Abal-abal Produk Cina

Misal Anda mendarat di Bandara Guangzhou pada suatu malam. Ada sopir taksi yang bersedia mengantarkan Anda ke hotel dengan biaya $20. Tetapi di tengah jalan yang sepi, sopir taksi menghentikan mobilnya dan meminta tambahan $10 jika Anda ingin tetap diantarkan hingga sampai di hotel. Manakah yang Anda pilih :

A. Membayar biaya tambahan

B. Keluar dari mobil dan mencari kendaraan lain

C. Mengatakan pada sopir Anda setuju dengan persyaratannya, namun ketika sampai tujuan, Anda mengecamnya karena tidak beretika dan hanya membayar $20

Pertanyaan tersebut muncul pada bab ke 22 yang merupakan bab terakhir dari buku Abal-abal Produk Cina (judul asli Poorly Made In Cina) yang ditulis oleh Paul Midler. Midler yang warga negara Amerika Serikat mengambil studi sarjana mengenai sejarah dan sastra Cina, sedangkan studi pasca sarjananya mengenai administrasi bisnis. Latar belakangnya tersebut menyebabkan dirinya dapat berhubungan dengan pemilik pabrik di Cina, yang kebanyakan tidak bisa berbahasa Inggris, dengan importir yang berasal dari Amerika. Buku ini menarik untuk dibaca karena berdasarkan pengalaman nyata Midler, dan mudah membayangkan sulitnya situasi yang Midler alami.

Midler dipercaya oleh importir Amerika untuk mencari pemasok barang yang mereka butuhkan, dimana Cina merupakan pasar yang menarik karena harga yang ditawarkan sangat murah. Mungkin ketertarikan para importir Amerika sama dengan rasa penasaran yang saya alami, apa yang menyebabkan produk Cina bisa begitu murahnya hingga merajai pasar dunia.

Bagian-bagian awal diceritakan tentang Paul yang untuk pertama kali ditugaskan untuk meninjau pabrik yang akan menjadi calon pemasok perusahaan toiletries di Amerika. Para importir tersebut memang berlomba-lomba untuk mendapatkan pemasok terbaik di Cina (dengan harga terbaik pula) namun mereka masih enggan untuk datang langsung ataupun berlama-lama di negara tersebut. Oleh karena itu orang seperti Midler dianggap sebagai penyelamat, yang dapat menjembatani keinginan perusahaan dengan kemampuan pabrik. Setelah mereka tahu dengan jelas keadaannya, barulah mereka datang untuk melakukan pemeriksaan dan bernegosiasi..

Pemilik pabrik di bab pertama sangat serius sangat menunjukkan proses produksinya saat Midler berkunjung untuk pemeriksaan pertamanya. Kebersihan, kecepatan produksi dan keramahtamahan membuat Midler merasa harus menyampaikan kesan positif tersebut kepada rekanannya di Amerika. Pabrik terlihat sangat sibuk dengan jumlah pegawai yang cukup banyak, cukup untuk memenuhi pesanan yang akan diberikan.

Namun saat Midler ditinggalkan sendirian di ruang tunggu, timbullah keinginannya untuk berjalan-jalan sejenak, tanpa diketahui oleh pemilik pabrik. Alangkah kagetnya ia mendapati pabrik yang semula tampak sibuk, ternyata hanya berupa ruangan kosong dengan seorang pekerja sedang menyapu ruangan tersebut. Ketika hal ini diketahui pemilik pabrik, dengan tergopoh-gopoh mereka meminta Midler kembali ke ruang tamu dan mengatakan para pekerja sedang istirahat-meskipun jam istirahat sebenarnya telah lewat.

Kabar tersebut ternyata tidak menyurutkan rekannya di Amerika untuk memulai negosiasi. Hal itu malah dianggap ’berarti mereka ingin sekali bekerjasama dengan kita, sampai mereka menciptakan drama tersebut’. Negosiasi pun akhirnya berjalan dengan lancar, dan perusahaan Amerika tersebut merasa puas dengan harga yang ditawarkan, meskipun tetap ada pertanyaan ’bagaimana mereka bisa memberikan harga dengan begitu murahnya?’. Tenaga kerja memang murah, tapi  bukankah di negara berkembang, termasuk Indonesia juga sama?

Pertanyaan tersebut terjawab di bab-bab berikutnya. Di Cina sedikit sekali terdapat penemuan-penemuan yang dihasilkan. Keahlian yang mereka miliki adalah ’meniru’, sehingga yang mereka butuhkan hanyalah contoh produk, yang dengan cepat bisa mereka tiru, ditambah dengan penyesuaian di sana-sini supaya harganya bisa lebih murah. Karena itu mereka senang sekali bila mendapat pelanggan dari Amerika atau Eropa, karena disanalah banyak penemuan berasal. Untuk mendapatkan pelanggan tersebut, mereka tidak mempermasalahkan jika mendapat laba nol, namun terjadi transfer pengetahuan dan teknologi. Untuk negara-negara penghasil penemuan tersebut mereka menjual produk asli dengan harga murah, sedangkan untuk negara berkembang mereka menjual produk tiruan dengan harga dua kali lipat. Dari sanalah meereka mendapatkan keuntungan yang besar. Cina sendiri tidak memiliki perlindungan terhadap hasil karya, seandainya ada tuntutanpun mereka dapat berkelit bahwa yang mereka lakukan tidak salah. Masalah peniruan ini bahkan terjadi antar perusahaan di Cina sendiri. Para pemilik pabrik memiliki mata-mata di perusahaan pesaing, sehingga mereka dengan cepat bisa mengetahui apa yang sedang diproduksi oleh perusahaan pesaing tersebut.

