Sepatu

image

‘Cemberut aja Me? Kenapa?’ tanya Pak Henry di depan. Hm, sebenarnya Henry saja cukup, karena usia toh ngga jauh dari kami, bawahannya. Namun karena dia supervisor kami, panggilan Pak melekat di dirinya.

‘Panas, Pak,’ kataku mengalihkan pandangan ke luar. Pantai Pandawa hari itu memang tepat dapat menggosongkan kulit seseorang dalam waktu cepat. Sia-sia perawatan kulitku. Sebagai seorang SPG minuman berenergi aku harus menjaga benar penampilanku.

‘Jadwal hari ini begitu, Me,’ kata Pak Henry menyabarkan. Ia masih harus berjuang keluar dari antrian mobil-mobil yang memasuki area parkir. ‘Siang di Pandawa, sunset di Jimbaran.’

‘Pak Henry!’ panggil Sonya centil. ‘Foto di depan Arjuna dong Pak, siapa tahu saya jadi dapat jodoh seperti Arjuna!’

Semua penumpang berteriak ‘Huu…!’ kecuali aku dan Pak Henry. Ia hanya tertawa. ‘Yaaa boleh. Nanti turun duluan saja ya di depan patungnya, saya cari parkir.’

‘Asyiiik!’ ujar Sonya sambil membuka kaca kecilnya. Berhadapan dengan para pelanggan saja harus awet cantiknya, apalagi ini foto yang akan disebarkan ke dunia.

Pak Henry tepat menurunkan kami di depan patung Arjuna yang menjulang. Sudah banyak yang antri untuk berfoto di depannya. Kebanyakan wanita. Jadi favorit rupanya.

‘Eh Me, lo juga turun! Ini teman-teman di belakang ngga bisa turun kalau kursi tengah masih ada elonya!’ kata Sonya judes. Entah kenapa, sejak aku bergabung dengan mereka di tim ini, Sonya paling sengit jika menghadapiku. Mungkin karena aku anak baru.

Dengan malas aku ikut turun dan melipat kursi tengah. Setelah semua turun, aku berniat naik mobil lagi.

‘Eeeh! Mau kemana lo? Berduaan sama Pak Henry?!’ bentak Sonya keras. Wajahku terasa memanas. Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, Pak Henry menengahi kami. ‘Me, ikut mereka saja. Bantu ambil fotonya,’ katanya menyarankan.

Aku diam saja, namun segera kututup pintu mobil. Pak Henry segera mencari tempat parkir.

‘Me, elo foto gue duluan ya! Abis itu sama teman-teman!’ perintah Sonya. Dengan terpaksa aku menerima ponsel layar lebar yang diberikan Sonya padaku. Sementara aku memotretnya dengan setengah hati, dalam berbagai posisi, keempat temanku sibuk mencari tempat yang teduh. Wajar saja. Pakaian ketat kami cukup mencolok, belum lagi bagian lengan dan betis yang tidak terlindungi. Percuma rasanya, karena yang ada cuma tebing, sulit mencari pepohonan yang bisa menutupi.

Cukup lama rasanya pemotretan edisi khusus Sonya ini berakhir, sebelum akhirnya ia mengajak kami semua berfoto bersama. Yah, tentu saja, tanpa aku. Malas-malasan teman-temanku mengambil posisi, beberapa menawarkan bertukar tempat agar aku bisa ikut difoto. Aku menolaknya, karena bukan Sonya yang menawarkan. Mungkin ia tak mau wajahku muncul di ponselnya.

Pak Henry menyebrang jalan mendatangi kami. ‘Sudah selesai fotonya? Ayo kita ke bawah, pengunjungnya sudah banyak. Kita bisa menawarkan minuman pada mereka.’

Kami bergegas mengikuti Pak Henry. Saat di jalan beraspal mudah saja kami mengejarnya. Namun begitu turun mulai terasa, tangga ini begitu menyiksa. Anak tangganya kecil, curam, dan penuh dengan pasir. Namun akhirnya sampai juga kami ke tantangan berikutnya, pasir. Bayangkan, menyusuri dataran yang tertutupi pasir pantai, dengan menggunakan high heel! Cara jalan kami harus melayang, menapak sedikit di bagian depan dan cepat-cepat diangkat, agar tak sempat masuk terlalu dalam. Tentu saja jalan kami menjadi lambat.

