesti Pemkab Jember yang betulkan, juga untuk jalan-jalan lainnya. Saya yakin, APBD 3,4 trilyun itu pasti ada gunanya 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements