Disuntik, Bikin Traumatik

20130521-233553.jpg

Kalau disuruh memilih, minum obat atau disuntik supaya sembuh, saya pasti akan memilih minum obat. Biarin deh, dibilang lama sembuhnya atau lebih manjur dengan suntikan karena langsung masuk ke pembuluh darah, pokoknya kalau ada opsi, ya lebih baik dihindari.

Sejak kecil, saya paling ngeri kalau disuntik. Bukan masalah vaksinasi, karena jaman dulu jenis vaksinasinya ngga sebanyak anak jaman sekarang. Tapi saya pernah sakit campak, yang menyebabkan saya harus disuntik setiap hari. Itu keputusan Bapak saya, yang kebetulan seorang dokter.

Pintarnya, Beliau tidak mau, atau tidak tega, menyuntik anak sendiri. Ya jelas lah, saya yang masih imut begitu, bisa mengamuk luar biasa begitu melihat jarum suntik. Karena itu tugas yang mesti jadi raja tega tersebut diserahkan ke mantrinya.

Jadilah hari-hari itu penyiksaan betul buat saya. Setiap pagi, begitu mendengar bel di pintu berdering, saya langsung sembunyi, meski Ibu selalu bisa menemukan saya. Atau di lain waktu saya akan pura-pura tidur, saya mengira pasti ngga tega deh ngebangunin. Eh, ternyata memang ngga dibangunin, tapi langsung dibopong ke hadapan Pak Mantri!

Dan dramapun dimulai. Ada adegan menjerit-jerit, menangis, dipegangi dan memegangi, berakhir dengan saya ngibrit ke kamar ketika ritual selesai. Tentu saja Pak Mantri masuk daftar hitam saya, sebagai orang yang paling harus dihindari, bahkan puluhan tahun sesudahnya! Sesuatu yang dengan pintar telah Bapak saya hindari, dibenci anak sendiri.

Kalau melihat anak saya sekarang, kok persis ya. Dalam satu sesi pengambilan sampel darah, anak saya akhirnya ditidurkan setelah posisi duduk tidak bisa menenangkannya. Lalu deja vu, ada kenangan yang terulang. Mbak perawat kesulitan menenangkannya, akhirnya dipanggilah perawat pria. Anak saya digulung dengan selimut, dengan satu lengan menjuntai untuk diambil darahnya. Dengan mas perawat memegangi bagian bawah, sedang saya bagian atas, akhirnya dapat juga sampelnya. Itupun penuh dengan teriakan dan permohonan, untuk menyudahinya. Aih, macam sinetron saja!

Sampai sekarang pun, saya cuma bisa meringis begitu mendengar kata ‘suntik’. Oh ya, meski sudah besar, saya masih merasakannya. Waktu operasi dan melahirkan. Kali ini untuk anestesi, di tulang belakang. Kalau yang ini, wuaduh, saya cuma bisa menjerit dalam hati.

Advertisements