Suatu Hari Di Melbourne

IMG_3930.JPG

Kami memasuki tram dengan tergesa.

Suamiku yang semula ragu, mengikuti di belakang, menyusul aku dan anak-anak.

‘Bayarnya gimana?’ tanyanya sambil berbisik, setelah kami mendapatkan bangku kosong. Ia khawatir pembicaraannya didengar penumpang yang telah duduk di dalam. Itupun kalau mereka mengerti bahasa Indonesia, karena semua penumpangnya bule.

‘Gampang!’ kataku sambil berbisik juga. Ah, kekonyolan yang menular…’Ingat tidak waktu kita naik tram di Sydney? Nanti ada petugas tiket datang, membawa mesin tiket yang dibawa-bawa itu loh!’ kataku meyakinkan. Dua hari lalu kami menaiki tram dari Sydney Fish Market, menuju Paddy’s Market. Suasana stasiun lengang, tak ada satu loket tiketpun. Ternyata begitu masuk, seorang petugas berseragam biru, bermuka lelah, menghampiri kami dan menanyakan mau kemana. Setelah kami sebutkan tujuannya, ia memandang kami, dua orang dewasa dan dua orang anak, lalu mengetikkan sesuatu ke mesin tiketnya. Keluarlah tiket yang berupa struk kertas tersebut, dan kami membayar sesuai nilai yang diucapkannya.

Baru saja meletakkan koper kami di hotel, aku mengajak suami dan anak-anak untuk berjalan-jalan. Rugi jika tidak memanfaatkan setiap momen di kota dengan tingkat kenyamanan tertinggi di dunia ini. Berjalan yang dekat-dekat saja, dan betapa kagumnya kami terdapat banyak rel tram membelah jalan. Mobil hanya sedikit yang bersliweran, karena untuk angkutan dalam kota penduduk Melbourne banyak menggunakan tram. Tram seperti gerbong kereta kecil, dengan seorang pengemudi di depan. Berhenti di setiap halte, dan penumpang dengan tertib mengantri dan menaikinya. Sama sekali tak terlihat petugas penjual tiket di setiap halte, hanya jadwal dan rute tram menghiasi dinding halte.

Suamiku memandang ke luar, melihat pemandangan kota yang berlaluan di hadapan. Anak-anak sibuk mengamati para penumpang. Begitu banyak orang bule! Begitu mungkin pikir mereka. Selama ini mereka hanya bertemu orang bule di tempat les Bahasa Inggrisnya, orang-orang dari negara yang jauh dan bersedia mengajar di Indonesia.

Aku sendiri memandang pintu dengan cemas. Mesin pemeriksa tiket!

Karena pengemudi berada di dalam kabin di ujung gerbong, setiap penumpang yang naik atau turun menyentuhkan kartu kuning yang dibawanya ke mesin tersebut. Sejenak tombol merah berganti hijau, dan terdengar bunyi ‘bip!’. Dan hal itu sudah beberapa kali terjadi, karena tram selalu berhenti di setiap halte yang dilewati.

‘Ada kartunya!’ kataku sambil berbisik.

Suamiku cemberut. ‘Kubilang juga apa…’ gerutunya. ‘Ini sekarang gimana kalau diperiksa, kita bisa didenda!’ katanya cemas. Aku diam saja. Terus terang akupun cemas, cuma kan tidak asyik jika kami saling berbagi kecemasan, di depan anak-anak dan penumpang lain. Bisa cepat ketahuan!

‘Ya berdoa saja biar ngga diperiksa,’ kataku berusaha menyabarkan. Ia diam saja. Mukanya masih kesal. Anak-anak tak tahu kecemasan orang tuanya, mereka sibuk memperhatikan keadaan sekitar.

‘Kamu tahu sekarang kita menuju kemana?’ tanyanya lagi.

Terus terang aku tidak tahu. Tadi begitu tram itu akan berhenti di halte dekat kami berdiri, aku segera mengajak mereka naik. ‘Gampang!’ kataku waktu itu. ‘Nanti tram ini akan kembali lagi ke sini!’

‘Belum tahu sih…’ kataku ragu. ‘Tapi aku bisa lihat di iPad.’ Aku ingat pernah menyimpan rute tram di Melbourne dari internet. Masalahnya, rute tram ternyata ada banyak, dan aku tak tahu kami menaiki yang mana! Karena di setiap halte tram akan memberitahukan nama haltenya, kupasang telingaku baik-baik mendengar nama yang disebutkannya. Lalu mataku dengan cepat menelusuri gambar peta, karena belum lagi ketemu, tram sudah menyebutkan halte berikutnya.

Tak ketemu!