Hal lain yang membuat harga dapat sedemikian murah adalah masalah kualitas. Sulit sekali untuk menjamin kualitas yang dihasilkan akan sama dengan kualitas yang dijanjikan. Kontrak dapat dilanggar, karena importir dari Amerika kesulitan untuk mencari pabrik baru, sehingga harus tetap bertahan dengan pabrik lama. Hal ini dikarena kebanyakan pabrik saling mengenal dan mendukung, sehingga mereka akan saling memberi informasi. Kemudian mencari pabrik baru dan proses negosiasi paling cepat membutuhkan waktu 6 bulan, padahal barang harus sudah dikirim dalam waktu 2 sampai 3 minggu mendatang.

Sebelum kontrak ditandatangani, produk memang telah diuji oleh pihak ketiga. Namun pastilah yang dikirim adalah produk yang benar-benar bagus, dan untuk produksi berikutnya tidak dilakukan pengujian. Selain itu pabrik – pabrik di Cina juga telah mengenal lab penguji yang ’tidak begitu tinggi standarnya’. ISO yang didapatkan hanya didapatkan dari kunjungan sehari dua hari, tidak dilakukan pemeriksaan detail pada produk, namun hanya melihat prosedurnya. Yang paling banyak terjadi dalam pengalaman Midler menangani banyak pabrik di Cina adalah penggantian bahan baku, kemasan dan label yang tidak sesuai denan persetujuan awal. Itupun mereka lakukan tanpa proses diskusi dengan pelanggan. Permasalahan mulai muncul saat produk tersebut sampai di tangan konsumen akhir, yang mengeluhkan sabun cair mereka berubah menjadi jelly pada musim dingin, di label tertera gambar ceri namun aromanya adalah kenari, atau tutup botol yang sulit untuk ditutup. Contoh lainnya adalah susu bermelamin maupun mainan dengan kandungan cat timah yang berbahaya bagi kesehatan. Pertanyaannya, mengapa pihak importir ataupun pihak ritel tidak melakukan pengujian independen begitu barang sampai? Pengujian tersebut menelan biaya yang tidak sedikit, dan tidak ada satu pihakpun yang mau mengeluarkan biaya tersebut. Selain itu jika dilakukan pengiriman kembali produk cacat tersebut ke Cina, kerugian hanya menjadi tanggungan pihak importir karena pabrik bersikeras ’saat di pabrik tidak ada masalah seperti itu’. Kalaupun pihak importir memaksa mereka untuk menjaga kualitas, maka itu dianggap sebagai ’masalah baru’ yang menyebabkan timbulnya ’kenaikan biaya’, sehingga pihak importirlah yang lagi-lagi harus menanggung kenaikan harga.

Di luar kelemahannya, pabrik di Cina tentu memiliki kelebihan, yang membuat para pelanggan dari seluruh dunia tertarik untuk menjalin kerjasama dengan mereka. Selain harga murah, para pemilik pabrik sangat terbuka dan ramah terhadap orang asing. Midler yang iseng-iseng datang ke suatu pabrik karena taksi yang dia tumpangi melewatinya, disambut langsung oleh pemilik pabrik, yang bersikeras mengajaknya berjalan-jalan keliling pabrik, dan tak lupa memaksa Midler untuk membawa contoh produknya. Mereka juga bersedia berinvestasi sesuai dengan keinginan pelanggan, agar menarik pelanggan lainnya. Secara rutin di Guangzhou diadakan pekan raya Kanton, yaitu pameran semua kategori utama pabrik ekspor selama beberapa minggu, yang mendatangkan pengujung dari luar negeri. Mereka datang karena daripada harus terbang ke seluruh penjuru Cina untuk mencari calon pemasok, lebih baik mendatangi pmaeran tersebut dan bertemu dengan banyak pemasok. Namun pengunjung harus berhati-hati, karena kadang bukan pabrik yang berpromosi, melainkan agen (seperti makelar) yang tentu saja menaikkan harga awal pabrik. Mereka juga memiliki kebiasaan daur ulang limbah yang mereka lakukan sebenarnya bukan karena sadar lingkungan, namun karena dengan melakukan hal itu mereka bisa menghemat.

Pertanyaan di awal ulasan ini menggambarkan rumitnya hubungan dengan pihak pabrik (sopir taksi) dan importir (Anda). Jika Anda menjawab A yaitu memberikan tambahan $10, maka di dunia bisnis cepat aatu lambat Anda akan bangkrut. $10 memang angka yang kecil, namun Anda akan menghadapinya lagi yaitu kenaikan harga di menit-menit terakhir. Bila Anda menjawab B, keluar dan mencari taksi lain, sulit sekali mencari pabrik lain yang tepat di situasi yang mendesak, akhirnya Anda pun akan bangkrut. Jawaban C mungkin paling baik, tapi ingat sopir taksi itu akan tetap berusaha mendapatkan $10, dia tidak berkeberatan untuk diskusi panjang di kantor polisi sampai pukul 4 pagi, atau sampai Anda menyerah. Masalahnya, sanggupkah Anda menghadapi semua kerumitan ini?

JUDUL BUKU : ABAL-ABAL PRODUK CINA

PENULIS : PAUL MIDLER

PENERJEMAH : IRYAN SYAHRIR DAN DIENI PURWANDARI

PENERBIT : UFUK PRESS

CETAKAN : PERTAMA, 2010

JUDUL ASLI : POORLY MADE IN CHINA

TEBAL : 415 halaman

Advertisements