King Henry

Henry VIII akan melamarku!

Aku memejamkan mata, membayangkan si tambun itu akan menindihiku saat malam pertama. Sungguh mengerikan! Dan kakinya yang selalu bernanah itu…sungguh membuatku mual.

Tapi apa daya, Henry adalah sang penguasa. Ia dicintai rakyat Inggris, dan siapapun, akan dengan senang hati menyerahkan anak gadisnya untuk diperistri sang raja. Ia terkenal flamboyan, royal pada wanita-wanita yang disukainya. Dan entah kesialan atau keberuntungan, saat Henry melihatku di suatu pesta.

Tak butuh waktu lama, hingga ia menemui ayahku di kastil. Dengan takut-takut aku mengintipnya. Perutnya buncit, dengan janggut yang rapi menghiasi dagunya. Mukanya bulat dan matanya kecil, mirip babi kemerahan yang suka mengendus-ngendus. Saat itu ayah dan Henry menyantap makan malam, dan ia memakannya dengan rakus.

‘Berikan Chaterine padaku, Tuan Parr. Akan kuberikan ia istana yang kubangun di Canterbury. Hidupnya akan bergelimang kemewahan. Dan tentu saja, ia akan selalu kusayang,’ katanya sambil mencabik daging ayam dengan sekali gigit. Perutku mual saat melihatnya. Membicarakan pernikahan sambil sibuk makan! Apa yang lebih menjijikkan dari itu…

Ayah mendesah. Aku melihat matanya tertunduk sedih.

‘King Henry, Chaterine masih terlalu muda. Umurnya belumlah dua puluh, sedang King Henry sudah lima puluh,’ katanya pelan.

King Henry terbahak. Perutnya yang besar berguncang-guncang. ‘Apakah kau khawatir aku tak bisa memuaskan anakmu? Hahaha…’ tawanya membahana. Aku menggelengkan kepala. Membicarakan hal itu pada calon ayah mertua. Betapa kurang ajarnya dia!

‘Pernikahanmu tidak akan direstui gereja,’ kata Ayah dingin.

King Henry tersenyum. ‘Paus di Roma memang tidak setuju aku menikah berkali-kali. Karena itu…aku membuat gerejaku sendiri,’ katanya sambil tersenyum penuh kemenangan. ‘Kuangkat Thomas Cranmer sebagai uskupnya, dan ialah yang akan memberkati pernikahan kami,’ Ia masih saja tersenyum, menatap Ayah yang makin tertunduk.

‘Tapi…Chaterine…’ katanya berusaha mencari alasan lagi.

‘Cukup, Tuan Parr!’ bentak King Henry sambil melempar serbet makannya. ‘Pernikahan akan dilakukan seminggu lagi, dengan atau tanpa persetujuanmu. Kau tentu sudah dengar apa yang kulakukan pada juru masak itu. Jika seseorang membuatku marah, akan kusiksa ia. Hati-hatilah, mungkin hal itu akan juga terjadi padamu dan keluargamu!’ katanya tajam.

Ayah menyandarkan tubuhnya di kursi. Aku mengendap meninggalkan ruang makan itu, menyusuri lorong yang gelap, menuju istal.

*

‘Charles…’ aku berbisik memanggil bayangan yang terlihat memanjang. Sesaat kemudian bayangan itu berubah menjadi Charles, pengawal Ayah yang setia, kekasihku. Ia terlihat gagah dengan pakaian ksatrianya. Beda dengan si tambun itu.

‘Oh Charles..bagaimana aku menghadapi King Henry? Ia ingin meminangku! Dan ia telah mengancam Ayah!’ isakku sedih. Charles memelukku. Ia berusaha menenangkanku.

‘Apapun yang terjadi Chaterine, jangan! Pria itu telah menghabisi istri-istrinya. Aku takut kau menghadapi hal yang sama, dipenggal dengan kejam. Atau..kau akan menyesal seumur hidup, pernah hidup bersama dengannya,’ bisiknya pelan.

‘Aku tak bisa, Charles! Dia akan menghabisi Ayah. Menyiksa keluargaku…akan bagaimana keluargaku? Aku tak mau melihat King Henry memenggal kepala mereka di tengah alun-alun, di hadapan semua orang!’ kataku histeris.

Charles menatapku iba. ‘Dia …memang bisa melakukannya,’ gumam Charles, tak tahu lagi apa yang mau dikatakan. Kami berdua sama-sama terdiam. Apalagi jika mengingat kisah ia merebus juru masaknya hingga mati dalam kuali, karena makanan yang disajikan pada para tamu, membuat mereka diare.

‘Aku harus bagaimana, Charles?’ tanyaku sedih. Jawabnya sudah kutahu, tapi sungguh aku ingin Charles punya jawaban lain untukku.

Ia tak menjawab.

*

Pernikahan telah dilangsungkan. Rakyat Inggris berpesta selama 7 hari. King Henry makan banyak sekali, dengan aku hanya bisa menyaksikan di sampingnya. Ia terlalu mabuk untuk menyentuhku, sehingga setelah pesta ia pasti tertidur. Beratnya hampir 150 kg, dan para penggotongnya harus bekerja keras. Ia telah merusakkan tiga kursi selama bepergian untuk pesta ini dan itu, dan kakinya makin bau.

