Kartu Prabayar, Kerjasamalah!

20130512-205411.jpg

Saat beberapa tahun lalu teman saya pulang dari studi doktoralnya di Inggris, Beliau menceritakan tentang fenomena penggunaan kartu prabayar (electronic money) di sana. Dari hasil penelitiannya, kebanyakan pengguna kartu prabayar adalah mereka yang tidak memiliki kartu kredit atau kartu debit. Positioningnya sudah jelas, untuk mereka yang enggan menjadi nasabah bank tertentu dan ingin mendapatkan waktu transaksi yang lebih singkat.

Di Indonesia ternyata berbeda. Berdasarkan hasil penelitian Beliau, pemilik kartu prabayar adalah mereka yang juga memiliki kartu kredit dan kartu debit. Entah karena nasabahlah yang mempunyai akses tercepat dan terdekat dengan pihak marketing bank, atau memang karakteristik orang ada yang suka dengan segala sesuatu yang berbau praktis dan modern, ada yang old school dan ketakutan akan kejahatan segala bentuk elektronik dan kartu-kartuan.

Bank Central Asia (BCA) sebagai bank pelopor penerbit kartu prabayar di Indonesia sudah mensosialisasikannya sejak tahun 2008. Waktu itu saya membacanya dalam sebuah advertorial, perbandingan waktu transaksi antara membayar dengan uang tunai, dengan kartu kredit, kartu debit dan Flazz, sebagai kartu prabayar terbitan BCA.

Membayar dengan uang tunai memakan waktu lama karena ada proses menghitung uang pembayaran, memeriksanya asli atau tidak, mencari dan menghitung kembalian. Belum masalah pembulatan, atau tuduhan terhadap kasir sebagai penyebab rusaknya gigi pelanggan.

Kartu kredit memerlukan waktu transaksi untuk mengetikkan jumlah transaksi di mesin gesek, dan perlu bukti tanda tangan pemilik kartu. Kartu debit selain perlu waktu pengetikan jumlah transaksi, juga perlu PIN untuk mengaktivasi. Itu semua masih ditambah dengan lamanya waktu koneksi ke pusat data, dan mesin yang kadang tak mau membaca.

Nah, kartu prabayar ini (diharapkan) berbeda. Chip yang ditanamkan bisa mengotorisasi pengurangan saldo dalam kartu, tanpa perlu terhubung ke pusat data. Tak perlu tanda tangan atau PIN, apalagi cari recehan, semua bisa terselesaikan dalam hitungan detik.

Itu yang saya baca. Belum membuat saya tertarik untuk memilikinya, mengingat kartu prabayar ditujukannya untuk transaksi – transaksi kecil, yang rasanya bawa tunai masih muat deh di dompet saya. Batas satu kartu hanya satu juta rupiah, dan saya masih ngeri dengan sifatnya yang otomatis tersebut. Serasa dapat kartu runtuh (temannya durian runtuh) jika menemukan kartu tersebut di jalan.

Akhirnya saya punya pun karena gratis ketika ada program di Gramedia. Kartu yang saya punya memiliki lambang toko buku tersebut, dan berlaku juga sebagai kartu diskon untuk buku-buku terbitan Kompas Gramedia. Lainnya kalau sedang ada program, bayar parkir cukup 1 rupiah, diskon puluhan persen untuk pembelian barang maupun makan, atau dapat poin.

Pengalaman saya sebagai pengguna, cukup beragam. Kalau di Surabaya yang termasuk kota besar, para kasir sudah terdidik dan terbiasa menggunakannya. Proses lancar jaya, kecuali bagian mengetikkan nomor kartu prabayar di komputer kasirnya, entah ya, mungkin sebagai upaya proteksi terhadap penipuan.

Kalau ke luar kota, sekitar 60an kilometer dari Surabaya, kasirnya masih gagap teknologi dengan keberadaan kartu ini. Padahal mesin – mesin kartu di depannya sudah lengkap, termasuk mesin untuk kartu prabayar ini. Setelah waktu dihabiskan dengan mengetik ini itu di komputernya, berikutnya menunggu temannya yang kelihatannya lebih bisa datang, dan berakhir dengan saya yang menyerah membayarnya secara tunai.

Pergi ke ratusan kilometer lainnya, saya masih mencoba menggunakan kartu prabayar di jaringan toko yang sama. Merasa excited karena melihat mesin kartu tersebut di meja kasir, tapi pulang dengan masgyul karena ternyata ‘Mesinnya ini untuk bank lain, Mbak.’

Ah, jadi inget deh saya mau ngomel apa lagi. Kartu ini ya, dulu masih bisa untuk bayar tol. Sekarang, rupanya kuasanya sudah pindah ke bank lain, jadi kartu saya tak bisa digunakan. Kok ya tega, mesinnya saja sama, tinggal ganti datanya, mestinya kan bisa dipakai bersama. Yang satu menguasai perparkiran, yang satu menguasai pertolan. Kenapa ngga kerjasama saja, seperti kapan hari masalah transfer antar kedua bank, akhirnya bisa akur juga kan? Lalu transfer teknologi juga dong, biar kalau mau top up tidak perlu ke ATM Non Tunai, tetangga tuh, pakai ATM biasa saja sudah bisa.

Kerjasama itu indah.

20130512-205519.jpg

Referensi:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/05/08/15133998/Bank.Mandiri.dan.BCA.Mau.Akur.Asalkan.
http://cauchymurtopo.wordpress.com/2013/03/17/trend-kartu-prabayar-sebagai-pengganti-uang-dalam-pembayaran/
Pictures: pinterest.com

Advertisements