Wisata Madiun: Telaga Sarangan

Kalau ke Madiun, terus terang pikiran saya adalah mengunjungi Telaga Sarangan. Padahal Sarangan sendiri masuknya ke Kabupaten Magetan, ya tetangganya Madiun itu. Madiun sendiri punya beberapa obyek wisata alam dan water park yang tidak saya jadwalkan untuk dikunjungi.

Masalah awal adalah tentang mau menginap dimana. Paling ok ya menginap di samping telaga. Bayangin, dingin-dingin gitu, sarapan sambil memandang danau, pasti OK. Sayang pas liat di Agoda, dari semua hotel yang ditawarkan, semua sepertinya hotel lama dan tanpa jaringan. Fotonyapun kurang menarik. Kalau baca dari blog, paling OK mestinya sewa villa. Tapi itu baru worth to try kalau banyakan, la ini cuma berempat, ngga lucu juga kalau satu rumah dengan tamu lain.

image

Akhirnya kami memutuskan nginep Madiun aja, perjalanan cuma sejam lebih ke Sarangan. Madiun sendiri kotanya besar dan ramai, mungkin kota terbesar ketiga setelah Surabaya dan Malang. Chain hotel ada beberapa, mall dan jaringan restoran fastfood juga ada. Ngga susah nyari resto yang buka dan kotanya hidup. Demikian juga dengan oleh-oleh, apalagi kalau bukan brem Madiun yang terkenal itu. Baru tau ada rasa strawberry dan coklat. Oya satu lagi, disini pecel jadi makanan segala medan, eh waktu. Dari pagi sampai malam depot-depot pecel pada buka, demikian juga breakfast di hotel, bisa ditebak, pasti ada pecelnya. Dan semuanya enak 🙂

Mengenai wisata, gara-gara Google Map seneng sekali blusukan, kami jadi menyusuri sungai Bengawan Solo yang buesar itu melewati rong road barat Madiun. Rencananya mau ngintip kereta api di PT. INKA, sayangnya ngga bisa 😀 Selama menuju Sarangan, kami juga melewati Taman Ria Dirgantara di Maospati dan Taman Ria Manunggal di Magetan. Buat yang mau menikmati hiburan ala pasar malam kayanya OK nih. Melewati kompleks AU dan Lanud Iswahyudi jadi kagum dengan fasilitas yang Indonesia punyai.

Telaga Sarangan sendiri mudah dicapai dengan petunjuk arah yang cukup. Justru pakai Google Map malah disuruh lewat jalan kecil yang ngga meyakinkan aman untuk mobil. Menuju Sarangan kami melewati dulu Telaga Wahyu dengan jajaran perkebunan yang rapi. Lalu jalanan mulai menanjak, dikelilingi jejeran villa dan hotel. Trus mulai masuk komplek, ada retribusi 30 ribu utk 1 mobil dan 4 orang. Masuk komplek ini langsung isinya lapak pedagang semua, telaganya ngga kelihatan. Waduh, perasaan puluhan tahun yang lalu telaganya sudah kelihatan dari jauh, dengan beberapa hotel dan villa di sampingnya. Ada jalan antara hotel dan telaga tersebut. Sekarang, semua mepet.

image

Tapi untunglah meski penuh begitu, kayanya sudah diatur dengan baik oleh pengelolanya. Pedagang biasa aja, ngga saling berebut. Pun yang nawarin kuda, kapal dan jajanan, semua biasa aja. Cobalah naik speedboad 60 ribu rupiah per putaran, begitu juga dengan naik kuda. Strawberry lokal yang gede dan lumayan manis 10 ribu, kacang rebus 5 ribu, foto langsung jadi 10 ribu, toilet umum 3 ribu dengan airnya yang dingjn. Lapar, bisa nyoba sate kelinci dan bakso yang banyak disana.

Telaganya sendiri besar dan bersih, ada sisi lain yang bisa dikunjungi. Kalau foto-foto juga bagus nih, mau di tengah atau di pinggir danau. Tapi kok ngga liat ada yang nekat mandi di danau ya…

image

Kalau mau lanjut ke Cemorosewu, Tawangmangu dan bablas Solo, ikuti saja jalan yang kecil dan menanjak, dengan pemandangan indah kaki Gunung Lawu. Duluuu..seingat saya jalur ini kecil, penuh dengan pepohonan dan gelap. Soalnya kabut cepat turun, mengakibatkan jarak pandang terbatas meski udah pake fog lamp. Sekarang, mungkin juga karena masih siang, yang terlihat adalah pemandangan indah lembah, karena kabutnya ngga mampir, pepohonan ngga terlalu banyak, dan mungkin juga karena global warming ya. Sayang di sepanjang jalan banyak lapak pedagang yang menutupi pemandangan indah tersebut. Jalanan yang semula naik dan berliku, jadi turun dan berliku saat masuk ke Karanganyar. Sip banget buat yang suka gunung.

***
IndriHapsari

Advertisements