Saya dan Komik

 

“Jika karyamu tidak beda dengan komik-komik kebanyakan, apa yang bisa kudapatkan dari membacanya? Aku nggak tambah sugih.”

Kalimat tersebut diucapkan Sujiwo Tejo terhadap Aji Prasetyo, kartunis “Hidup itu Indah”. Kata-kata inilah yang menjadi dasar saya mereview perjalanan ‘membaca komik’ selama hampir 30 tahun.

Pertama, apa manfaat yang saya dapatkan dari membaca komik? Sebelum saya menjadi seserius sekarang :), komik pastinya adalah hiburan. Perkenalan pertama kali tentu dari majalah Bobo dengan komik keluarga Bobo, Bona dan Rong-rong, Juwita, Paman Kikuk dll. Selanjutnya adalah Majalah Donal Bebek. Dari komik-komik sederhana itu, saya memetik pelajaran tentang etika, sebab akibat, kecerdikan dan moral.

Perkenalan berikutnya adalah dengan komik-komik dari pengarang Prancis. Herge dengan Tintin, Rene Goscinny dan Albert Uderzo dengan Asterix and Obelix. Kelebihan para penulis Prancis ini adalah gambarnya yang detail, kaya warna dan kuat dalam sejarah. Secara tidak sadar, kita diajak kelilimg dunia, mengenal budaya dan sejarah di masing-masing daerah. Ada satu lagi komik favorit saya, Agent 212 (Polisi 212) karya Raoul Cauvin dan Daniel Kox yang menceritakan kisah polisi Belgia yang konyol dan lucu. Nah kalau yang ini sih nothing more than funny.

Kalau bicara komik tentu tidak lepas bicara tentang komik Jepang. Jaman SMP dulu juga sempat kena razia dan masuk kantor kepala sekolah karena bawa komik ke sekolah (kalau sekarang razia handphone ya). Yang ingat sih serial cantik, Candy-candy, Pank Ponk, Doraemon and many things. Membacanya adalah untuk hiburan. Namun ada komik-komik yang terus bertahan selama puluhan tahun, dan baru sekarang saya tahu manfaat lainnya. Kariage Kun, Kobo Chan, dan yang terakhir muncul adalah Otoboke, semua karya Masashi Ueda. Dari komik-komik ini saya jadi tahu gaya hidup masyarakat Jepang, ditinjau dari kacamata pegawai-single (Kariage), pelajar (Kobo), dan pegawai- berkeluarga (Otoboke). Komik Detektif Conan karya Aoyama Gosho yang telah muncul puluhan nomor, memberikan warna beda dalam dunia perkomikan yang serba ringan. Materi yang diberikan selama ini mungkin sudah sama seperti kuliah di Kriminologi.

Komik Korea kini juga mulai mendunia, dengan cara mengubah kisah-kisah yang telah mendunia dalam bentuk komik. Karya seperti Hamlet, Monte de Christo, Around The World in 80 Days yang semula berupa novel, pementasan opera yang sulit dicerna dan diakses di sebagian penjuru dunia, dengan mudah dapat dipahami lewat komik tersebut. Langkah ini cukup cerdas, sehingga pembaca maklum-maklum saja dengan kualitas gambar yang tidak begitu bagus, minim detil dan kesan ‘lebay’nya.

Kedua,bagaimana dengan komik indonesia? Panji Koming karya Dwi Koendoro yang rutin terbit di Kompas Minggu, merupakan contoh komikus Indoneia yang kaya detil, satire, dan serius. Secara substansi tidak kalah, namun penikmat komik tersebut harus mengikuti berita-berita terbaru. Sehingga saat Panji Koming muncul di hari Minggu, kita jadi tahu siapa nih yang sedang disindir 🙂

Dari Kompas Minggu juga, Akhirnya kartun Benny dan Mice terbit dalam bentuk buku. Mulai dari Jakarta Luar Dalem, Jakarta Atas Bawah, Lagak Jakarta, Talk About Hape, Lost in Bali 1 dan 2, Dari Presiden ke Presiden 1 dan 2 (karya Benny) sudah menjadi koleksi saya. Meskipun saya menyesalkan Benny istirahat dari terbitan reguler di Kompas, namun rupanya dia beristirahat untuk berkarya, karena telah muncul Benny dan Mice secara terpisah. Karya-karya mereka dengan pas dan konyol menggambarkan kehidupan sehari- hari warga Jakarta, dan tidak perlu usaha keras untuk mengingat-ingat kejadian nyatanya. Untuk kartunis cewek, terdapat beberapa yang saya suka seperti Tita Larasati dengan komik graphic diarynya, berjudul Curhat Tita, Back in Bandung, Antologi 7 (dengan kartunis lain) dan Kid Stuff (terus terang karya Tita saya gunakan untuk mengasah kemampuan bahasa inggris:)). Karya Tita sebelumnya dipublikasikan lewat multiplynya. Sheila Rooswitha Putri dengan karyanya Cerita si Lala, kemudian disambung dengan karyanya yang kaya akan detil di Duo Hippo Dinamis yang merupakan kolaborasi dengan Trinity, penulis buku Naked Traveller. Kolaborasi juga dilakukan Raditya Dika yang sukses dengan buku Kambing Jantan dan disambung dengan buku-buku best seller lainnya. Buku tersebut dibuat komiknya dalam 2 serial oleh Dio Rudiman. Karya Dio mengingatkan saya pada manga, dan jangan khawatir karena cerita di komik lain dengan bukunya.

Buku komik karya beberapa kartunis juga cukup menarik. Mereka menampilkan realita sehari-hari, dalam pandangan dan gaya masing-masing, meski tema yang dibahas sama. Misal buku Berkah dan Bencana Motor karya para kartunis cowok (Beng Rahadian dan kawan-kawan), dan 101 Surviving Super Singles karya para kartunis cewek.

Ada juga kartunis tunggal yang menyajikan satu topik khusus, mengutarakan opininya dikaitkan dengan realita di kehidupan. Aji Prasetyo dengan karyanya Hidup itu Indah, dengan gambar yang tanpa teks saja sudah bikin ketawa, begitu berani menyuarakan pendapatnya. Hingga buku tersebut ditarik dari jaringan toko buku besar di Indonesia karena membuat beberapa pihak ‘tidak nyaman’ 🙂

Komik Chickenstrip karya Diki Andeas juga mengkhususkan diri dalam hal internet technology, awalnya lewat blog. Yang menarik, Diki telah menerbitkan buku pertama dengan judul Why Did The Chicken Browse The Social Media?. Buku komik tersebut dilengkapi dengan penjelasan singkat tentang social media, sehingga tanpa terasa pembaca belajar lebih banyak. Diki menggunakan 3 panel komik dan miskin detail seperti komik Snoopy, tapi eksekusinya tepat. Selain buku, karya Diki juga dapat dilihat pada web pribadinya, dan aplikasi iPad.

Yang pasti, karya-karya kartunis kita tidak kalah dengan kartunis luar, dengan gaya yang berbeda. Kekurangannya mungkin di colouring dan detail. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah asal eksekusinya tepat. Komik memudahkan kita memahami suatu hal, menyegarkan pikiran, dan mengungkapkan perasaan. Kalau saya diberi kesempatan karunia apa yang saya ingin punya, salah satunya adalah bisa menggambar komik:) Sehingga kalau saya ditanya, apakah saya akan menularkan kebiasaan membaca komik ke anak-anak, akan saya jawab : Absolutely!

Advertisements