Bahkan Teknologi Canggihpun Perlu Manusia

Dalam materi produksi yang saya ajarkan, di antara kerumitan penggunaaan mesin maupun sistem otomasi yang akan dijalankan, terselip pesan bahwa manusialah yang utama. Manusia boleh hanya tinggal segelintir di lantai produksi, namun merekalah yang memegang kunci. Mereka yang mempersiapkan mesin dan sistem tersebut agar berjalan baik, mereka yang menjalankan, mengawasi, plus memperbaiki jika ada kerusakan. Kalau ditarik ke belakang, merekalah yang mencipatakan mesin-mesin tersebut, dan kembali lagi deh ke kemampuan manusia untuk membuat sesuatu yang lebih baik daripada sebelumnya.

image

Gadget yang jamak kita gunakan, mau tidak mau memang mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Kalau dulu harus ke tokonya untuk tanya ini itu, sekarang tinggal buka internet. Kalau dulu harus menyimpan rindu, sekarang malah semua orang tahu šŸ™‚ Kalau dulu harus mencatat, sekarang tinggal foto atau rekam, beres.

Namun untuk semua toh tetap butuh manusia, untuk menjamin semua bisa berjalan dengan baik.

Misal saja masalah pelapisan anti gores layar gadget. Jangan coba-coba pasang sendiri kalau ngga ahli. Gadget yang terkemas rapi itu layarnya sensitif, dan mahal pastinya kalau sampai kegores. Akibatnya, harus dilapis plastik, dan untuk itu kita perlu mendatangi penjualnya karena ia yang akan memasangkan. Saya pernah membeli online, karena kelihatannya mudah dan ‘gitu aja’. Ternyata sampai pembelian kedua (karena untuk yang pertama saya masih nyalahin screen guardnya) tetap saja gagal. Maka sentuha  mbaknya yang lembut, mengangkat lembaran plastiknya dengan hati-hati, mengeluarkan gelembung udara satu persatu, dan menyeka lapisannya agar mulus, diperlukan untuk produk canggih ini.

Atau perlu dipasang sim cardnya, biar internetan lancar? Masalahnya sim cardnya kegedean, sehingga harus dipotong micro ataupun nano. Mau potong sendiri, kalau ngga pas repot juga. Akhirnya harus kembali ke toko, minta dipotongkan dengan alat. Proses memasukkanpun tidak sederhana, karena ada saja yang ngga bisa mendeteksi. Pengalaman saya, mbaknya sampai memotong 3 kali karena ‘no sim’ terus tulisannya. Terakhir berhasil, ketika saya menggunakan sim card mbaknya. Biarin deh jelek, nomornya random, yang penting bisa dipakai.

Kalau tidak ada para mbak itu, bisa dipastikan gadget canggih tidak berfungsi maksimal dan mengalami penurunan nilai. Belum lagi merekalah tempat bertanya jika ada masalah, sekaligus memberi saran terkait produk untuk kenyamanan pelanggan. Hal ini menbuktikan bahwa gadget canggihpun perlu manusia supaya lebih optimal.

***
IndriHapsari

Advertisements