Ngebut 400 km/jam, Seperti Apa Rasanya?

20140118-170456.jpg

Saya suka kecepatan. Karena itu kalau ada macet, atau delay, rasanya pengen gigit bantal. Membuang waktu dalam perjalanan. Entah ya, di otak saya hal yang saya yakini adalah transportasi itu hanya menghabiskan biaya. Sehingga kalau bisa dipersingkat, mengapa tidak. Tentu kita ngga bisa bandingin becak dan pesawat, bener sih beda kecepatan, tapi beda harganya itu lo. Karena itu bandingkan dengan yang sejenis.

Meskipun suka kecepatan, saya ngga berani ngebut. Maklum, takut reflek kurang karena ada kendaraan lain, atau kalau di Indonesia gini ada yang tiba-tiba nyebrang, dan kendaraanlah yang selalu disalahkan. Tapi saat jalan sepi, Minggu pagi misalnya, saya berani memacu hingga 80 km/jam. Kalau di jalan tol, maksimal 100 km/jam. Itupun lihat-lihat mobilnya. Kalau pakai mobil tinggi biasanya agak getar, jadi baru 80 km/jam aja mobilnya sudah heboh. Tapi kalau pakai sedan, cenderung lebih stabil dan ngga kerasa, tahu-tahu sudah 100 km/jam.

Maka program TV favorit saya adalah Top Gear. Kapan lagi bisa menyaksikan mobil-mobil super cepat dilarikan sampai batas maksimalnya. Bonus acara konyol-konyolan lagi, jadi penonton tak bosan melihatnya. Ferarri, Lamborgini, bahkan mobil Formula 1 pernah dijajal kecepatannya.

Episode kemarin menayangkan soal Bugatti Veyron. Mobil yang diklaim sebagai yang tercepat di dunia, bahkan ngalah-ngalahin Formula 1. Pembuatnya, Volkswagen, mengatakan kecepatan maksimalnya adalah 431 km/jam. Sedangkan presenter Top Gear, James May, mampu mencapai 407 km/jam pada lintasan lurus. Itupun sudah bikin May nangis karena terharu.

Rasanya seperti apa sih? Pengemudi pada awalnya harus menyelipkan kunci di samping tempat duduk pengemudi. Otomatis spoiler akan menyatu dengan badan mobil, dan mobil sendiri ketinggiannya menyesuaikan, jadi lebih rendah. Melawan angin jadi lebih mudah.

Lalu mulailah May menginjak gasnya, dengan tetap memperhatikan speedometernya. Akselerasi kendaraan berlangsung dengan cepatnya, yang diinginkan adalah angka 407 km/jam. Empat kali lipat dari kecepatan maksimal yang saya pernah buat. Itu kalau kendaraannya tipe coupe dan ngga ada kaca depannya, gigi bisa rontok sepertinya. Yang pasti, bibir dower kena angin pasti jadi candid yang juara. Dari 0 ke 100 km/jam, cuma butuh waktu 2,6 detik. Weh, bayangin begitu lampu merah jadi ijo, langsung wuss!! Meninggalkan mobil lain yang lambat tapi sok-sok nglakson.

Mobil ini secepat Shinkansen. Jarak Jakarta Semarang, asal jalannya lurus, bisa ditempuh hanya dengan satu jam. Oya, asal ngga ada yang nyebrang, plus perlintasan kereta (hahaha, jadi inget kenapa mobil-mobil gini ngga cocok masuk Indonesia). Selain itu, sanggup ngisi bensin sering-sering, karena konsumsi bahan bakarnya yang boros. Berkisar 1:4, atau untuk 400 km, ya butuh 100 liter bensin.

May sendiri menyatakan mobil ini sangat tenang saat dipacu dengan kecepatan seperti itu. Malah katanya dia sempat disorientasi habis menginjak rem. Jadi dia hampir buka pintu mobilnya karena kendaraan melambat. Untung ngga, karena ternyata kecepatannya masih 100 km/jam. Gileee…di mobil saya segitu sudah goyang.

Kalau kepengen mobil ini (eh, saya temenmu kan? *kedip*) silakan siapin uang GBP 1,7 juta, atau 34 milyar rupiah. Rasanya, buat super kaya Indonesia hal gini mah enteeeng *kompor:D*

***
IndriHapsari
Gambar : wikipedia

Advertisements