Puisi Yang Hilang (1)

20130824-035716.jpg

‘Love you honey,’ Ve tersenyum pada layar laptop di depannya.

‘Bye sayang,’ Bagas membalas senyumnya. Terlihat gerakan tangannya ke depan layar. Sejenak kemudian yang Ve tatap hanya layar yang gelap.

Ve memasukkan laptopnya ke dalam tas. Ia mengumpulkan buku-bukunya yang berserakan. Sebentar lagi sudah waktunya ia berangkat ke kampus. Prof. Chiang sudah menentukan jadwal bimbingannya, dan sebaiknya ia mengikutinya, jika tidak ingin menunda progress thesisnya.

Di Jakarta masih jam 6 mestinya. Kasihan juga Bagas harus ia bangunkan pagi-pagi, hanya untuk bercakap lewat video chat. Tadi malam Bagas pulang jam sebelas katanya. Project baru ini telah menyita waktunya. Tapi, syukurlah ia mau-mau saja menerima panggilan video chat dari Ve.

Ve menyelempangkan tali tas ke bahu, mengangkat empat buku, dan membuka pintu flatnya. Tepat saat seorang pria, selalu dengan polo shirtnya, akan menekan bel pintunya.

‘Halo Ve!’ sapanya ceria. Wangi sabun samar tercium dari tubuhnya. Ransel hitem menggelantung di bahu tegapnya. Ve harus menengadahkan wajahnya untuk menatap kedua binar itu.

Ve agak heran, namun tak bisa ia sembunyikan senyumnya.

‘Hei Joy! It’s a suprise you’re here. I didn’t say anything to you, eh?’ Ve melangkah keluar dan mengunci pintunya.

‘Iya, tapi kebetulan jadwal ngajarku pagi. Sekalian Ve,’ ujar Joy berusaha meyakinkan alasan kunjungannya.

Ve mengedikkan bahunya. ‘It’s OK. Shall we?’ Joy mengangguk. Ia mengambil alih buku yang dibawa Ve. Selalu begitu. Setiap bertemu Ve, ia akan langsung mengambil alih apapun yang merepotkan gadis mungil itu? Mereka bergegas menuju halte. Ve harus agak berlari kecil mengimbangi langkah-langkah besar Joy. Bis memang datang setiap sepuluh menit, namun tak semua menuju ke Science and Engineering Faculty yang letaknya agak terpisah.

*
‘Gimana tadi, Ve?’ Joy menanyai Ve sambil menyantap sandwich bekalnya. Disodorkannya kantung kertas coklat pada Ve. Sengaja ia buat dua tadi, tahu bahwa Ve pasti tak sempat menyiapkan makan siangnya.

Sambil mengambil jatahnya, Ve duduk santai di rerumputan taman. Beberapa mahasiswa ada yang nampak serius membaca di bangku taman. Namun lebih banyak yang duduk di rumput, ataupun merebahkan badannya menatap langit yang cerah. Joy duduk bersila dengan buku terbuka di kedua kakinya. Ia ada jadwal mengajar undergraduate jam satu nanti.

‘Kalau aku bisa memenuhi target Prof. Chiang, bulan depan bisa oral defence,’ kata Ve tenang. Dikunyahnya rotinya perlahan. Joy selalu bisa memadurasa sehingga sandwichnya enak dan tak membosankan. Kali ini selai kacang dan taburan almond rupanya.

‘Semoga lancar ya Ve,’ kata Joy tulus. ‘Setelah itu, balik Indo?’

Ve terdiam. Lalu ia mengangguk. ‘Pilihannya cuma itu kan Joy,’ katanya mengingatkan.

‘Pilihannya banyak, tapi kamunya yang ngga pernah pertimbangkan. Stay di sini, bisa kan. Apply kerja di perusahaan IT, atau…berkarir sepertiku? Ngajar dulu, jadi asisten, sambil apply beasiswa Ph.D. Bisa kan, Ve? Sayang lo, GPAmu selalu tinggi kan? Pasti para profesor itu sudah notice kamu.’

