4 Perilaku Kampungan

Saya percaya, perilaku kampungan ini tidak melekat pada daerah dimana orang tersebut berada. Misal, ada saja orang kota besar, metropolis katanya, yang punya perilaku kampungan. Sementara ada orang dari desa, atau kota kecil nun jauh di sana, yang punya sikap yang elegan, ndak kampungan.

Buktinya, ada saja kasus gini yang saya temui pas di kota besar, ataupun saat mudik kemarin. Duh, semoga saja ini cum satu kasus saja, ngga berhak digeneralisir ke yang lain. Apa saja sih perilaku yang bikin saya mengelus dada sendiri ini?

1. Naik sepeda motor cara kampung
Pertama, ngga pakai helm. Jadi kepalanya diasumsikan lebih keras dari aspal jalan. Ya iya sih, pergi cuma seencrit dua encrit. Tapi namanya pakai kendaraan bermotor, kita hati-hati tapi orang lain ngga hati-hati, maka potensi kecelakaan jadi besar.

Yang kedua, naik motor lebih dari dua orang. Kenapa sih harus dua orang? Ya karena pengujian aman tidaknya untuk dua orang. Kalau lebih ngga ada jaminan bisa aman. Memang ada orang tua yang maksa bawa anak-anak ke jalanan, alasannya karena praktis dan hemat uang. Kalau anak-anak masih kecil, dan dekat saja, misal setengah jam, ok lah satu di taruh di tengah. Tapi ya cuma itu saja, jangan ditambah lagi. Karena begitu ada yang di depan, operasional pengemudinya jadi terganggu.

Kurangnya sarana transportasi yang memadai, membuat mereka menempuh resiko, menukar hidup mereka dan keluarganya, demi ngirit, demi selalu bisa bersama. Sebenarnya kalau bawaan banyak gitu, berangkat perlu perencanaan. Biar dapat tiket kereta api kelas ekonomi, biar tahu bis mana yang aman dan bisa dibooking duluan. Pulang tiap tahun kalau keadaan lagi susah mending ngga perlu dilakukan. Lebih baik uangnya ditabung untuk pulang di tahun depan, dengan angkutan yang aman dan lebih berkualitas. Atau pulangnya gantian. Ah, selalu ada jalan kok kalau kita memperhatikan keselamatan keluarga.

Belum lagi ada yang hobi menghibur anak dengan membiarkannya berdiri di tengah. Adududuh, itu mah bahaya. Kalau sampai pengemudi mengerem mendadak, anak bisa terlempar. Bahkan saya menyarankan, kalau anak ditaruh di tengah, dia mesti diikat ke salah satu tubuh orang tuanya, biar ngga gampang terpental. Apalagi kalau sudah taruh di tengah, pasti ngga pakai helm karena ngeganjel. Bahayanya jadi dobel. Kalau bawa bayi, lilitkan jarik ke sekeliling tubuhnya, alasannya sama, biar ngga gampang terlempar.

Yang bikin geleng-geleng lagi kalau ada anak yang disuruh jongkok di bawah, antara pengemudi dan setang sepeda. Atau membawa dua, atau tiga anak. Yang lihat saja sampai deg-degan, itu bagian pantat yang duduk paling belakang sudah ngawang. Belum ngomongin soal bawaan, sampai ditambah kiri kanan dan belakang, yang tentu jadi meningkatkan resiko ngga imbang.

Ketiga, mainan HP. Wedeh…sudah jalannya pelan, mata menatap layar, apa yang mau diharapkan dari pengemudi macam begini? Kalau kecelakaan sendiri sih mungkin dia bisa sadar, tapi kalau sampai nabrak orang yang ngga bersalah, yang jalan kaki apa naik sepeda…aduh mama sayangeee…betapa dosa akan menghantui hidupnya. Padahal untuk urusan sepele, yang mestinya bisa ditunda.

Keempat, pengemudinya anak-anak yang belum cukup umur. Wis, ngga tahu apa hasil didikan orang tuanya, sampai melepas anak-anak ke jalanan, dengan membawa mesin pembunuh. SIM, pasti belum punya, wong masih piyik begitu. Belok aja masih perlu ancer-ancer yang super lebar. Naik motor masih goyang atau zigzag. Kaki masih jinjit nyampe ke pedal. Tapi nyetir sudah ugal-ugalan, plus ngebut pula. Kalau diklakson, bukannya minggir malah merasa ditantang. Malah tambah ngebut. Dan ngga usah alasan mereka lagi bantu orang tuanya kirim barang lah atau apa, karena kebanyakan pasti ngegonceng temannya, satu, dua atau tiga orang.

2. Naik mobil cara kampung
Beda dengan motor yang gampang banget ditemui, mobil agak jarang dipakai karena harganya yang mahal, dan DPnya ngga bisa ratusan ribu. Tapi ternyata beli mobil mahal-mahal bisa juga bersifat kampungan di jalan. Berjalan lambat tapi di kanan. Mau disalip ngga ngasih jalan. Atau membiarkan pengemudi di belakang tebak-tebak buah manggis, ini dia mau melakukan apa ya, karena si pengemudi membiarkan lampu rem atau signnya tidak menyala.

