Statusmu, Harimaumu

20130619-225624.jpg

Teman saya sampai puya dua akun Facebook untuk mendukung kepantasan suatu status ditayangkan. Untuk teman-teman di akun pertama, ia bebas menuliskan kegiatan dan curahan hatinya. Untuk akun yang kedua, ia lebih menjaga postingannya, dan hanya mengeluarkan pernyataan -pernyataan yang ‘berguna’ *sumpe de, jadi inget orde baru*.

Tulisan di media sosial, meski hanya berupa rangkaian beberapa kata, bisa menjerumuskan kita di dalam persoalan. Masih ingat kan, berita di koran atau infotainment, tentang pesohr yang dituntut karena status Twitternya yang menghina pihak lain. Akhirnya status Twitter itu dijadikan alat bukti di pengadilan. Haduuuh….

Sebabnya ya gitu deh, demokrasi yang kebablasan. Kalau dulu hanya dibicarakan di kalangan internal, warung kopi misalnya, sekarang ini teknologi menyebabkan orang mudah mengungkapkan perasaannya pada dunia. Apa saja, sampai ngga dipilah mana yang perlu diketahui semua orang, mana yang tidak. Akhirnya informasi mengalir dengan deras. Kalau ibarat prosesor, mungkin dia sudah Pentium 7.

Orangpun dapat menebak, kepribadian kita bagaimana hanya dari status saja. Entah bener entah ngga, yang penting ada buktinya, yaitu status kita yang top markotop itu. Menjadi gawat ketika hasil tebakan digunakan untuk mengambil langkah berikutnya. Misalnya memutus tali persahabatan, menuntut di pengadilan, atau dipecat dari tempat kerja. Namanya saja orang cari makan dengan cara menumpang usaha orang lain, masa’ sih kita balas dengan menyebarkan keburukannya pada dunia? Lebih baik diselesaikan internal saja.

Teknologi yang ada, sebaiknya digunakan untuk hal-hal yang berguna. Demikian juga dengan pasang status dan sebagainya. Telisik dulu perlu ngga sih ditayangkan dan disaksikan oleh jutaan mata.

***
Foto : pinterest.com

Advertisements