Scarlet Letter : Siapakah Bapaknya?

20130105-233622.jpg

Awalnya saya suka film Gone With The Wind, film tahun 40-an yang dengan piawainya menyatukan kisah romantis yang dilatarbelakangi perang saudara di Amerika Serikat waktu itu. Ternyata, film ini dibuat berdasarkan novel dengan judul yang sama, karya Margaret Mitchell pada tahun 1936.

Novel dan film tersebut, menceritakan kisah hidup Scarlett O’hara yang berjuang untuk kehidupan dan cintanya. Kemudian, karya Mitchell ini dilanjutkan dengan novel Scarlett, yang ditulis oleh Alexandra Ripley tahun 1991.

Kembali ke judul di atas, ceritanya…saya salah beli buku.

Alih-alih lanjutannya Gone With The Wind, novel Scarlet Letter ini malah sudah muncul sebelumnya, yaitu tahun 1850, ditulis oleh Nathanael Hawthorne. Novel ini merupakan salah satu buku yang paling sering digunakan di SMA serta jurusan Sastra Inggris di perkuliahan. Ugh, OK, ngga rugi berarti belinya^^. Filmnya sendiri sudah ditayangkan tahun 1995, dengan pemerannya adalah Demi Moore, Gary Oldman, dan Robert Duvall.

Kebetulan yang tersedia di toko buku adalah novel grafis, disarikan (karena hanya 185 halaman, terbitan PT Gramedia Pustaka Utama) oleh Adam Sexton, dan digrafiskan oleh Yali Lin. Adam Sexton telah menulis beberapa buku, menjadi editor, menulis tentang seni dan hiburan di The New York Times dan The Village Voice, serta menjadi pengajar kelas penulisan fiksi san literatur di New York University. Sedangkan Yali Lin sebelumnya dikenal sebagai ilustrator untuk Shakespeare’s Romeo and Juliet: Manga Edition.

Sebenarnya saya tidak terlalu terkesan dengan komik yang dihasilkan, karena gambar yang ditampilkan seperti komik Jepang pada umunya, dengan mata besar dan hitam putih. Namun karena jalinan ceritanya cukup menarik, maka saya baca sampai habis. Sexton sendiri mengakui bahwa novel karya Hawthrone ini berbau sinematik, sehingga cocok dijadikan novel grafis.

Kisahnya tentang keadaan Boston di abad 17, terdapat tokoh Hester Prynne yang melahirkan seorang anak bernama Pearl, yang tidak ketahuan siapa bapaknya. Hester sendiri sebenarnya mempunyai suami, yaitu Roger Chilingworth, yang dipercaya telah lama mati di laut sebelum ia hamil. Karena Hester bersikeras tidak mau memberitahu siapa ayah dari bayinya, maka ia dihukum harus mengenakan huruf A (Adultery-zinah) di dadanya, sepanjang hidupnya. Hester pun lebih memilih itu, daripada membuka rahasianya di depan umum.

Huruf A saja kok bikin repot ya..apa susahnya sih?

Ternyata memang susah. ‘Berkat’ huruf A itu, Hester selalu dicibir dimana-mana, dianggap warga kelas dua. Pearl juga tidak mempunyai teman karena begitu kuatnya dosa yang telah dilakukan ibunya, sehingga bahkan pada turunannya pun dosa itu terus membebani. Pearl sendiri sering disebut ‘anak iblis’ karena sikapnya yang liar, suka menentang, tapi sayang banget ke ibunya.

Persoalan makin memuncak ketika suami Hester muncul lagi, sebagai dokter. Roger ingin tahu siapa ayah dari bayi itu, dan bernafsu menghancurkannya. Kemudian ada tokoh pastor alim, Arthur Dimmesdale, yang dicurigai Roger adalah ayah si bayi, sehingga Roger memutuskan tinggal bersama Arthur.

Cerita berlanjut tentang kehidupan Hester dan Pearl, kebencian Roger, dan misteri yang terbuka perlahan tentang hubungan Hester dan Arthur. Roger selalu berusaha membuka jati diri Arthur yang sebenarnya. Sementara Arthur,yang ternyata benar merupakan ayah dari Pearl selau terjebak dalam konflik batin antara ingin menjaga kehormatan diri, kepengecutan, dan keinginan untuk menerobos segala aturan demi cintanya pada Hester.

Sebenarnya mereka telah berencana untuk lari menghindari Roger. Namun Roger yang licik menghambat rencana tersebut. Arthur, yang sedang sekarat, akhirnya mengakui perbuatannya di depan umum, dan meninggal. Ternyata pada dada Arthur terdapat tanda huruf A. Roger yang masih ingin membalas dendam pada Arthur dan Hester, akhirnya tersiksa sendiri, dan meninggal dalam tahun yang sama, dan mewariskan semua uangnya pada Pearl.

Happy ending untuk Hester dan Pearl. Hester meninggal di kotanya, dan kuburannya bersanding dengan kuburan Arthur, dengan huruf A di atas masing-masing nisan.

Lo, surat untuk Scarletnya mana? Itu pertanyaan saya berikutnya, karena di buku itu tidak dijelaskan. Ternyata, Scarlet dengan satu ‘t’ ini artinya adalah cabul, berdosa, dan merah. Huruf A yang dipakai Hester kemana-mana memang berwarna merah. Lalu ‘letter’ , adalah surat yang ditemukan oleh narator, di King’s Chapel, dimana pada halaman belakangnya terdapat dua makam tersebut.

Ceritanya memang seru. Dan huruf A tersebut bisa mengawal dengan ketat plot cerita, dari awal hingga akhir.

2 comments

  1. Kalau menurut saya “letter” di sini bisa juga berarti “huruf”. karena dlm bahsa inggris makna “letter” bisa berarti surat, bisa berarti huruf. btw saya tidak bisa membayangkan bagaimana novel sastra ketika dijadikan wujud grafis, apakah lebih menarik atau sebaliknya? hehe.

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s