Ngga bisa begini, batinku dalam hati. Aku mengangkat kaki kiriku, dan melepas sepatuku. Demikian juga dengan sepatu kanan. Lalu dengan menahan panas aku berjingkat mendahului teman-teman.

‘Lo goblok apa tolol?’ seru Sonya dari belakang, melihatku dengan cepat mengejar ketinggalan. Ia bergidik melihatku bertelanjang kaki.

Pak Henry tersenyum memandangku. ‘Biar cepat ya?’ katanya menyejajarkan langkahku. Ia sih mudah saja melangkah dengan pantofelnya. Aku mengangguk. Kami kini menjadi yang terdepan.

Boks minuman dingin sudah diletakkan Pak Henry di dekat tempat duduk pengunjung. Nampaknya para pengunjung juga lebih suka menikmati pemandangan pantai di bawah payung besar yang dipasang oleh pemilik warung, atau bersembunyi di bawah topi lebar dan kacamata hitam mereka. Hanya anak-anak dan turis asing yang cuek berpanas-panas menyongsong ombak.

Pak Henry membagi area kami agar semua pengunjung terlayani. Karena tugas kami adalah membagikan sampel, pemilik warung mengijinkan kami untuk melakukannya karena tidak mengganggu omzet mereka. Aku bergegas menuju area yang ditunjukkan Pak Henry.

Pengunjung umumnya menerima saja sampel yang kami ajukan. Hanya sedikit yang memintaku mengambilkan barang dagangan yang ada di Pak Henry. Biarlah, yang penting banyak pengunjung mencicipi produk kami.

Terdengar tawa sekelompok.laki-laki dari samping. Aku melirik apa yang terjadi. Sonya sedang berusaha merayu sekelompok pengunjung, semua lelaki muda yang nampaknya jadi berani karena berada dalam ganknya. Jenis pengunjung yang kuhindari karena sulit mengendalikan mereka, plus biasanya lebih banyak omong daripada belinya. Bisa habis usahaku di sana.

Aku kembali menawarkan sampel minuman yang kubawa, ketika kudengar teriakan Sonya. Kali ini kulihat tangannya sudah dipegang salah satu pemuda, dengan disoraki teman-temannya. Mereka tertawa-tawa melihat Sonya meronta hendak melepaskan diri.

Tanpa pikir panjang aku berlari ke arahnya. Sepatu sialan ini lagi-lagi menancap dalam di pasir, membuatku hampir terjerembab. Kuambil satu, dan teriakan Sonya  terdengar lagi. Ia harus cepat ditolong!

Saat itu barang yang kugenggam hanya sepatu. Dengan spontan aku melemparkan ke arah pemuda yang menggoda Sonya. Tepat kena di kepala. Mereka terdiam. Pemuda itu melepaskan cengkeramannya. Kesempatan yang tidak disia-siakan Sonya. Ia berlari, terjatuh karena sepatu yang dipakainya, namun bergegas bangkit dan meninggalkan sepatunya tertimbun di dalam pasir. Ia menuju ke arahku.

Namun mereka tak melepaskannya. Beberapa pemuda itu berlari mengejar Sonya. Aku berdiri menanti Sonya datang. Ia menggenggam lenganku, yang kini mengacung-acungkan sepatu. Tinggal satu, siap kujadikan senjata jika mereka mendekat.

Ketika mereka hampir mencapai kami, kudengar suara berlari. Pak Henry dengan berpeluh keringat berdiri di depan kami, siap melindungi kalau ada apa-apa. Wajahnya memerah, rupanya ia menahan marah.

‘Serahkan ia pada kami!’ bentak pemuda yang memaksa Sonya tadi pada Pak Henry. Ia menudingku.

‘Wah maaf Mas. Tapi ia hanya berusaha membela temannya. Masnya tadi menggoda staf kami ya?’ kata Pak Henry keras.

‘La mbaknya yang mendatangi kami kok! Dia yang menggoda, masa dipegang sedikit saja tidak mau??’ katanya kasar.

‘Bukan begitu caranya Mas. Meski kami ini tugasnya memang menawarkan dagangan, bukan berarti Masnya bebas memperlakukan kami.’ Tangan Pak Henry mulai terkepal.

‘Ah, banyak omong lo!’ Pemuda-pemuda itu maju hendak menyerbu. Aku segera melempar sepatuku. Tindakan yang aku sesali. Karena kini aku tak punya senjata lagi.

