Kampanye Hitam Bukan Kampanye Negatif

Baru saja dapat pencerahan nih dari Rohman Budijanto, wartawan Jawa Pos yang menulis untuk rubrik Bahasa di Tempo. Menurut Beliau, kampanye negatif itu perlu, karena isinya bukan menjelek-jelekkan calon, namun membeberkan fakta negatif calon. Isinya bisa dipertanggungjawabkan, yang nulis jelas, fotonya otentik, bukan hasil editan.

Akan halnya kampanye hitam, pak Rohman mempertanyakan kenapa sih hitam mesti disalahkan? Memang sih dari kata black campaign, tapi terjemahannya bukan kampanye hitam, namun kampanye untuk memperjuangkan hak-hak orang kulit hitam. Buset dah, jauh bener!

Kebiasaan kita memang suka menerjemahkan sesuatu secara harafiah. Misal nih waktu saya usil bertanya foto profil di sosial media yang I Stand On The Right Side, foto pendukungnya kok malah di kiri, langsung dapat banyak penjelasan kisah di balik tagline tersebut. Huf, OK, kalau gitu kita mesti take seriously juga dengan kesalahan berbahasa ini. Jangan gunakan istilah kampanye hitam, tapi kampanye gelap.

Karena yang hitam-hitam ngga selamanya buruk. Hitam itu sebagai pembeda (hitam di atas putih), penanda isi kepala (kepala sama hitam, pikiran masing-masing), atau hitam manis, pernah dengar kan? Nah, jadi selama ini kita sudah salah menggunakan kata hitam untuk sesuatu yang buruk. Misal pengusaha hitam, konglomerat hitam, atau kambing hitam. Bahasa Inggrisnya ngga ada. Black businessman atau black conglomerate artinya pengusaha berkulit hitam, dan pernyataan begini rada rasis. Lalu, ngga ada yang namanya black goat, adanya scapegoat.

Jauuuh ^_^

***
IndriHapsari

Advertisements