Togel

20130424-014757.jpg

11.00

Panji sudah berteriak-teriak ingin makan. Umurnya sih masih dua tahun, tapi teriakannya sungguh cetar membahana. Kutitipkan Panji pada Ibu, sebelum ku melangkahkan kaki ke warung.

Siska, si janda muda sedang berkoar-koar di depan para tetua kampung. Para ibu yang telah lanjut usia itu, memang punya kebiasaan nongkrong di warung Mak Ijah pada siang hari. Nanti sorean sedikit sampai malam, giliran para lelaki.

Siska, tentu biasanya mengambil shift malam, berhubung ia sering ditanggap penggemarnya di sana. Menikah lima tahun, sebelum dicerai oleh suaminya yang pengusaha besi tua. Dari tak punya apa-apa, diangkat derajatnya menjadi nyonya pengusaha, kini ditinggalkan sendirian, dengan seorang anak dan tanpa tunjangan.

Tak heran bila ia nampak stress.

Dilampiaskannya dengan bicara apa saja, keras-keras, yang penting menarik perhatian. Belum ditambah dengan gerak tubuhnya yang semok. Meski berkulit gelap, Siska tampil percaya diri dengan sering menggunakan baju ketat atau terbuka, salah satu atau salah dua, dan menggoyang-goyangkan badannya dengan atraktif. Untuk para kaum wanita saja dia sudah cukup menghibur, apalagi untuk kaum pria.

‘Aku ni bosan miskin la!’ katanya memulai propagandanya tentang anti kemiskinan. Hanya dia yang berdiri di tengah, area favoritnya, sementara yang lain duduk di bangku panjang yang tersedia. Aku sendiri mengamatinya dari sudut mataku, sambil menunggu Mak Ijah melayaniku.

‘Aku mau la pelihara tuyul. Kukasih makan, mainan, biar dia betah di rumahku. Lalu tiap malam, saatnya mereka cari uang untukku.’ Ia kini menunjukkan muka puas seakan para tuyul sedang membawakannya hasil jarahannya.

‘Hati-hati Sis!’ kata Mak Markonah, satu tetua yang hobi menasehati yang muda-muda, meski tidak diminta. ‘Tuyul ya perlu tumbal. Bisa-bisa makmu yang jadi tumbalnya, atau anakmu!’

Siska tertawa mengejek. ‘Itu jaman dulu la! Jaman sekarang, tuyul juga lihat situasi. Aku ndak mau jadi pemilik tetap mereka. Aku cuma menyewa! Sebagai penyewa, aku berhak menghentikan kontrakku kapan saja. Kalau aku mau miskin, ya aku stop. Kalau aku ingin kaya, aku sewa lagi. Lalu yang pasti, aku ngga perlu tumbal keluarga untuk bisnisku ini.’ Aku mengeryit. Memelihara tuyul rupanya sudah merambah ke khasanah enterpreneurship.

‘Ndak mungkin Sis!’ seru Mak Markonah geram. Oya, satu lagi cirinya, jangan pernah membantah nasehatnya, yang tanpa diminta tadi. Bisa sewot berat dia. ‘Pasti ada tumbalnya!’

Siska tertawa. ‘Ya, tapi bukan Mak atau anakku, tapi..’ dia terdiam sejenak, sebelum melanjutkan ocehannya. ‘…semua mbah yang ada di sini!’. Semua ibu itu memandangnya. ‘Daripada di rumah nunggu mati, mending dipercepat saja.’ Aku mulai meragukan kewarasan Siska. Detik berikutnya yang kutahu, para ibu itu dengan cepat mengemasi belanjaannya, kemudian berlalu tanpa pamit. Mak Markonah pun ikut pergi dengan wajah yang geram.

Mendadak sepi.

Siska tersenyum sinis. Dengan satu gerakan atraktif, dia meninggalkan medan pertempuran.

Aku mendesah. Kupandangi Mak Ijah yang juga masih terpana.

‘Mak, mie instan dua, rasa soto’

***
12.30

Keheranan aku melihat Mas sudah tiduran di sofa. Kakinya yang panjang menggantung di ujung, sementara ujung satunya ditindih kepalanya. Nyaman sekali nampaknya.

‘Ndak narik Mas?’ kataku sambil mempersiapkan lembaran-lembaran kain lusuh untuk alas setrika. Ruang tamu aka ruang keluarga aka ruang setrika ini memang multi fungsi. Tempat duduk hanya sofa yang sekarang ditempati Mas. Kegiatan lain silakan dilakukan di lantai semen ini.

‘Nanti siang saja Dik. Jam segini penumpang masih sepi. Anak-anak sekolah belum pulang.’ jelasnya sambil memandang langit-langit.

Aku menancapkan colokan setrika, dan mulai mengambil baju-baju dari keranjang, hasil mengambil dari jemuran.

‘Dik, kopi dong.’ kata Mas tanpa menoleh padaku.

‘Pakai gula?’ tanyaku sambil mulai menyetrika baju.

‘Ya iya dong Dik! Sejak kapan aku jadi penggemar kopi pahit?’ katanya sambil mengernyit sebal.

‘Ndak ada gula Mas.’ kataku singkat.

‘Ya beli dong!’ serunya kesal.

‘Duite?’ kataku tetap tenang. Menghadapi Mas ini jangan ikut emosian. Sabar saja, lama-lama ia akan kalem sendiri.

‘Loh? Duit yang Mas kasih kemaren, mana?’

Aku memandangnya untuk memastikan dia sedang tak bercanda. ‘Kemarin? Minggu lalu iku Mas! Wis entek! Habis! Mas ya ngasihnya cuma segitu. Ndak cukup buat beli gula lagi.’ jelasku.

Kini Mas terduduk. Tangannya menggaruk rambutnya yang tak gatal.

