Memaki dengan Teori X, Memuji dengan Teori Y

20130106-135526.jpg

Konon (kaya dongeng aja ya…) ada seorang pria yang sedang meregang nyawa menjemput ajalnya. Didampingi istri tercinta, suasana haru melanda. Sang pria mengenang saat – saat yang telah mereka lalui bersama.

‘Santi, kau lah yang berada di sisiku saat rumah kita terbakar’
‘Iya, Mas..’ Santi berusaha menahan isak tangisnya.
‘Kau juga yang mendampingiku saat bisnis kita sedang lesu’
‘Benar, Mas’ Santi sudah tak tahan. Ia mulai tersedu.
‘Bahkan, saat ku terserang penyakit mematikan, kau tetap bertahan.’
Kali ini Santi tak menjawab apa-apa, hanya menggenggam tangan suaminya dengan mesra.

Pria tersebut tiba-tiba menyentakkan tangan Santi dengan kasar.

Santi! Kamu benar-benar pembawa sial!’

Santi: *gubrak!*
(dimodifikasi dari lelucon favorit John C. Maxwell)

Jadi, alih-alih bersyukur ada Santi yang mendampinginya, pria ini justru merasa si Santi pembawa sial, dan (dengan bodohnya) diungkapkan saat menjelang kematiannya. Ngga diurusin pemakamannya baru rasa deh…

Sebenarnya, pria itu tidak salah. Menurut Donald McGregor dalam bukunya The Human Side Enterprise, terdapat dua teori, yaitu teori X dan teori Y. Tujuan pemberlakuan dua teori itu adalah untuk membangkitkan motivasi manusia dan mengintegrasikannya dengan organisasi.

Teori X atau The Bad, pesimis dalam melihat karyawannya. Mereka adalah sekumpulan orang yang ogah bekerja, kalau bisa menghindari pekerjaan. Karena asumsinya sudah seperti ini, maka mereka ini harus diawasi dan diancam. Kalau baik dapat hadiah, kalau jelek dapat hukuman.

Sedangkan teori Y atau The Good, melihat sesuatu secara optimis. Mereka menganggap karyawannya senang bekerja, bahkan tidak hanya senang saja, sudah sampai pada tahap mencintai. Semakin cinta, semakin bagus hasilnya. Sehingga tindakan yang dilakukan adalah memberi apresiasi, agar meningkatkan komitmen karyawan pada organisasi. Mereka dapat menerima tanggung-jawab, imajinatif dan kreatif serta mampu menjadi problem solver.

Sudah jelas bahwa contoh suami di atas menerapkan teori X pada istrinya. Anda bisa bayangkan efek dari penerapan teori X. Bakal cepat ada papah baru nih..*grin*. nah, sekarang, sebagai pemimpin, mungkin kedua teori tersebut ada kelebihan dan kelemahannya, terutama jika dipandang dari sisi organisasi. Namun jika kita menempatkan diri sebagai karyawan, jujur, teori apa yang lebih kita pilih?

Dari sisi pemimpin, terdapat dua quote dari dua pengusaha ternama.

Charles Schwab, seorang pebisnis dari Amerika Serikat mengatakan dalam buku best sellernya Dale Carnegie – How to Win a Friend and Influence People, bahwa:

‘Tidak ada hal yang lebih mematikan ambisi selain kecaman dari atasan. Jadi, aku senang memberikan pujian, dan sangat tidak suka mencari-cari kesalahan. Belum pernah aku mengenal orang yang, betapapun tinggi jabatannya, yang tidak melakukan pekerjaan dengan lebih baik dan berusaha lebih keras jika kerja kerasnya itu dihargai dan tidak dikecam.’

Sementara Mary Kay Ash, pemilik Mary Kay Ash Cosmetics Corporation, selalu mengingatkan kepada para anggota timnya,

‘Jangan pernah melupakan pesan ini saat bekerja bersama orang lain. Semua orang memiliki papan nama tak terlihat yang tergantung pada leher mereka. Di atas papan nama itu tertulis: Buatlah Saya Merasa Dihargai.”

Bahkan, Emil M. Cioran, seorang filsuf Rumania mengatakan:

‘Jika setiap orang harus mengakui hasrat diri paling mendalam, hasrat yang memotivasi semua rencana, semua tindakan, hasrat itu adalah hasrat ingin dipuji ‘

Lalu, buat apa ya ada Teori X? Untuk menunjukkan yang ngga bener atau gimana?

Menurut McGreggor, ada saja lo tipe pekerja yang memang harus di-teori-X-kan, tapi biasanya mereka minoritas, dan untuk organisasi yang besar. Misal perusahaan manufaktur dengan skala produksi yang besar. Di antara sejumlah pegawainya pasti adalah yang perlu dipicu dengan ancaman *grin*. Namun John C. Maxwell sendiri dalam buku-bukunya menyarankan berbagai pendekatan sebelum ‘ciat ciat’ menghukumnya. Buku-buku yang ‘mencerahkan’ itu adalah:

20130106-225157.jpg

Sehingga, Aturan Emas (The Golden Rule) menyatakan :
‘Perlakukanlah orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan.’

Untuk itu, mari kita mulai dengan merenungkan, bagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain. Teori X, atau teori Y?

Referensi:
http://pu3mewmew.blogspot.com/2009/10/teori2-leadership.html?m=1Read more: http://ikhtisar.com/definisi-seputar-kepemimpinan/#ixzz2HABiS6j5
http://www.mindtools.com/pages/article/newLDR_74.htm

Sumber gambar: nitieim19pomb119.blogspot.com dan pribadi

Komen? Silakan^^