Ve diam. Ia tahu, masa depan cerah terpampang di depan mata. Namun sebenarnya ia pulang untuk Bagas, yang sudah setia menunggunya. Melepasnya lebih setahun yang lalu, untuk menempuh pendidikan masternya. Kini, ia balas kesetiaan itu dengan tidak kembali?

‘Bagas ya?’ Joy menebak dengan cepat. Ia selalu ingin menutup telinganya jika Ve mulai membicarakan tunangannya, tapi jika akibatnya adalah ia tak bisa menatap lagi wajah manis itu, maka lebih baik ditahannya perasaannya.

Ve mengangguk. Associate professornya ini, telah membantunya sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di Brisbane. Bertemu di student center, saat itu Joy masih assistant professor, dengan mudah Ve melewati masa adaptasinya di kota yang baru. Jauh dari hiruk pikuk Jakarta, tempat ia menyelesaikan sarjananya, dan kemudian mendapatkan beasiswa ke kampus yang ingin ditujunya.

Sejak awal ia sudah menceritakan, ia punya Bagas. Joy sendiri nampaknya tak keberatan setiap Ve menceritakan tunangannya itu. Tapi entah, somehow, Ve merasa kadang Joy sengaja mengalihkan pembicaraan jika Ve mulai menceritakan kegiatan Bagas di sana.

‘Apakah masa depanmu adalah Bagas? Bukankah kau yang harusnya menentukan, akan menjadi seperti apa dirimu kelak?’ Tak ada nada mengancam di sana. Bahkan kesannya adalah seorang nasehat kakak kepada adiknya.

Ve tersenyum. ‘Masa depanku adalah Bagas, Joy. Ia telah menerimaku apa adanya, memperjuangkanku di depan Bapak Ibunya. Kau tahu, sebagai orang Jawa, mereka memperhitungkan bibit bebet bobot. Hidupku yang hanya ditopang Oma, tentu tak bisa memenuhi keinginan mereka akan calon mantu yang setara derajatnya. Tapi Bagas tak peduli itu. Ia menyayangiku apa adanya.’

Joy membelai rambut Ve lembut. ‘Ya sudah kalau kau sudah tentukan. Yang pasti, kini tanggung jawabku supaya kau bisa cepat selesai. Supaya kau bisa cepat kembali ke Jakarta, menemui Bagasmu.’

Ve membiarkan tangan Joy menelusuri rambutnya. Tak apalah, ia sendiri tak enak hati tak dapat membalas kebaikan Joy selama ini.

*

‘Oral defencenya minggu depan honey. Bisa datang?’ Ve menatap pria dengan tatapan tajam di seberang. Sepertinya ia nampak lelah, bagian bawah matanya berwarna agak hitam. Ve harus ke kampus jam 8, jadi pagi-pagi benar Bagas ia bangunkan.

Bagas menjawab malas. ‘Ngga bisa. Aku ada meeting di Singapur hari-hari itu. Klien penting. Pak Dirut hanya mempercayakannya padaku.’

‘Jadi..ngga bisa ya Gas?’ kata Ve lemas. Dukungan dari Bagas, saat ujian akhir seperti itu sungguh ia butuhkan.

‘Ngga bisa honey. Lain kali jadwalnya kasih ke aku lebih awal dong,’ kata Bagas sekenanya sambil menguap.

Hampir Ve menangis mendengar jawaban itu. Masih untung jadwalnya bisa bulan depan, karena menyatukan jadwal 4 penguji tidaklah gampang. Baru pada saat-saat akhir ia bisa mendapatkan kepastian, tanggal 25 bisa dilakukan ujian.

Tapi ia merasa percuma menjelaskan itu pada Bagas yang lagi-lagi kembali menguap.

‘Ya udah deh,’ kata Ve mengalah, ‘tapi graduation, bisa datang kan?’ Pikirannya mulai kalut. Kini ia harus berjuang sendiri.

‘Diusahakan ya sayang…’ Dengan jawaban mengambang seperti itu, Bagas menyudahi pembicaraan. Selanjutnya adalah gelap. Yang Ve tatap kini adalah layar yang kembali pekat.

*
IndriHapsari
Gambar : picstopin.com
Inspirasi : artikel mbak D – Rumahkayu

Advertisements