Ini Roti Biasa

20131108-213744.jpg

Ini roti biasa, dengan serat-seratnya yang kasar, cabikannya yang agak alot, dan ukurannya yang sedang saja. Isinyapun biasa, tak ada yang istimewa. Semua toko roti, dari yang dijual dengan cara didorong, naik sepeda ataupun sepeda motor, dapat menjual jenis yang sama. Roti keju, coklat dan pisang, semua rasa tersembunyi di dalam. Baru tahu isinya pada gigitan pertama, ah, dapat rasa sarikaya rupanya.

Sebenarnya sudah lama selera ‘kembali ke asal’ ini melanda saya. Capek rasanya, menyicipi berbagai rasa roti yang dijual gerai modern. Biasanya berada di pusat perbelanjaan ternama, aromanya mungkin sengaja mencegat orang yang lalu lalang, untuk sekedar melongok ada apa di rak pajangan. Roti-roti yang sungguh menggugah selera, dari bentuk maupun aroma. Kelezatan terpampang di depan mata, bahkan sebelum lidah kita merasakannya.

Didorong atas sensasi ‘modernitas’, pelanggan seolah memasuki sebuah butik, yaitu butik roti. Berkeliling mengamati roti yang nampak mengoda di bawah sinar lampu yang menguatkan warnanya. Membaca nama roti yang unik, dengan deskripsi bahan yang sungguh bikin ngiler. Dan tanpa terasa, memenuhi baki yang pelanggan bawa…

Berpendapat bahwa harga yang dibayarkan, setara dengan pengalaman dan sensasi rasa yang didapatkan. Pelanggan dapat pula menyaksikan, para ahli roti dengan seragam putihnya, memintir-mintir adonan dan menciptakan bentuk yang unik. Melihat roti yang baru selesai dipanggang, dikeluarkan dari oven besar. Menyaksikan loyang roti diangkat tinggi-tinggi, keluar dari dapur yang dibuat seperti akuarium, dan ditata di rak toko. Pelanggan dengan bangga menenteng kotak roti mewah, atau kantung plastik transparan, yang jelas-jelas menunjukkan nama toko roti paling happening di kota. Buat hantaran ngga malu-maluin, buat penganan bikin ketagihan.

Roti pada gerai modern memang beda. Lebih mengembang, sehingga ukurannya jumbo. Sepertinya kenyang jika makan satu. Namun nyatanya tidak. Rotinya begitu lembut, sehingga kalau dipadatkan, ternyata hanya potongan kecil saja. Maka kita mulai mengintip lagi, ada rasa apa lagi ya, yang patut dicoba?

Bahan isian maupun topping yang aneh-aneh ternyata rukun-rukun saja ketika disajikan dengan adonan roti. Abon pedas dan tidak pedas, mayonaise, timun, kacang merah, kopi, krim keju, semua menambah selera lidah yang mengunyahnya. Belum lagi bentuknya yang memuaskan mata. Digulung, ditabur, dibelah, sekarang isinya tak pernah malu-malu ditampilkan wujudnya. Tak pernah ada rasa penasaran, ah, ternyata saya menggigit roti coklat.

Namun selera memang tak bisa bohong. Ada kerinduan untuk kembali mencicip roti-roti yang sederhana. Harga memang tak serendah dulu, tapi lebih murah dari roti yang harus menyewa outlet di mall untuk menarik pelanggan. Biasanya roti-roti biasa ini dijual di suatu toko roti yang menjadi satu dengan dapurnya, yang para pelanggan tak pernah tahu proses dan siapa yang membuatnya. Toko roti itu sendiri berdiri di tepi jalan yang cukup ramai, kalau pagi penuh dengan sepeda atau sepeda motor, yang menyapa pelanggan di rumah masing-masing. Merupakan usaha keluarga, dan sudah berdiri sejak lama. Menyaksikan berbagai era, termasuk saat gerai modern dengan roti-roti cantiknya menjadi pesaing mereka.

Jika soal sensasi rasa mereka mungkin kalah, namun ada saja orang-orang seperti saya yang menjadi pelanggan setia roti yang mereka buat. Roti hanya punya satu rasa, makan satu sudah kenyang. Tak perlu tunggu jam sepuluh hingga mall buka, tapi bisa didatangi sejak jam enam pagi, untuk mendapatkan roti pertama yang baru keluar dari oven. Mencium aromanya dan merasakan roti hangat memenuhi rongga mulut kita.

Ini hanya roti biasa. Roti biasa yang mampu menjawab kerinduan akan rasa.
***
IndriHapsari
Gambar : pribadi

Advertisements