Negosiasi

“Aku paling benci ditinggal,” kataku sambil merengut.

Ia menatapku pasrah.

“Terus gimana dong Jeng? Sudah resiko pekerjaan.”

“Emang ngga bisa ya…kamu ganti pekerjaan kek…apa gitu…” kataku merajuk.

“Kan sudah cita-citaku Jeng. Dari kecil impianku ya menjadi seperti sekarang, karena itu sejak lulus SMP Bapak sudah berusaha mengarahkanku, mendukungku, supaya aku bisa lolos tes masuk akademi. Dengan semua latihan yang aku sudah jalani, kan ngga lucu kalau aku tiba-tiba mengundurkan diri. Selain kena sanksi, apa kata keluargaku nanti?”

“Jadi, kau lebih sayang pekerjaanmu, daripada aku?” Aku menjauhinya. Bersidekap dan memandangnya sebal.

“Ajeng…bukan begitu…” katanya berusaha sabar. “Aku sayang kamu Jeng. Maunya kamu yang dampingi hidupku nanti…”

“Tapi aku ngga mau ditinggal-tinggal Prasss…” aku merajuk. Tapi tak bisa dipungkiri kini makin melembut, karena Pras biarpun badannya tinggi tegap tetap sabar menghadapiku, seperti kakak membujuk adiknya.

“Aku janji, sebisa mungkin, aku akan bawa kau dan anak-anak kita nanti, berada pada daerah yang sama saat aku ditugaskan. Tapi dengan perkecualian ya Jeng, kalau daerah itu masih dalam konflik, kau akan lebih aman di Jakarta. Aku akan sempatkan pulang, sesuai ijin Komandan.”

“Pras…” Kini ganti aku yang menatapnya pasrah. Oh Tuhan, dari semua laki-laki yang punya pekerjaan anteng di belakang meja, kenapa justru pria berseragam hijau ini yang berhasil merebut perhatianku? Pria yang bisa berkelana di daerah-daerah yang aku baru kenal namanya dari dia, itupun karena ada konflik bersenjata. Di jaman ini! Di jaman yang katanya sudah aman dan Indonesia jadi negara kesatuan…

“Kamu kan gampang cari wanita lain Pras…” kini tenggorokanku makin tercekat. Hmm…sebenarnya ini tentang apa sih? Takut punya suami yang pergi ke medan perang karena khawatir tidak selamat, atau tidak pulang karena kecantol yang lewat?

Pras terbahak. “Ngapain pilih yang lain, kalau ada yang setia menunggu,” katanya sambil senyum-senyum.

“Genit ih!” Aku merengut, namun sudut bibirku mulai naik.

“Laki-laki tuh ngga segampang itu Jeng, lihat cewek cantik trus langsung pindah ke lain hati. Kalau sudah bicara hati, ya ngga bisa dibahas dengan logika….”

“Maksudnya, meski aku kurang cantik tapi kamu masih mau, gitu?” sambarku ketus. Oh tapi sungguh, aku hanya ingin melihat ia gelagapan…

“Ah..ya ngga gitu Jeng…” ia tertawa mengalihkan jengahnya. Ujung kupingnya memerah, tak tertutupi rambut cepaknya. “Jadi…mau ya Jeng…aku akan ngomong ke Bapak Ibu…nanti pakai pedang pora, seperti acaranya Mas Iwan.”

Aku mengangguk pelan, membayangkan prosesi pernikahan kakak angkatannya yang berlangsung bulan lalu.

“Bulan madu…terserah kamu mau dimana,” katanya sambil tersenyum. Kini gantian aku yang salah tingkah.

“Mmm…setelah itu…ada beberapa tes yang harus kulalui. Aku…sudah mendaftar untuk menjadi pasukan keamanan PBB…” Ia menunduk.

Aku memandangnya tak percaya. Kebahagiaan dan kesedihan, selalu datang bergantian.

Namun dengan Pras aku tak tahu saat ini aku berada dimana…

salon

***

IndriHapsari

Advertisements