Sesudah lima kali mencocokkan, nama halte yang dimaksud tidak ada! Sebenarnya mungkin ada, tapi kupingku terlalu sombong dan mataku terlalu lelah untuk mendapatkannya. Ditambah lagi kepalaku mendadak pusing, karena memaksakan diri membaca di dalam kendaraan. Belum lagi aku jadi tak bisa menikmati pemandangan sepanjang jalan yang kami lewati.

Maka aku memutuskan menutup iPadku, dan memilih melihat-lihat keluar. Menghalau kecemasan yang ada, dan bertekad untuk memikirkannya nanti saja, saat benar-benar kejadian kami diturunkan dari tram.

Jalannya makin melebar, dengan bangunan-bangunan yang tua. Makin jarang terlihat orang laku lalang, dan penumpang makin sedikit. Rasanya kami sudah hampir sampai di ujung rute. Aku berpikir mungkin ambil taksi saja dan pulang ke tempat semula, meski memikirkan juga mengenai uangnya. Kabarnya taksi di Australia mahal argonya, bisa-bisa uang dollar yang kami bawa sekarang habis untuk bayar taksi saja. Kalau itu terjadi, aku bersedia untuk menukar jatahku belanja agar tidak mengganggu pos lainnya.

Benar saja, tram berhenti, mesinnya mati, dan semua penumpang turun. Khawatir jika tetap tinggal di dalam nanti kami dikira penumpang gelap, dan memang begitulah kenyataannya, maka kami ikut turun. Sudah jam 7 malam, meskipun suasananya seperti jam 5 sore di Indonesia. Langit masih terang, dan udaranya masih saja sejuk. Masalahnya aku pernah membaca, tram di Melbourne tidak jalan sampai malam, mereka hanya beroperasi sampai jam 7 malam! Ah, jadi juga kami kesasar di negeri orang?

Kami turun dan berjalan menuju ke depan. ‘Sekarang gimana?’ kata suamiku, masih saja cemberut.

Aku diam. Lalu terlintas ide di benakku. Agak nekat sih, tapi apa lagi yang bisa kulakukan?

Kuketuk pintu kaca pengemudi. Seorang laki-laki dengan rambut yang memutih, melipat pintunya dengan menekan sebuah tombol, dan mempersilakanku naik.

‘Sorry Sir, does your tram stop in this place?’ tanyaku dengan cemas.

Ia menggeleng. ‘No. I’ll be back on the same route.’

Aku tersenyum. Setidaknya satu masalah sudah terpecahkan. Kami akan kembali! Yeay!

‘Sir, I’m so sorry I haven’t bought the ticket. Because this is our first time, and I don’t know where to buy the ticket. How about if I pay it to you, for all of us?’ kataku sambil menunjuk suami dan anak-anakku yang menunggu di depan pintu.

Ia menggeleng, dan menyuruh kami menaiki tramnya. Aku menurut saja, turun dari kabinnya, dan mengajak anak-anak dan suami menaiki kembali tram tersebut. Tramnya kosong, hanya kami penumpangnya. Pengemudi tadi keluar dari kabinnya lewat pintu penghubung, dan berjalan menyusuri tram, memeriksa keamanan dan kebersihan. Tidak banyak yang dilakukannya, karena semua penumpang tertib tidak makan dan minum selama dalam perjalanan, apalagi usil mempermainkan alat keselamatan.

Begitu mencapai bangku kami, ia memberitahu dimana bisa membeli tiket. Di convenience store, katanya. Kami dapat membelinya di toko manapun. Lalu ia menuju kabinnya yang berada di ujung yang berbeda. Tram mulai berjalan.

Aku sangat menikmati perjalanan pulang. Pertama karena akhirnya tahu dimana kami berada, kedua karena kebaikan hati pengemudi, membiarkan 8 tiket hilang percuma karena penumpang gelapnya. Sungguh berbuat kebaikan, misalnya menyumbang, sebenarnya tak perlu menunggu kaya. Sumbangkanlah semampunya, betapapun kecil dan remeh nilainya, karena kita tak tahu seberapa berartinya itu bagi orang lain.

Ketika kami mulai melewati daerah yang kami kenal, kami segera turun di seberang halte kami naik tadi. Aku menyempatkan diri ke ujung, melambaikan tangan ke pengemudinya, menyampaikan bahwa kami baik-baik saja dan sudah sampai dengan selamat. Ia membalas lambaianku.

Pada akhir hari yang makin gelap itu, kami memasuki 4 toko yang kami temui, menanyakan tiket tram yang dimaksud. Keempatnya menyatakan stok habis. Maka kami berencana besok menyusuri jalan yang bisa dicapai kaki kami saja.

Namun ternyata hal itu tak perlu dilakukan. Masih ingat kan Melbourne adalah kota ternyaman di dunia? Ternyata ada jalur tram gratis, yang menuju tempat-tempat wisata yang disukai anak-anak. Wah, kebetulan deh!

***
IndriHapsari

Advertisements