Perdana 100 Ribu, Yeay!

20130717-033638.jpg

‘Nomor teleponmu berapa?’

‘Euh…ntar ya Bu,’ sibuk menekan tombol-tombol di ponselnya, untuk mencari nomor teleponnya sendiri. Iya, sendiri. Karena keseringan ganti-ganti nomor, mengikuti promo terbaru, maka nomor sendiripun tak ingat. Bahkan kadang ngga nyadar juga nomornya berapa, karena yang penting providernya.

Kali lain ada text dari nomor tak dikenal, yang menyampaikan saya memenangkan Nissan Juke (ini mah Joke), sempat juga diganti Avanza, uang berjuta-juta, dan jangan luap..Mama minta pulsa! Akhir-akhir ini malah tambah mesra, diawali dengan kata ‘Yang’. Untung saya inget belum punya cucu.

Provider telekomunikasi memang mendukung acara ganti-ganti nomor ini karena dapat melaporkan keadaan yang super lebay ini, sebagai tingkat konsumsi pengguna jasanya. Laporannya kan ‘Pengguna Ngibulsel mencapai 125 juta’. Edan kan, separo Indonesia tuh! Padahal entah berapa persen yang modelnya satu pelanggan banyak kartu, karena model gonta ganti itu. Perdana dijual sangat murah, tiga ribu, bahkan kemarin teman saya bawa segok perdana, ‘untuk dibagi-bagikan’. Nah!

Selama ini Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengharuskan pelanggan untuk mendaftarkan identitasnya, agar terdata nomor ini pemiliknya siapa ke 4444. Tapi pelaksanaannya di lapangan, kalau saya beli perdana, penjualnya akan bertanya, ‘Mau saya aktifkan Bu?’. Dan dalam sekejap nomor saya sudah aktif, entah dia isi apa di data saya tersebut. Pernah juga saya coba, asal diisi, tidak ada warning atau apapun atas isian yang asal. Misal nama, isi aja ‘A’, alamat, isi aja ‘B’. Jadi jangan heran kalau strategi ini ngga berhasil, memperlambat 5 menit iya.

Lalu berita dari Bisnis Indonesia 16 Juli 2013 menyatakan revisi Peraturan Menteri terbaru, dengan menetapkan harga minimal perdana, tanpa terisi pulsa adalah Rp 100.000,-. Jadi ceritanya beli nomor saja, harganya segitu. Dari sisi penipu, ya dia mesti lebih bermodal untuk beli nomor. Untuk yang bukan penipu, ya tambah ngga rela kalau nomornya hangus. Belinya mahal je!

Lalu yang saya tunggu, saya ingin tahu apakah persentase pertumbuhan pengguna Ngibulsel bakal berkurang gara-gara aturan tersebut? Strategi apa yang akan mereka lakukan tanpa melawan peraturan pemerintah, mengingat selama ini banyak promo yang mereka terapkan untuk ngeles, atau memanfaatkan celah pada aturan tersebut. Ga apa, namanya juga inovasi dan kreasi. Kemudian, yang tak kalah menarik, bagaimana bentuk penipuan terbaru? šŸ˜€

Let’s see….

***
indrihapsari
Pinterest.com

Advertisements