Handphone Mama

Old woman with handphone

Kutekan berulang-ulang nomor telepon Mama. Tidak ada nada sambung. Sudah sejak dua hari lalu aku berusaha menghubungi, tidak satupun yang terjawab. Jangan-jangan telepon Mama kena petir lagi. Di kota Mama tinggal sering terjadi ‘hujan badai’, begitu Mama mengistilahkannya, meski mungkin nanti jika Mama kuajak ke Amerika, Mama akan mengubah pandangannya tentang apa yang disebut ‘badai’. Badainya Mama adalah hujan deras disertai angin yang kencang hingga membuat pohon palem di kanan rumah bergoyang-goyang, lalu ada petir menyambar, diiringi bunyi halilintar. Langit sangat pekat, tempo-tempo mati listrik, dan kalau sedang sial benar, entah angin atau petir yang akan memutuskan kabel telepon.

Nampaknya hal ini terjadi lagi.

Kecemasan mulai melandaku. Mama tinggal sendiri. Kalau musim hujan begini, aku selalu khawatir dapurnya bocor, lalu tetesannya akan membasahi lantai, dan Mama yang rajin ke dapur itu beresiko terpeleset. Lalu siapa nanti yang akan menolongnya segera, sementara rintihannya tak ada yang mendengar? Aku sudah tawarkan microwave yang jarang kugunakan, agar bisa Mama gunakan untuk menghangatkan makanan ataupun minuman, cukup di ruang tengah saja tempat Mama menonton televisi. Tidak perlu pergi ke dapur. Tapi Mama menolaknya dengan alasan nanti bayar listriknya mahal, dan uang bulanan dariku jadi kurang. Meski sudah kujanjikan akan kunaikkan, tetap saja Mama bilang jangan buang-buang uang.

Dan kini aku yang jadi cemas sendiri, khawatir ada apa-apa dengan Mama.

Aku segera mencari di nomor kontakku, tetangga sebelah rumah Mama yang kemarin sempat kuminta nomor handphonenya, tepat sebelum aku hendak kembali ke kotaku. Untung saja, meski tak terlalu dekat dengannya, ia dengan sukarela memberikan nomornya bagiku untuk siap-siap direpoti jika ada kasus seperti ini. Sambil menunggu tersambung, aku menguatkan tekadku untuk pulang. Bukan sekadar menjenguk, tapi akan kubujuk (mungkin setengah memaksa juga) agar Mama mau menggunakan handphone, yang dulu sempat kutawarkan tapi ditolaknya. Ya, nasibnya sama dengan semua peralatan elektronik yang kutawarkan untuk mempermudah, namun malah dianggap akan memperumit hidupnya.
*
“Ini bagaimana cara menggunakannya?” tanya Mama dengan wajah bingung. Mama menimang handphone berukuran kecil yang baru kukeluarkan dari kotaknya. Kemarin aku membawanya naik kereta, setelah kuterima dari situs belanja online. Lebih gampangnya memang membelinya di internet, kemudian meminta mereka untuk mengirimkan ke alamat Mama. Tapi terbayang wajah Mama yang tak tahu apa yang harus dilakukan ketika membuka paket itu, maka lebih baik aku yang pulang bersama handphonenya.

“Ini, dinyalakan dulu,” kataku sambil menekan satu tombol. Aku rasa cara menggunakannya sama saja, inipun masih kutebak fungsinya apa. Membaca petunjuk manual jarang kugunakan, karena pengalaman berganti handphone dari berbagai merk telah mengajariku banyak hal.

“Setelah menyala, kalau Mama mau telepon Fanny,’ kataku sambil memasukkan nomor handphoneku ke menu Contact, “tekan yang ini,” lanjutku menjelaskan. Kubiarkan Mama memencet tombol-tombol itu, kuminta ulang dan ulang lagi, sampai nada panggilan terdengar dari handphoneku. Selanjutnya, aku minta Mama latihan mengangkat telepon dariku. Dari siapa lagi, nomor ini cuma aku yang tahu.

Selanjutnya aku mengajari Mama cara mematikan telepon, cara mengisi baterainya, cara mengisi ulang (‘datang saja ke counter pulsa, sebutkan nomor Mama, lalu bilang mau isi pulsa berapa, bayar, nanti pulsanya masuk sendiri’). Lalu berhubung Mama tidak tahu bagaimana cara mengetahui nomor kartu, aku menuliskannya pada selembar kertas dan menyerahkannya ke Mama. Oleh Mama kertas itu digunting dan hanya menyisakan nomornya, lalu diambilnya isolasi bening dan ditempelkannya di bagian belakang handphonenya. “Nanti kalau mau mengisi pulsa tinggal Mama serahkan handphone ini saja pada penjualnya.’ Aku tersenyum, cara itu boleh juga daripada mencatat, nanti bingung lagi mencari dimana catatannya disimpan.