‘Gitu yah? Kirain cukup. Ya udah, makan aja deh.’

‘Saya ndak masak buat sampeyan, Mas.’ jawabku sambil melipat baju. ‘Tadi Panji, Ibu, sama aku sudah masak mie. Soalnya ndak ada uang buat belanja. Jadi ngutang dulu beli mie instan di warungnya Mak Ijah.’

‘Walah Dik, kok pake hutang segala. Ya sudah, aku cari makan dulu deh. ‘ Mas mengeluarkan dompet bututnya dari saku celana. Dikeluarkannya semua yang ada di dompetnya. Selembar lima ribuan, tiga lembar seribuan, dan uang lima ratus rupiah sebanyak 4 keping.

‘Wah pas, ada sepuluh ribu!’ katanya gembira. Aku diam saja, setidaknya dengan begini ia akan lebih tenang.

Kemudian ia terdiam. ‘Nanti siang jam dua undian togelnya mau ditutup. Apa aku pasang dulu aja ya?’ katanya pelan.

Aku menatapnya bingung. ‘Mas! Katanya tadi mau beli makan. Sekarang jadinya beli togel?’ kataku mengingatkan.

Sambil memasukkan kembali uangnya ke dompet, Mas menjelaskan dengan cepat. ‘Mumpung Dik. Aku sudah merasa, bakal dapet kayanya kita. Waktu aku dapat angka itu, hatiku bilang, ini angka ajaib. Rugi kalau aku ngga masang. Kalau aku dapat, hasilnya enam ratus ribu lo Dik. Kamu dan Panji mau makan apa saja, akan kuturuti. Siap-siap ya. Pengumumannya habis maghrib.’ Kini Mas sudah berdiri, bersiap untuk pergi.

‘Siapa to Mas, yang ngasi nomor itu?’ tanyaku penasaran.

‘Wak Gimin. Nol satu, katanya.’ kata Mas sambil berlalu. Dipakainya helmnya, dan dengan segera distaterlah motornya. ‘Aku narik dulu Dik!’ kemudian ia melaju pergi.

Sambil menyetrika aku berpikir. Wak Gimin? Sesama tukang ojek itu? Bagaimana ia tahu nomor togel yang akan keluar ya? Yang lebih penting, kenapa ia tak pasang untuk dirinya sendiri?

***
18.30

Malam ini warung Mak Ijah ramai sekali. Ada golongan ibu-ibu, yang serentak diam saat melihat Siska datang. Aku sendiri sedang duduk bersama mereka, dan untuk sekejap merasakan ketegangan di antara kami. Namun ada golongan bapak-bapak, yang istri – istrinya tak sedang bersama mereka, langsung bersiul-siul menyambut Siska. Coba ya, kalau ada istri-istri mereka, masih berani ngga bersikap seperti itu? Suasana langsung cair. Apalagi godaan para lelaki itu cukup lucu meski agak saru, yang ditanggapi Siska dengan percaya diri tingkat tinggi.

‘Sis! Ikut togel?’ seru Pak Bambang.

‘Ikut Pak! Bapake anakku tadi siang datang. Ngasih lima ratus ribu buat keperluan anakku. Tumben to ya? Wis aku pikir kesempatan langka aku punya duit akeh, aku pasang semua. Nanti kalau menang, anakku bisa dapat duit lebih banyak. Ndak usah ngemis nang bapake.’

‘Nomor piro Sis?’ kejar Pak Bambang. Hmm, number one fans rupanya.

‘Kosong tujuh Pak. Nomor apik to? Waktu bapake pamit, aku lihat plat nomor mobilnya kok apik. Aku pasang. Semoga dapat.’ Siska kini kembali berada di tengah, dikelilingi para ibu yang nampak cuek, tapi memasang dengan baik telinganya, serta para bapak, yang tidak menyembunyikan tampang ingin tahu mereka.

Sebuah sepeda motor datang, parkir di depan warung Mak Ijah. Mas. Kelihatannya agak limbung saat turun dari motor. Pasti karena belum makan sedari siang.

‘Dapat berapa Mas?’ tanyaku menyapanya saat ia lewat di depanku. Ia menggeleng. ‘Tadi habis masang aku ke rumah Wak Gimin. Ngobrol. Sempat ketiduran segala. Bangun – bangun sudah sore.’ Aku mendesah. Berarti Mas belum dapat uang. Entah besok bagaimana kami akan makan. Ngutang?

Lalu datanglah Pak Totok. Serentak semua memandangnya. Si bandar togel datang! Maspun berdiri mematung. Ini saatnya pengumuman!

‘Pak Totok!’ seru Siska menyambut dengan gembira. ‘Yak apa Pak? Nomor berapa yang keluar?’

‘Sabar Sis.’ sapa Pak Totok sambil tersenyum. Sejenak aku sempat melihat cahaya keemasan dari sela-sela giginya. Menarik perhatian, selaras dengan kilau cincin akik yang dipakainya.

‘Yang sekarang ini kejutan. Ada yang dapat … tiga puluh lima juta!’ Semua orang tercekat. Jumlah yang besar!

‘Nomornya…’ Pak Totok berhenti sebentar. Persis acara pengumuman lomba nyanyi di tivi, yang seenaknya memutar iklan saat penonton tegang hendak menanti pengumuman. ‘Kosong…’ Pupil mata membesar. Mulut terbuka. Nafas tertahan.

‘Tujuh!’

Bruk!

Semua orang kaget. Siska, pingsan di tempat dengan sukses. Akhirnya jadi janda kaya juga dia. Tuyulnya mulai bekerja?

Bruk!

Suara jatuh yang kedua. Mas. Kalau yang ini, karena belum makan.

***

20130424-014925.jpg

Advertisements