Aku tak mengerti, mengapa luka di kakinya ini tak sembuh jua. Nanah menghiasi lukanya, dan benjolan-benjolan itu berbau busuk. Aku rasa King Henry memperistriku hanya agar ada orang yang merawatnya. Setidaknya, itu yang aku duga, sampai suatu hari, ia minta dilayani.

Telentang di atas ranjang, ia habis makan besar. Celananya kini tak mampu lagi menahan perutnya. Dan entah setan apa yang menguasainya, ia ingin aku melepaskan bajunya. Aku tergagap melakukannya. Selama ini aku menjaga jarak dengannya. Sekarang aku harus bersentuhan dengannya? Oh my…

Ia mengoceh terus tentang ingin punya anak laki-laki. Kelima perkawinannya memang hanya menghasilkan satu orang putra, itupun meninggal saat usianya remaja. Ia bermimpi ada yang akan meneruskan tahtanya, dan itu haruslah seorang anak laki-laki. Aku sibuk menyusun siasat, agar hal itu tak perlu terjadi, ketika aku teringat…

‘Aku ingin minum anggur denganmu,’ kataku sambil menatap tubuh bulat besar yang kini sudah telanjang. Ia tertawa gembira. ‘Wah, aku baru tahu kau suka anggur juga. Baik, bawakan aku anggur yang paling enak!’ katanya memerintah. Dengan sigap aku pergi ke ruang bawah tanah, tempat King Henry menyimpan anggur-anggur terbaiknya. Kupilih beberapa botol yang paling lama, hasil jarahan King Henry ketika berperang melawan Prancis.

Kutuangkan isi botol itu dalam gelas, kuangsurkan padanya. Kuatur bantal-bantal di belakang punggungnya, agar ia bisa meminumnya dengan leluasa. ‘Demi Inggris!’ katanya sambil mengangkat gelasnya. Kami bersulang, dan King Henry meminum anggurnya dengan cepat. Aku hanya menyisipkan bibir gelas itu pada bibirku, berpura-pura meminumnya. Kemudian, tak kuberi kesempatan ia tidur kembali. Dengan cepat kutuangkan isi botol itu lagi. King Henry masih saja tertawa-tawa gembira, menyaksikan cairan keunguan itu memenuhi gelasnya.

Sampai…ia terkulai tak berdaya. Mabuk. Tanpa busana.

Cepat aku bangkit dari ranjang. Menutup pintu kamar dengan hati-hati.

*

‘Aku hamil!’ kataku dengan gembira. King Henry baru saja memarahi para ksatrianya yang baru pulang dari medan perang. Perang dengan Prancis telah berlangsung berlarut-larut, dan menghabiskan banyak biaya. King Henry ingin semua segera diselesaikan, sehingga ia bisa berkonsentrasi merebut Kekaisaran Roma Suci.

King Henry menatapku dengan curiga. ‘Mana …mungkin…’ katanya tertahan. Aku menatap matanya dengan berani. ‘Bukankah kau yang menyetubuhiku, saat kau sedang mabuk? Lupakah kau, saat kejadian itu?’ King Henry terdiam. Ia tak dapat membantahnya.

Namun hari-hari berikutnya seperi neraka yang berkelanjutan. Setiap hari aku harus menghadapi tingkah lakunya yang kasar, meski aku sudah berhati-hati dengan menjaga jarak. Ia pernah melemparku dengan tongkatnya, ketika tak cepat mengambilkan minuman. Ia meneriakiku di depan orang-orang, dan meludahiku jika tak berkenan. Untung aku cepat menghindar. Suasana hatinya menjadi demikian buruk, seiring dengan memburuknya kondisi kesehatannya.

Kakinya makin busuk. Nanah menjalar cepat ke atas, dan kini tiada hari tanpa erangan kesakitan. Tidurku makin berkurang. Namun aku bertekad untuk terus menjaga kesehatan, demi janin yang tengah kukandung. Dan pada saat janin ini menginjak usia keempat bulan, King Henry meninggal.

Ia terdiam di atas ranjangnya. Tubuhnya yang besar tenang tak bergerak. Wajahnya bukanlah wajah seorang raja yang kejam, namun seorang tua yang dirudung kesedihan. Inggris berduka, dan aku kembali ke kastil Ayah.

Ayah telah berpulang, tak lama setelah aku menikahi King Henry. Kalimat terakhir yang kudengar dari mulutnya, adalah doa supaya nasibku tidak sama seperti istri-istri King Henry yang lain.

Charles menyambutku. Dibukanya kereta kudaku, disodorkannya tangannya padaku, agar menjadi tumpuan saat aku melangkah turun dari kereta. Dengan lembut ia membimbingku masuk ke kastil, tempat para pelayan sudah menungguku. Wajah-wajah bahagia menyambutku. Aku pulang!

Dan pada ruangan dimana tak seorangpun melihat, kami saling menumpahkan rindu. Tangan Charles sibuk membelaiku. Dan ketika sampai pada bagian pinggangku, ia bertanya perlahan, ‘Bagaimana kabar anakku?’

***
IndriHapsari

Advertisements