Museum Angkut Batu, Foto-foto Terus!

Tempat yang lagi happening di Batu adalah Museum Angkut. Bertempat di jalan Terusan Sultan Agung, sempat mumet karena tidak tertera di Google Map maupun iOS Map. Tapi dengan modal nekad, ‘terusan’ itu mestinya perpanjangan ya. Karena jalan Sultan Agungnya tertera, maka terusannya mestinya ketemu juga.

Bertempat di pojokan setelah melewati Klub Bunga dan Jatim Park I, sudah terlihat dari jauh ni tempat gede, trus unik juga, banyak moda transportasi beneran yang dipajang di luar. Ada heli kuning bertuliskan Jatim Park Group yang jadi incaran foto orang-orang.

20140518-052026.jpg
Bea masuk 50 ribu kalau hari biasa, week end dan hari libur, serta hari libur sekolah 75 ribu. Trus kalau kita bawa kamera beneran (pocket sampe DSLR) mesti bayar lagi 30 ribu. Buka jam 12 siang sampai 8 malam, setiap jam 7 tiket didiskon jadi 50 persen.

Pertama masuk lantai 1 isinya seperti pameran transportasi lama, mulai mobil, sepeda dan ada heli juga. Langit-langitnya cukup tinggi, dan langsung ketauan kalau semua benda memang sudah siap untuk menyambut kenarsisan para pengunjungnya. Semua berpose, baik difotoin maupun selfie. Tongsis sangat laris disini.

Naik ke lantai dua dengan lift, kita disambut dengan gerobak sapi yang bisa dinaiki untuk…pose. Lalu ada tangga naik ke Apollo, yang ternyata ngga ada apa-apanya di atas, cuma lihat dari ketinggian aja. Eh itu pas ngga gitu rame ya, kalau pas rame kayanya bakal repot deh naik turun penuh orang.

Di lantai dua banyak TVnya, yang memutarkan video transportasi. Terus ada game interaktifnya, nebak knalpot salah satunya. Ada suara yang menggema kalau tombol dipencet, dan kita disuruh nebak dalam hati ini suara klakson apa.

‘Gini aja?’ kata bapaknya ketika melihat pintu bertulisan Departure Stasiun Kota. Merasa rugi kalau begini saja harus ngeluarin 75 ribu. Apa mungkin kalau lantai 3 sudah jadi, bakal tambah seru ya. Kan ada pameran pesawat ntar. Ternyata bapaknya salah.

Begitu keluar kita sudah disambut Zona Batavia. Jadi ada penjual yang menggunakan sepeda, bajaj yang ngga boleh dinaiki, becak, dan model transportasi lama lainnya. Berganti ke pemandangan pelabuhan Sunda Kelapa, lagi-lagi pengunjung terhenti untuk foto-foto. Zona edukasi isinya pameran mobil dan motor lama, saya rasa mereka koleksi pribadi seseorang ya, sekarang dipajang di museum.

Begitu keluar, langsung disambut Zona Gangster dan Broadway. Polisi, pemadam kebakaran, pom bensin, penjahat, ada semua. Lalu panggung Broadway, kafe pinggir jalan jadi sasaran ‘tembak’ para narsis, atau fotografernya 🙂 Jalanannya mengingatkan dengan situasi di Universal Studio Singapura, ternyata memang di bawah logonya Museum Angkut ada movie Star Studio. Hebat juga, sudah mikir bahwa mengandalkan museum angkut aja mungkin ngga cukup.
image

Yang salut, ada dua theater yang menayangkan film Charlie Chaplin dan Three Stooges. Seolah bioskop, pengunjung dapat duduk manis melihat tayangan yang diputar terus menerus. Generasi sekarang sih mana kenal, kalau bukan yang lebih senior memperkenalkan karya-karya besar seniman jaman dahulu. Saya tahu karena dulu orang tua saya rajin muter lewat kaset video.

Setelah dari zona gangster yang outdoor itu, kita masuk indoor lagi. Ada zona Italia dengan background menara Pisa, lalu zona Perancis dengan miniatur Eiffel. Berganti dengan zona Jerman dengan Tembok Berlin. Kalau anak saya sih nyariin Hitler 😀 Zona Inggris berisi bis tingkat merah khas Inggris, mobil terbuka yang biasa dipakai Ratu Inggris, bisa jalan melalui rel. Lalu foto bateng Ratu, mainan Lego dan masuk area outdoor lagi dengan taman yang dihiasi bunga warna-warna dan air mancur.

Berikutnya area Las Vegas dan Hollywood, ada Brad Pitt dan Angelina Jolie loh! Cuma sayang…ngga mirip…hahaha. Tapi usahanya OK kok. Patung Hulk dibuat dari onderdil mobil, menarik dan kreatif. Karena posisi kita di atas, jadi keliatan deh di bawah ada pasar apung, dengan perahu-perahu yang melewatinya. Wah lumayan kayanya.

Kita bergegas turun. Sebelumnya kita melewati terowongan yang katanya gerbong kereta api. Eh beneran loh, terowongannya goyang-goyang, trus kiri kanannya ada TV yang seolah jendela tempat kita melihat pemandangan sekitar. Kurang kursi penumpang, jadi dah.

Di pasar apung, kami melewati banyak stand makanan tradisional dan oleh-oleh. Menarik sih, sayang lagi buru-buru ngantri. Seorang kena 10 ribu, satu kali naik perahu muat 4 orang. Setelah diberi nomor, kami menunggu giliran, karena perahunya cuma ada tiga. Oya, ini ceritanya didayungin supaya tahu arahnya.

Akhirnya tiba giliran kami. Setelah duduk manis bersila di perahu, tukang perahunya mendayung pelan menyusuri air yang berwarna kehijauan tersebut. Sempat nanya-nanya, ternyata tempat ini baru dibuka 9 Maret yang lalu. Woa, pantas masih ada yang belum selesai.

Perahu menyusuri banyak penjual, baik yang di darat maupun di perahu-perahu kecil yang menepi. Biasanya yang dijual cemilan tradisional. Lalu ada juga perahu yang khusus buat sesi foto. Setelah melewati pertunjukan Cars, selesai deh. Paling keliling cuma 10 menit, tapi jadi tahu semua.

20140518-052323.jpg

Museum ini recommended buat anak-anak hingga dewasa. Profesionalnya sudah sama dengan yang di luar. Toilet banyak dan bersih, banyak petugas yang bersedia jadi tukang foto, dan ..belum komersil. Bayangin kalau di luar, pasti bentar-bentar difoto dan digetok mahal pas pulang untuk foto dengan tulisan tempat wisata. Atau dimana-mana ada kedai makanan dengan harga super mahal. Yang ini masih mending 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements