Wanita dan Sepatu

 

Ini kalau ketauan suami saya pasti diomelin deh.

‘Sepatu lagi?’

Hehehe…dibanding koleksi sepatu dia yang boring boring boring itu (item semua) koleksi saya lebih kaya. Berbagai warna, high heels-wedges-flat-kets, wajar kalau koleksi saya agak mendominasi tiga, ehm, lima, rak sepatu di rumah. Dan…..counting *grin*.

‘Ngga kebanyakan?’

Rasanya tidak pernah kebanyakan deh. Soalnya begitu satu warna kita punya, model belum tentu. Begitu model punya, eh kok unyu juga kalau warna itu. Biar match gitu loh cyyyn, kalau pakai baju atau tas dengan warna yang sama.

Sepatu tersebut ada yang enak dipakai, ada yang tidak. Waktu membeli belum ketahuan, karena waktu mencoba hanya 2 menit, lalu langsung memutuskan untuk membelinya. Biasaaa…kesengsem pada pandangan pertama. Harus segera dibeli, karena begitu telat sedikit, kita akan berhadapan dengan dilema nomor-tidak-ada, warna-tinggal ini, model-hanya-satu.

Ingin, mampu, tapi tidak bisa.

Masalahnya, koleksi sepatu saya kebanyakan high heels. Yah, tidak setinggi Loubotin yang minim setinggi 15 cm itu, setengah atau sepertiganya lah. Alasannya karena modelnya bagus, warnanya beragam, dan tentu menambah tinggi badan saya yang semampai ini (semeter tak sampai). Bayangkan saja Yuni Shara, nah saya ngga beda dengan dia….hanya kalikan dua berat badannya 😛 Jadi kalau awalnya bentuk badan saya seperti bola, kalau menggunakan high heels bisa menjadi….bola berkaki…hehehe….

Sepatu tersebut saya gunakan setiap hari selama 8 jam, dan model penggunaannya bukan yang duduk-manis-di-kantor. Tapi sebagian besar waktu saya lewatkan dengan berdiri, naik turun tangga dan panggung untuk mengajar. Biasanya umur sepatu-sepatu saya tidak tahan sampai setahun, karena sudah jebol duluan bagian haknya.

Nah, kenapa kok jadi masalah?

Penjelasannya medisnya bisa dipelajari dari artikelnya Dr. Iryalrusyad. Kalau dari pengalaman saya , memang ada akibat buruk dari penggunaan high heels tersebut. Jika saya berdiri sekitar dua hingga tiga jam terus menerus, efeknya adalah telapak kaki terasa kram. Pernah karena kram, terpaksa manggil teman untuk menggantikan menyetir. Dalam satu reportase di CNN, high heels juga dikatakan sebagai sepatu yang paling tidak aman ketika digunakan untuk menyetir, karena refleks menginjak remnya jadi berkurang.

Karena itu, saya berniat untuk me-replace semua high heels dengan sepatu yang lebih aman, yaitu wedges. Agak sulit mencari warna dan model yang cocok, apalagi acara jalan-jalan ke mall selalu sekeluarga. Jadi berlama-lama mencari sepatu yang cocok, agak sulit karena selalu ditarik-tarik ke arena permainan-tempat makan-bioskop.

Ada alternatif membeli online, hanya saya masih terkendala dengan ukuran dan kenyamanan penggunaan. Namun ketika mencoba salah satu situs yang menjual sepatu, mereka menawarkan pembayaran di tempat dan garansi pengembalian produk hingga 7 hari. Menurut saya ini langkah yang bagus, karena orang beli sepatu ngga seperti beli baju, yang meski kesempitan atau kebesaran dan ngga nyaman masih bisa dipakai dengan gaya. Kalau sepatu efeknya ke kesehatan dan perasaan ingin melepasnya karena tidak nyaman.

wpid-DSC_0262.JPG

Berhubung kemarin dulu saya sedang ulang tahun, maka saya menghadiahi diri sendiri dengan memilih sepatu yang saya suka. Yang bayar? Yang pasti bukan saya ^^

*Hehehe..gpp ya ganteng…anggap aja hadiah ulang tahun…*

A woman can never have many shoes. ~ Twivortiare

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s