Tersesat (?) di Melbourne

Traveling itu, kombinasi antara kenekatan, kesoktahuan, dan persiapan. Semua harus dilandasi dengan ketenangan. Kalau pake acara panik, jatuhnya ngga menikmati perjalanan.
image

Nyampe di Melbourne hari hujan. Wah ini kota ‘terkelam’ setelah Gold Coast dan Sydney yang mandi matahari. Paling kalem juga sepertinya untuk kota besar, berada di antara Bankstown dan Sydney tingkat keramaiannya. Bandara lebih besar dari Gold Coast, tapi lebih sepi.
image

Berangkat dari tengah kota yang rame dengan orang lalu lalang kita sampe ke daerah Pecinan atau Chinatown. Yah ini mah ngga kerasa Melbournenya 😀 Tapi seneng juga berjalan melintasi toko-toko kecil yang jualan macam-macam ini.
image

Melbourne selalu masuk daftar kota-kota di dunia yang nyaman ditinggali, mengalahkan Sydney. Pejalan kaki dimanjakan dengan trotoar yang lebar-lebar, lalu lintas ngga padat, dan…ada tram.
image

Melihat tram berhenti di depan halte, kami langsung masuk. Bayar, urusan belakangan. Kirain ada petugas yang nagihin seperti tram di Sydney, ternyata semua penumpang menyentuhkan kartunya seperti di bis. Petugasnya cuma satu, ya yang sedang mengendalikan kuda, eh tram, di depan.
image

Sudah pegang 3 peta, tapi tetap aja ngga tahu ni tram kemana. Tahu sih nomornya, tapi halte-halte yang disebut di mesin ngga ada di peta. Akhirnya buka goggle map, ada, tapi belum bisa nyocokin sama petanya. Tapi saya berkeyakinan (sok PD tepatnya) rute tram ini pasti melingkar, dan kelak kembali ke tempat kita naik. Sekaligus agak khawatir, karena jam telah menunjukkan pukul 7 malam (meski masih terang) dan di peta ada tulisan last operation at 7 pm. Hiks….
image

Dan bener aja, tramnya berhenti, sambil ada suara mesin bilang ini last station. Saat itu kami entah berada dimana, naik taksi balik ke hotel bisa sih, tapi mahal pasti.

Kita turun, dan saya beranikan diri tanya ke sopirnya, balik lagi ngga. Katanya iya, ya sudah kita naik lagi. Trus sopirnya ngedatengin kita, lebih tepatnya dia mau pindah ke ujung satunya, dan tanya kita mau kemana. Saya tunjukin aja peta, dan dia sarankan turun di daerah Swanston. Trus edisi jujur, ngaku pertama kali naik tram, dan ngga tahu cara bayarnya.
image

Alih-alih marah karena ada penumpang gelap, sopirnya malah nyaranin beli aja kartu di 7 eleven, trus berlalu ke kabinnya. Hiks…jadi terharu deh. Kali ini naik tram gratis…Perjalanan pulang ini, jadi sempat foto-foto karena ngga tegang lagi. Ternyata rute tram bukan melingkar, tapi balik lagi.

Sampe Swanston kita turun, dan saya bergegas ke depan, dadah-dadah ke sopirnya untuk memperlihatkan, kami sudah kembali ke daerah yang kami kenal 🙂

Update : Setelah ngider ke beberapa toko 7 eleven untuk beli kartu myki untuk naik tram, berakhir dengan sistemnya lg rusak. Akhirnya ke Melbourne Central untuk beli di loket. Malah ditanya-tanyain sama petugas mau kemana, tinggal dimana, dan stay berapa lama. Akhirnya dia menyimpulkan kita ngga usah beli tiket, naik tram yang gratisan aja atau jalan kaki. Ckckck, bener-bener ngga butuh duit dan mau repot ya petugasnya *kagum*

***
IndriHapsari

Advertisements