Misal aja soal HPan, ini mah sama aja. Bedanya, di mobil ngga usah jaga keseimbangan. Satu tangan aja bisa untuk mengetik sms. Tapi jangan lupa, itu mata jadi ngga fokus. Sudah waktunya jalan malah sibuk ngetik. Mestinya belok malah lupa ngasih sign. Apalagi yang sambil nelpon di jalan. Sudah jalan di tengah, diklaksonpun tak sadar!

Ada juga yang sayang anak, namun jadi kebablasan. Si anak ditaruh di depan setir, sementara pengemudinya di belakangnya. Itu kalau ngerem mendadak, si anak bisa kebentur setir. Belum lagi sopir gampang keilangan konsentrasi. Ngga usah jauh-jauh, mobil saya pernah ditabrak di traffic light, karena si pengemudinya lagi sibuk ngajarin nyetir anak batitanya.

Kalau parkir, ngga usah menyulitkan orang lain dong, apalagi sampai menghalangi dan ngga mau tahu orang jadi kesusahan ngeluarin mobilnya, atau bahkan membuka pintunya. Trus jangan suka iseng bikin graffiti di mobil orang yang lagi diparkir, apalagi kalau pakai benda tajam.

3. Menikmati fasilitas cara kampung
Ini nih yang paling bikin saya ngga demen. Pemerintah itu ngga cuma jeleknya aja yang dilakukan, tapi ada juga hal-hal baik yang mereka berika untuk warganya. Misal tempat sampah, yang semoga ngga bikin warganya alergi untuk buang sampah pada tempatnya.

Playground yang disediakan oleh pemerintah kota, namanya aja play ya, jadi untuk anak-anak dong, bukan untuk mereka yang berjiwa anak-anak, atau merindukan masa kanak-kanak. Saat menemani anak saya bermain, serombongan pemuda tanggung berpenampilan lusuh ikutan menguasai beberapa alat permainan di sana. Mereka main ayunan, yang sungguh ngga imut karena mereka melakukannya sambil merokok blas blus blas blus. Yang lain berdiri doang sambil mainan HP. Lalu memutar mainan putaran dengan cepat, sampai saya khawatir rusak terkait kecepatan yang tidak biasa dan bobot mereka. Untung ngga ikut main seluncuran, kalau nyangkut di terowongannya siapa yang mau nolongin? Paling malah disyukurin.

Toilet umum juga parah deh. Meski masih lebih baik daripada di China, tapi sanitasi kita jauh tertinggal oleh negara-negara maju, bahkan tetangga. Apa susahnya sih ngga jongkok di wc duduk? Atau menyiram bersih bekas pakainya? Atau membuang tisu, popok dan pembalut pada tempat sampah yang tersedia?

4. Berperilaku kampung
Sudah saya singgung sih, ngerokok ngga tau tempatnya. Kalau ada anak-anak masih saja ngebul. Di ruangan tertutup ngga malu-malu bagi asap racunnya. Dikira semua orang mau dan pasrah nerima bagi-bagi asapnya. Lalu kalau dibilangin pura-pura ngga ngerti bahasa Indonesia. Ada emang yang kalau dibilangin nurut, say sorry dan langsung matiin rokok. Tapi ada yang nyengir aja sambil terus ngebul. Ada yang menyingkir dan terus ngebul. Ada yang buang muka dan terus ngebul. Bahkan ada yang nampar penegurnya! Gila yah, urat malunya udah putus kali.

Buang sampah sembarangan, atau lebih tepatnya, meninggalkan sampah sembarangan. Lihat aja di tempat umum atau wisata, serasa berada di tempat sampah terbesar di dunia. Bebas buang di mana aja, orang lain susah bukan urusannya.

Ngga mau ngantri. Seriously, ini jadi momok bener dah kalau di sini. Mau ditinggal ya kok sayang, tapi pengelola kadang ngga sadar sih, dia hidup di negara yang punya 250 juta penduduk. Maka harusnya bikin sistem antri yang bikin semua merasakan keadilan. Pada dasarnya orang mau aja kok menunggu lama, asal jelas. Kemudian balik lagi ke karakter pengantrinya. Ada yang berpikir mungkin dengan kedekatannya, kekuasaannya, kekayaannya, dia bisa didahulukan. Ada juga yang aslinya mau ngantri, tapi melihat yang lain ngga mau antri, dia jadi ikut-ikutan. Kalau sudah begini, orang baik yang taat peraturan, jadi serasa orang bego di tengah kesemrawutan.

Sampai saya jadi mikir, kampungan atau tidak itu tergantung dari perilaku warganya kok, tapi peduli atau tidak terhadap orang lain.

***
IndriHapsari

Advertisements