Panas Bumi, Kenapa Tak Disukai?

pinterest.com

pinterest.com

 

Heran ya, sudah tahu bahan bakar fosil bakal habis bis, masih keukeuh ngga mau menggunakan energi alternatif, atau mencoba berhemat dengan SDA yang masih ada, dengan ngirit. Maka, wacana untuk menaikan BBM itu sebenarnya OK lo, kalau implementasinya sesuai rencana.

Apa aja? Ya kita ngga bisa main naekin harga tanpa mempersiapkan efek yang akan terjadi. Ada masyarakat yang harus dilindungi, masyarakat yang memang memerlukan subsidi. Ah ya, bayangin aja para nelayan yang ngga bisa melaut gara-gara ngga kuat beli solar. Untuk merekalah harusnya subsidi itu diberikan. Entah dengan pengetatan pembelian BBM (misal yang bisa menunjukkan ID nelayan boleh beli murah. Tentu bisa kalau pendataan kita sudah bagus, plus sanksi tegas yang berani make bukan untuk berlayar, tapi dijual kembali.) Atau berikan kail, bukan ikan. Subsidinya bisa tuh bantuan untuk kapal baru, peralatan baru, atau sarana pelelangan ikan, boleh juga kalau dibuat seperti kawasan wisata, biar ibu-ibu nelayan bisa berdaya guna.

Itu kalau beneran subsidi yang dihemat dimanfaatkan untuk kegiatan yang lain. Saya sendiri kurang setuju dengan Bantuan Langsung Tunai, karena fresh money yang diberikan. Cuma habis buat konsumsi. Mending dibuat pendidikan gratis, kesehatan gratis, pembangunan sarana perpustakaan, atau pemberian vitamin gratis buat anak-anak. Hei, masih banyak dari masyarakat kita yang hidupnya menyedihkan, tapi ngga bisa gerak karena bingung dengan segala himpitan.

OK, balik lagi ke panas bumi. Dari seminar yang saya ikuti, sumber panas bumi Indonesia, terutama di Pulau Jawa, itu buuaaanyak. Jadi, sudah berlimpah, gratis lagi! Bisa dieksplorasi, lalu dimanfaatkan untuk energi listrik.

Sayang ide ini sering mentah. Bahkan dari konvensi panas bumi yang saat ini sedang diadakan di Jakarta (Bisnis Indonesia, 13 Juni 2013) hingga 14 Juni 2013 ini, ada puluhan pembangkit listrik tenaga panas bumi yang gagal beroperasi. Waduh, padahal invest ngga sedikit, dan menciutkan niat investor lainnya.

Ternyata, ada beberapa sebab. Yang pertama adalah penerimaan masyarakat. Entah mata duitan, entah ketakutan dengan efek yang terjadi. Beneran ini, ada satu daerah di Indonesia, yang bupatinya minta jatah kalau didirikan PLT, eh terus DPRDnya juga minta! Ya amplop, masih kurang tuh nyawer sana sini? Padahal ini untuk kepentingan rakyat lo! Malah rakyat dimobilisasi untuk demo, menuntut digagalkannya proyek ini.

Sama lah dengan nuklir. Haduh, jangan terlalu parno deh! Hampir semua negara maju, menggunakan nuklir karena ia relatif murah dibuat, dengan hasil yang awesome. Satu PLT Nuklir bisa menggantikan 100 PLTA! PLTNnya 1000 MW, PLTAnya 10 MW. Lumayan toh? Apalagi air kini ya langka, disedotin terus jadi AMDK, dengan hanya sedikit usaha menjaga keberlangsungannya.

Nah, apa ngga amazing? Tapi karena ketakutan dengan radiasinya, gagal mulu itu rencana. Jadi mikir, trus jurusan teknik nuklir, sekolah khusus nuklir itu gunanya apa dong? Lagian lo, tragedi Chernobyl juga ngga terulang, karena teknologi, sekali lagi, teknologi, sudah mengurangi kemungkinan itu semua.

Yang kedua mengenai harga. Kurang menarik kali ya harga yang ditawarkan PLN, sehingga investor sedikit yang berminat bermain di sini. Karena itu kata Menteri ESDM Jero Wacik, rencananya akan ditetapkan Harga Eceran Tertinggi. Jadi inget obat 😛 Intinya, supaya harga bisa dikendalikan, PLN terbantu, investor juga ngga buntung.

Kalau secara lokasi sih, udah ada pemetaannya dari dulu, nara sumber seminar waktu itu, satu dosen dari Teknik Geologi di ITS Surabaya, bisa memaparkan lokasi-lokasi, plus prediksi berapa listrik yang bisa dihasilkan. Secara teknologipun bisa dipelajari. Pemerintah daerah juga ada yang mendukung. Contoh Pemprov Jatim pernah menawarkan pembangunan PLT Panas Bumi, dengan lokasi yang sudah disiapkan. Tinggal ngajuin tender aja.

Tapi ya gitu, yang sederhana dibikin ribet. Yang simple dibikin mbulet.
***
IndriHapsari

Advertisements