Kelihatannya beres, karena itu kutinggalkan Mama dengan perasaan lebih tenang keesokan harinya. Mengunjungi Mama pada akhir pekan cukup menguras waktu dan tenagaku, meski aku tinggal duduk saja di kereta. Aku telah menelepon perusahaan telepon agar memperbaiki kabel telepon yang putus itu. Setidaknya kini aku lebih lega karena punya dua alternatif untuk menelepon Mama. Kutelepon Mama saat menunggu di stasiun, ke handphonenya, dan untunglah diangkat. Berarti Mama sudah bisa mengoperasikannya, meski sempat kudengar keluhan, “Ini bagaimana memati…” dan suaranya terputus. Berarti Mama sudah berhasil menekan tombol off-nya.

Satu minggu berlalu. Karena kesibukanku, aku lupa menelepon Mama. Selain pekerjaan yang menguras konsentrasiku, aku heran, kenapa untuk hal yang remeh temeh aku selalu ingat. Misal update status, foto makanan untuk diunggah di Instagram, atau selfie dengan segala variasinya. Tapi telepon Mama lima menit saja, lalai kulakukan. Dengan setengah menyesal aku telepon handphone Mama. Tidak ada nada sambung terdengar. Hmm…kenapa lagi ini. Setelah panggilan kelima tidak ada jawaban, aku mencoba menelepon telepon rumah. Siapa tahu sudah dibetulkan…

Syukurlah akhirnya kudengar suara Mama. Berarti Mama baik-baik saja, sedang handphonenya rupanya tidak, dan pemiliknya tidak menyadarinya. Aku minta Mama memeriksa, bagaimana keadaan handphonenya. “Sebentar,” katanya, “Mama ambil di lemari pakaian.” Duileee…lalu bagaimana caranya kedengaran kalau ada panggilan?

Dengan setengah geli kujelaskan, handphone letakkan saja di ruang tengah, tempat Mama sering berada di sana. Tapi Mama menolaknya, karena katanya ini barang mahal, harus disimpan. Saking rapinya penyimpanannya, Mama jarang memeriksa handphonenya. Karena itu meskipun tak pernah digunakan, baterai handphone tak bisa bertahan sampai seminggu. Mama bilang bahwa handphonenya mati, dan kini aku harus mengulangi instruksi bagaimana cara menyalakannya kembali. Cukup sulit, karena aku sendiri lupa bagaimana letak dan fungsi setiap tombolnya. Meminta Mama meneliti (membaca dengan teliti) kertas panduannya pun sama saja bohong. Mata Mama sudah lemah untuk membaca huruf-huruf yang kecil, apalagi harus membacanya dengan cermat.

Akhirnya handphone itu bisa menyala, dan Mama mengiyakan semua permintaanku untuk menaruh handphone di tempat yang mudah terlihat dan mengisi baterainya dua hari sekali. Untuk menebus rasa bersalahku, aku mencari di internet situs yang menjual handphone seperti yang Mama pakai dan mencari panduannya. Berdasarkan gambar handphone dan penjelasan fungsinya, kubuat satu gambar yang besar dengan berbagai anak panah berwarna merah di sekitarnya, menjelaskan tentang fungsi masing-masing tombol. Tidak semua sih, yang penting-penting saja bagi Mama. Setelah itu kumasukkan ke amplop, dan kukirimkan pada Mama lewat pos.

Saat Mama meneleponku (lagi-lagi lewat telepon rumah) aku berpikir ini pasti tentang surat yang kukirimkan. Mungkin ada tulisanku yang tidak jelas, atau mungkin Mamanya sendiri yang kurang jelas. Ternyata tidak. Mama bilang tadinya mau bilang terima kasih atas panduannya, dengan mencoba meneleponku lewat handphone. Tapi ternyata handphonenya tidak bisa digunakan. “Handphonenya mati lagi?” tanyaku memastikan. Jangan-jangan Mama lupa mengisi baterainya.

“Handphonenya hidup,” katanya menjelaskan. “Tapi setiap dipakai telepon, bilangnya masa aktif Anda sudah habis. Itu maksudnya apa ya?” tanya Mama ingin tahu. Ampun…aku lupa satu hal, menjelaskan bahwa mengisi pulsa itu harus berkala, bukan hanya saat pulsa habis saja. Pantas Mama merasa tidak perlu mengisi pulsa, toh handphone tidak pernah (bisa) dipakai.

Aku menyarankan Mama untuk mengisi pulsa seratus ribu. Sudah kuduga Mama akan memprotesnya, lagi-lagi soal sayang uang. Aku bilang, aku lebih sayang Mama. Uang segitu ngga seberapa daripada Fanny cemas ngga bisa menghubungi Mama. Lalu kukatakan juga dengan uang segitu, Mama tidak perlu mengisi ulang lagi hingga bulan depan. Jadi Mama tidak perlu bolak balik ke counter pulsa.

