Menulis Itu…

Hobi saya dulu, membaca, ternyata harus dilanjutkan dengan hobi baru, yaitu menulis. Kalau dulu hasil bacaan menjadi ucapan, sekarang menjadi tulisan. Dan karena mengharuskan diri sendiri untuk menulis minimal sehari sekali, banyak hal baru yang saya dapatkan dan nikmati. Semoga sharing berikut bisa menambah informasi.

You’re A Writer.

Embrace the ‘ecstacy’ of writing. Follow your heart, not the market.
Menulis itu lakukan dengan gairah dan kesenangan. Karena pembaca dapat merasakan suatu tulisan dibuat dengan penuh semangat, atau malas-malasan. Ditulis dengan terpaksa, atau dengan gembira. Menulis untuk pasar? Ah, kelemahan saya adalah tidak bisa. Kalau ada yang bisa, dan kualitasnya bisa tetap sama dengan artikel yang ditulis dengan hati, salut deh 🙂

Writers write, so make time for it everyday.
Menulis itu lakukan tiap hari. Mungkin ada yang menganggap menulis ini masuk area seni, sehingga ada unsur menunggu inspirasi dan mood. Kalau saya pribadi berpendapat, kedisiplinan untuk menulis itu perlu. Kesannya jadi paksaan ya, tapi kalau kita suka, menulis ya menulis saja, ngga ada perasaan tersiksa. Ngga usah mikir karena ngga mood tulisan jadi ngga berbobot. Itu sih masalah mau ditayangkan atau tidak, tapi menulis untuk practice atau latihan, perlu kesungguhan untuk menjadikannya rutin, tanpa menyebabkan kejenuhan atau kebosanan. Inspirasi? Dari mana-mana, terutama dari membaca.

Give back tothe writing community.
Menulis itu membagi. Membagi yang kita tahu, membagi pendapat kita, dan membagi pengalaman menulis. Karena menulis itu tentang berbagi, maka kita juga ingin orang lain juga bersemangat dan menyenangi kegiatan tersebut. Jadi saling menyemangati, saling memberi masukan, saling memberi pujian, adalah hal lain yang harus dilakukan selain aktif menulis. Teman tulisannya makin bagus, kita ikut senang. Teman tulisannya makin asal, kita peduli untuk menyemangatinya kembali.

Read, read, read, read, read.
Menulis itu sama dengan membaca. Tanpa membaca, apa yang mau ditulis? Sumber inspirasi memang datang dai mana-mana, bahkan dari warung kopipun bisa. Tapi untuk menuliskannya kembali, diperlukan data -data yang mendukung, pendapat para ahli, hasil penemuan terbaru dan lain sebagainya. Bagaimana bisa menjamin yang ditulis tidak ngawur kalau tidak membaca terlebih dahulu. Kadang apa yang kita baca tidak muncul begitu saja. Kadang satu kalimat bisa menjadi satu artikel yang kita tulis. Atau sebaliknya, satu buku hanya menjadi satu kalimat dalam artikel kita.

Learn the rules. Follow the rules. Break the rules.
Menulis itu memperhatikan teknik penulisan. OK semua selalu ada permulaan, ada saat kita ngga tahu apa-apa. Tapi setelah itu, harus memacu diri sendiri dengan belajar. Bisa melalui literatur, berdiskusi dengan yang lebih menguasai, atau melihat contoh-contoh penulisan dari para penulis lain. Setelah tahu, apa dicopycat begitu saja? Tidak. Justru disinilah kreativitas bicara. Bermain-main dengan teknik yang ada, mencoba teknik baru, atau memperbaiki teknik lama. Asal pesan tersampaikan, saya rasa tidak masalah. Siapa tahu malah bisa menciptakan tren baru 🙂

Writing is a journey, not a destination. Enjoy the scenery.
Menulis itu proses, bukan tujuan. Jadi jangan buru-buru, nikmati aja alurnya, kebingungannya karena data kurang, kekurang-sreg-nya saat dia dibaca ulang. Nikmati proses keraguan, proses bolak balik bongkar karena ngga pas, atau bete karena adaaa saja yang kurang.

Yang terakhir…
Love What You Do. Write With Joy ^_^

20130309-223817.jpg

Advertisements