Jam 7.
Aku melirik layar ponselku. Ada di mana dia yang telah berjanji untuk bertemu?
Ku pasang earphones di ponsel, memasangnya di telinga, dan mencari channel radio favoritku.
Dalam sekejap suara lembut Maudy Ayudya memenuhi kepala dan hatiku.
‘..kau ada di antara milyaran manusia…dengan radarku, ku menemukanmu..’
Aku memincingkan mataku. Di taman ini, agak susah untuk melihat siapa yang datang dari jauh. Lampunya banyak yang mati. Aku hanya bisa saksikan, ada beberapa orang yang sama sepertiku, duduk di bangku.
Sama-sama…. menunggu?
‘Kriuk’
Perutku berbunyi. Sejak shiftku berakhir tadi, belum ada secuil makanan masuk ke perutku.
Dengan gontai ku melangkah ke gerobak nasi goreng, yang paling dekat dengan bangku. Tempat kita janjian ketemu. Khawatir kalau kau datang sewaktu-waktu.
Ku makan setengah saja, kau juga pasti belum makan selepas kerja.
***
Hunger gnawed at her empty stomach again and she said aloud: ‘As God is my witness, and God is my witness, the Yankees aren’t going to lick me. I’m going to live through this, and when it’s over, I’m never going to be hungry again. No, nor any of my folks. If I have to steal or kill – as God is my witness, I’m never going to be hungry again.’
Sejenak pandanganku menerawang. What a woman! Perpaduan keras kepala, anak manja, maunya sendiri, tapi juga tulus luar biasa. Membayangkan Scarlett O’Hara yang biasa hidup berkecukupan, dan kini untuk hiduppun dia harus survive, tetap ada semangat disana saat ia bertekad tidak sekedar bertahan, tapi juga kaya.
‘Mau pinjam tidak?’ kata seorang petugas mendatangiku, menanyakan buku-buku yang bertebaran di sebelahku.
‘Ah, ya Pak‘. Aku segera menumpuk buku Metal Forming dan Physical Metallurgy di dekatku, menandakan bahwa aku akan meminjamnya nanti, saat kau sudah datang. Petugas itu melanjutkan pekerjaannya, mengumpulkan buku-buku yang berserakan di meja, dan mengembalikan ke raknya.
Jam 7. Sebentar lagi praktikummu berakhir. Akankah kau muncul dengan masih menggunakan jas labmu? Atau baju casual, dengan membawa kontainer kecil berisi bahan-bahan kimia?
Gone With The Wind, tetap terbuka.
***
Aku telah selesai memilih mushroom soup sebagai pilihan pot-au-feu, dan kupilihkan Merlot juga untukmu. Main course, biar kau pilih sendiri. Seingatku kau suka lobster, scallop, dan pigeon breast. Yang mana akan kau pilih? Aku tak tahu bagaimana seleramu hari ini.
Telah kukirim Pak Bambang untuk menjemputmu dari kantor. Bandel! Sejam yang lalu kita lewati dengan berdebat bagaimana-kau-akan-kesini. Kubilang tinggalkan saja mobilmu di parkiran, biar pak Bambang yang menjemputmu. Kau nekat saja mau menembus kemacetan. Hei, aku ingin kau tampil cantik malam ini. Bukan muka stress setelah menghadapi traffic jam. Akhirnya kau menyerah. Syukurlah. Kuraba gundukan kecil di saku celana. Semoga benda dari Frank & Co ini bisa mengurangi cemberutmu karena kuatur-atur sedemikian rupa.
Sesekali menerima telepon dari asistenku, yang mengatur jadwal operasiku besok pagi, selebihnya aku banyak membaca jurnal online yang kulanggan dari Medscape. Meski praktik setiap hari, ku harus terus pelajari penelitian-penelitian terbaru.
Alarmku berbunyi. Jam 7. Kucek lewat aplikasi GPS tracker posisi pak Bambang saat ini.
***
Foto: vectorstock.com

