Setiap Murid Adalah Unik

Saya paling tidak suka jika ada yang bilang ‘Garbage In, Garbage Out‘ untuk menggambarkan keadaan masukan dan keluaran di sekolah mereka. Istilah ini menurut saya hanya untuk memaklumi keadaan di sekolah yang dianggap buruk karena masukan yang juga buruk.

‘Jadi jangan salahin dong kalau kami menghasilkan keluaran yang buruk, karena pas masuk kita dapat masukan yang buruk kok!’.

Et dah, lalu apa gunanya mereka sekolah di tempat itu, jika tidak ada perubahan dalam kualitas diri muridnya? Sekolahnya dibubarin aja opo piye, supaya jangan ada yang sesat masuk ke sana? Yang internal saja sudah ngga punya harapan dan semangat hidup untuk memperbaiki mutu kok, bagaimana mau menyemangati anak orang supaya lebih meningkatkan kualitas dirinya?

Sekolah, atau pendidikan pada umumnya mempunyai misi untuk meningkatkan kualitas hidup anak didik. Sehingga jika pada awalnya kita mendapat masukan yang kurang bagus, bukan berarti prinsip pendidikan menjadi ‘yang terjadi, terjadilah’ tetapi malah harus digenjot supaya terjadi kemajuan yang menggembirakan.

Tentu saja kita tak dapat membandingkan hasil. Misal kita andaikan saja saya dan Anda mempunyai tujuan pergi ke Jakarta. Saya berangkat dari Surabaya, Anda dari Semarang. Siapa yang sampai duluan, Anda bisa tebak siapa yang menang kalau kami berangkat pada jam dan menggunakan moda transportasi yang sama.

Demikian juga dengan pendidikan. Kalau perbandingan hasil adalah tujuan utama kita, siap-siap kecewa. Sekolah-sekolah favorit memiliki masukan yang, tidak dapat dipungkiri, lebih baik dari sekolah-sekolah ‘kelas dua’ *sorry to say that*. Sekolah favorit bisa menyaring masukannya, plus mengharuskan untuk membayar iuran ini itu dan persyaratan lainnya, karena bargaining power mereka lebih tinggi. Sedangkan sekolah-sekolah lain, cenderung menerima, bahkan harus jemput bola agar mendapatkan murid. Mau menyaring masukan bagaimana? Maka yang masuk akan akan sangat beragam kualitasnya.

Berangkatnya saja sudah beda. Misal murid A pada saat masuk memiliki kemampuan 20, sedang murid B kita nilai 40. Setelah melalui sekian tahun, kemampuan murid A jadi 70, sedangkan B menjadi 80. Siapa yang lebih bagus? Diibaratkan perjalanan tadi, murid B telah berhasil mencapai Jakarta, sedangkan murid A ‘hanya’ sampai Cikampek.

Kalau dilihat dari hasil, murid B memiliki nilai yang lebih bagus dari A. Namun jika kita lihat dari kemajuannya, A memiliki lompatan nilai sebanyak 50 poin, sedang B hanya 40 poin. Atau dalam hal perjalanan, kilometer yang ditempuh antara saya (dari Surabaya – Cikampek) dan Anda (Semarang – Jakarta) akan berbeda. Maka yang dilihat bukanlah hasil, tapi sejauh mana pendidikan mampu memaksimalkan kemampuan seseorang sehingga ia dapat memperbaiki kualitas dirinya, lebih baik dari sebelumnya, bukan lebih baik dari orang lain.

Lalu apa kita menyerah begitu saja dengan keluaran murid yang kurang bisa bersaing dengan rekan-rekannya dari sekolah lain? Kadang tuntutan atas keluaran menjadikan kita sebagai pendidik, civitas akademika yang berhubungan langsung dengan mutu lembaga pendidikan menjadi menghalalkan segala cara. Contoh, untuk lulus Ujian Nasional ada standar nilainya. Untuk masuk kerja ada standar IPK. Jika standarnya adalah 80, sedang murid kita hanya bisa sampai 70, dengan hasil seperti itu tentu tak bisa ia memenangkan persaingan. Ada saja sekolah yang melakukan kecurangan saat ujian, atau menurunkan standar nilai biar kelihatannya muridnya pintar semua. Tentu bukan itu esensi pendidikan. Pendidikan ibaratnya adalah inkubator kehidupan, semua harus serba ideal. Termasuk kejujuran, haus diutamakan. Itulah bekal utama murid selepas mereka keluar dari inkubator tersebut.

Maka seperti ilustrasi saya mengenai seorang yang akan bepergian ke Jakarta, jamnya harus beda, moda transportasinya harus beda. Maksudnya, usaha kita harus lebih keras, lebih serius, harus lebih menyemangati anak didik. Misal jam pelajaran ditambah atau ada ekstra, mengubah delivery method supaya lebih melekat di otak, membuat peer group dan memperlakukan setiap murid secara unik.

Saya tahu hal ini pastilah sulit mengingat sebagai pendidik, kita biasa dihadapkan dengan sejumlah besar murid dalam satu atau beberapa kelas dengan tingkat kemampuan yang berbeda. Mau privat juga ngga mungkin, betapa lama waktu akan habis untuk menangani mereka satu persatu. Maka proses pengajaran biasanya dilakukan secara masal, asumsi murid yang dihadapi berkemampuan rata-rata.

Namun sebenarnya bisa juga kita mengambil sedikit waktu yang ada, untuk berkeliling memeriksa tingkat pemahaman mereka, dan berusaha menjalin keakraban dengan murid. Meskipun saat ini kita tidak tahu dia mengalami kesulitan di bagian apa karena sempitnya waktu berinteraksi, tapi semoga dengan menunjukkan keterbukaan dan keakraban kita sebagai pendidik, membuat mereka tidak segan untuk mengungkapkan masalahnya, atau paling tidak berani menyapa, ngga ketakutan kalau melihat kita *saya ngga gigit kok*.

image

Setiap murid adalah unik, dengan kemampuan dan karakternya masing-masing. Pencapaianpun, jika kita menginginkan ada standar yang harus dilewati, maka dibutuhkan usaha yang berbeda untuk mendorong mereka mencapainya. Ibarat dari ujian memanjat pohon, tentu usaha si Gajah harus lebih WOW daripada si Monyet ^^.

Short version : Everybody is Unique

Advertisements