Mama menuruti saranku. Perihal menurut-nya mungkin bukan karena memahami semua alasanku, tapi lebih kepada mengikuti maunya anak. Kadang aku berpikir sampai kapan ya Mama akan sibuk memenuhi permintaanku? Dulu masalah beli sepatu, sekarang masalah tuntutanku agar bisa terus berkomunikasi. Teringat di akhir teleponku tadi, aku mengajari Mama untuk bisa memeriksa pulsa dan masa aktifnya tinggal berapa. Menerangkan ‘bintang’ dan ‘pagar’ saja butuh usaha tersendiri, belum lagi menu pemeriksaan pulsa yang sambung menyambung macam kereta api barang. Kenapa ya untuk hal yang sederhana malah dibikin sulit?

Tiga hari kemudian, Mama meneleponku. Dalam layar handphoneku, kulihat tulisan ‘Handphone Mama’. Dengan gembira kuangkat teleponku, ini telepon Mama pertama dari handphone yang kubelikan untuknya! Ingin kusambut dengan penuh sukacita, namun yang tertangkap di ujung sana adalah kecemasan.

“Pulsanya berkurang sendiri!” katanya khawatir. “Mama kan kemarin beli yang seratus ribu. Lo kok sekarang tinggal delapan puluh ribu! Padahal Mama ngga pernah pakai,” kini nada bersalahlah yang terdengar. Aku garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Lalu hilang kemana pulsanya? Mama juga sempat menuduh jangan-jangan nomornya bekas orang lain. Kukatakan tak mungkin, kalau sim cardnya sudah masuk di handphone Mama, tak bisa digunakan orang lain.

“Terus ya Fan, handphone ini kadang-kadang bunyi sendiri,” adu Mama bingung. “Begitu Mama angkat, eh mati!” katanya lagi. Aku tak mengerti. Perasaan aku telepon itu sudah kapan lalu, dan aku bukan tipe iseng yang suka miscall sembunyi tangan.

“Bunyinya gimana, Ma?” tanyaku, beralih dari satu persoalan ke persoalan lainnya.

“Bunyinya…tiririt….begitu saja, Fan,” jelas Mama. Hmm…aku mulai bisa menduga. “Mama, coba lihat di layar handphonenya, ada tanda amplop?” tanyaku padanya.

Mama diam sebentar, lalu berucap, “Oh iya, ada Fan! Ini apa?” Nah kaaan…SMS ternyata. Lalu aku memandu Mama untuk belajar membuka pesan demi pesan, yang nampaknya ada beberapa di inbox Mama. Aku berpikir, siapa ya yang sudah tahu nomor Mama ini, selain aku? Aku minta Mama membacakannyanya satu-satu, setelah ia memakai kacamata bacanya.

“Selamat, nomor Anda telah terisi dengan…”
“Ok ngga apa Ma, itu dari isi pulsanya,” kataku memutusnya. “Bawahnya lagi apa Ma, coba dibuka,’ sambil berharap semoga nadaku tidak beraroma perintah.
“Menangkan mobil dan ribuan hadiah lainnya, cukup dengan mengisi pulsa…”
“OK stop Ma, itu lewatin aja. Ada yang lain ngga?” tanyaku mulai tak sabar. Astaga, ini kelakuan provider-nya bikin repot saja. Menyelenggarakan promosi lewat SMS sampai memenuhi inbox pelanggan.

“Apa kata bintang Anda minggu ini?” lanjut Mama membaca SMS berikutnya.
“Bentar Ma, itu kok banyak benar ya iklannya,” kataku geram.
“Ini apa sih Fan?” tanya Mama ingin tahu.
“Itu SMS iklan Ma, ngga penting. Harus di-UNREG tuh,” kataku menyarankan.
“Di-UN…apa Fan?” tanya Mama lagi.

Aku terdiam. Duh, gimana menjelaskannya ya.
“Fan, ini kok ada tulisan gini? ‘Ketik UNREG jika Anda tidak menginginkan layanan ini’,” sambung mama lagi.
UNREG? “Lo Ma, biasanya sih ‘ketik REG jika Anda menginginkan layanan ini’. Ada gitunya ngga?” tanyaku heran.
“Tidak ada tuh Fan, adanya cuma yang UNREG itu,” jelas Mama.

Astaga…itu rupanya! Si penerima SMS otomatis hilang pulsanya termakan SMS premium yang dia mendaftarpun tidak. Pantas pulsa Mama tersedot, dan pelanggan semacam Mama ngga sadar kalau sedang dirampok.

“Itu mesti ketik UNREG lalu kirim ke nomor…” lalu aku tersadar. Baca SMS saja masih harus dipandu, bagaimana kalau menulis SMS? Karena handphone Mama bentuknya kecil, tombolnya hanya ada 12. Di dalamnya, bersesakan 26 abjad dan 9 angka, belum lagi simbol-simbol di dalamnya. Apa Mama bisa…

“Aku pulang Sabtu ini, Ma,” kataku lemah. Entah akan ku-UNREG semua layanan itu, atau kuganti kartunya dengan provider lain, saat ini yang terbayang hanya wajah gembira Mama karena berkali-kali dikunjungi anaknya gara-gara urusan handphone.

***
IndriHapsari

Advertisements