‘Priiiit!!’ terdengar suara peluit melengking tinggi. Para lelaki berkacamata hitam, menggunakan udeng dan sarung khas Bali datang. Para pecalang menahan para pemuda yang beringas tersebut. Aku hanya sempat mendengar beberapa kata yang diucapkan mereka. Intinya jangan ganggu orang yang sedang mencari makan, atau mereka akan bertindak lebih tegas. Akhirnya dengan pengawasan para pecalang, gerombolan pemuda itu pergi meninggalkan pantai.

‘Untunglah,’ kata Pak Henry ketika semua telah beres. ‘Sepertinya kita tak bisa lanjutkan lagi di sini. Kita pindah ke Jimbaran saja,’ ajaknya. ‘Meta dan Sonya tunggu disini ya, saya kumpulkan yang lain, lalu saya bawa mobil ke sini, biar ngga usah panas-panas jalan di pasir.’ Ia tersenyum sambil melihat kami berdua. Aku tertunduk menyaksikan kakiku yang tanpa sepatu.

Keheningan yang aneh. Aku dan Sonya saling diam sambil menunggu mobil datang. Mungkin tidak betah, Sonya lebih memilih menjauh dariku. Ia baru datang lagi ketika aku hendak membuka pintu mobil yang akhirnya datang.

‘Nih,’ katanya sambil menyodorkan sepasang sepatu. ‘Eh? Punyaku?’ kataku heran.

‘Ya iyalah Me. Masa punya gue?’ kali ini ia mengucapkannya sambil tersenyum. ‘Gue cari di tempat mereka nahan gue tadi,’ katanya malu. Aku melirik kakinya. Rupanya iapun telah menemukan sepatunya.

Dan meski tidak mengungkit lagi kejadian tadi, ia kini jadi lebih ramah padaku. Ia menggodaku, menanyai dan bercakap-cakap heboh denganku, beda dengan Sonya yang dulu.

Kami turun satu demi satu di depan kafe yang sudah menjadi langganan di sepanjang pantai Jimbaran. Begitu masuk ke area tempat makan, kami berdecak kagum dengan suasana sunset yang mulai terasa.

‘Pak Henry!’ teriak Sonya centil. ‘Kita boleh foto-foto dulu ya pak sebelum kerja? Bagus banget nih Pak!’ Kali ini permintaan Sonya disambut gembira teman yang lain. Kalau disini semua rebutan deh.

Pak Henry tertawa. ‘Ok, tapi jangan lama-lama ya!’ Tanpa menunggu lama Sonya dan teman-teman bergegas turun mencari posisi yang indah untuk menjadi latar di foto.

‘Ngga ikut?’ tanya Pak Henry padaku.

‘Ah ngga Pak, dari dulu saya memang ngga suka foto-foto,’ jawabku.

Hening sesaat, lalu…’Makasih ya,’ katanya pelan.

‘Loh, buat apa Pak?’ tanyaku heran.

‘Sudah membela temanmu. Meski ia pernah berlaku buruk padamu, tapi tetap kamu bela,’ katanya sambil memandangku.

Aku mengalihkan pandangan ke arah horison. Aduh dilihat seperti ini oleh Pak Henry benar-benar membuat salah tingkah…

‘Ah iya, ngga apa Pak. Saya yakin teman-teman akan melakukan hal yang sama kalau saya yang tertimpa masalah,’ kataku sambil mencoba tertawa.

‘Aku pasti menolongmu,’ gumamnya.

Aku terdiam. ‘Eh…apa Pak?’ kataku pura-pura tidak dengar. Semoga ngga salah…

‘Aku…mau ganti sepatumu..eh..maksudnya..sepatu kita…kecuali..aku tentu saja…’ katanya tergagap.

Kali ini aku menatapnya, karena benar-benar tidak mengerti dengan perkataannya. ‘Mau…ganti…sepatu?’ tanyaku lambat-lambat.

‘Iya,’ katanya sambil tertawa. ‘Sepertinya kalau di daerah pantai susah ya keliling pakai high heels. Akan aku usulkan sepatu yang lebih santai, yang flat, atau sneakers juga boleh.’

Ooo…masih bahas sepatu rupanya. Aku bergerak menjauhinya. Pembicaraan ini jadi tidak menarik lagi. ‘Saya jalan dulu, Pak.’

‘Emm…Me,’ katanya dari belakang, ‘panggil saja Henry.’

Aku sejenak mematung. Namun kemudian melangkah, kini dengan lebih bersemangat.

***
IndriHapsari

Advertisements