Hitam Putih Kehidupan

Saya terbiasa melihat dunia ini hitam – putih – hitam – putih…begituuu terus sampai kiamat.

Ternyata saya salah. Dunia ini abu-abu.

image

Pura-pura Putih

Apalagi namanya, kalau hitam bercampur dengan putih? Apalagi namanya, kalau putih yang bersih, ternyata kelam di belakangnya?

Orang berlomba-lomba untuk memutihkan bagian depannya, bagian ia terlihat di dunia. Siapa sih yang tak menginginkan dikagumi karena kebersihannya, kecemerlangannya, kemilaunya? Dan kemilau ini yang memang menarik perhatian, mengundang orang datang, dan…menyilaukan.

Dalam ilmu pencahayaan, dikatakan bahwa kilau terjadi karena mata kita terlalu dekat dengan sumber cahaya. Sumber cahaya terletak tepat di pandangan kita. Maka jika tidak ingin silau, jauhkan, tinggikan. Karena silau itu menimbulkan distorsi, kita tidak tahu kemana harus menuju.

Silau juga terjadi karena ada hal yang kontras. Seperti nyala lampu di tempat yang gelap. Mungkin saatnya untuk mengecat sekitar dengan warna yang lebih cerah, sehingga nyala lampu tidak menyilaukan. Berarti, ada usaha perbaikan dari dalam.

Saya tidak tahu bagaimana orang bisa mencintai kegelapan. Kita berasal dari negara yang mengharuskan kita beragama, orang tua kita bukan atheis, seminggu sekali ada pelajarannya, baik agama, moral etika, berbelas tahun kita melewatinya. Kita berada di tengah masyarakat yang agamis, yang urusan tindakan semua dihubungkan dengan dosa dan pahala, surga dan neraka.

Kalaupun kelemahan kitalah sebagai manusia yang kita salahkan sehingga kita jatuh dalam kegelapan, kenapa ngga bangkit? Kenapa terus menerus berkubang dalam kegelapan?

Dari video yang diunggah oleh Kemensos soal Narkolema atau Narkoba Lewat Mata alias kecanduan pornografi, otak bagian depan kita, yang hanya dipunyai manusia, akan memicu dopamin, zat pembuat senang. Pemicunya bisa macam-macam, namun yang berlebihan akan membuat otak selalu mengingatnya, merangsang untuk melakukannya lagi dan lagi, lebih dan lebih, sehingga makin gelaplah hidup kita, makin terperosoklah kita dalam dosa. Mau keluar sudah susah, sehingga menyurutkan semangat untuk bangkit.

Tapi kembali lagi, jika hidup kita sedemikian gelapnya, sedemikian putus asanya, kita masih punya Tuhan. Tuhan itu bukan pajangan, bukan hanya tujuan. Tapi Tuhan bisa menyelamatkan. Bahkan untuk yang atheispun. Karena apa? Tuhan itu harapan, di luar logika kita, di luar keterbatasan pemikiran manusia, bahwa yang hitam ngga akan jadi putih.

Lagian, kalau dipikir lagi, kalau kita bisa memulas yang kelihatan menjadi putih, kenapa ngga bisa juga memoles yang belakang kembali putih? Usahanya sama, tantangannya sama, lalu dimana susahnya?

Kecuali kalau yah…memang keinginan sendiri untuk membuat dunia lebih abu-abu. Ngga mikir anak cucu. Ngga mikir suatu saat kita tinggallah abu…

image

Puisi Empat Kwatrin utk Alm. Pepeng dr SDD (artikel Budiman Hakim)

 *
IndriHapsari

Advertisements