Museum Patah Hati

‘Papa akan membuat apa?’ belalakku tak percaya.

‘Museum Patah Hati,’ jawabnya tenang.

vagabondish

vagabondish

Aku memicingkan mataku. Pendengaranku tak salah rupanya.

‘Ide dari mana ini?’ tanyaku menahan marah. Pasti teman-temannya yang mempengaruhinya!

‘Dari grup,’ jawabnya jujur. Apa kubilang! Grup teman-teman SMAnya memang sudah lama mencurigakan. Buat apa mereka berkumpul bersama kalau tidak membicarakan masa lalu. Mungkin, membicarakan juga cinta yang telah berlalu. Ceritanya CLBK, atau Cinta Lama Belum Kelar.

‘Pa, daripada bikin museum yang bikin semua nelangsa, kenapa sih tidak membuat hal yang lebih menyenangkan? Kenangan tentang jatuh cinta misalnya, atau…keceriaan anak-anak. Atau Pa, jika bingung kegiatan filantropi apa yang akan Papa lakukan, sumbangkan saja buat anak yatim. Mereka kan masa depan, jangan mengurusi masa lalu,’ bantahku pedas.

‘Mama kan tahu,’ katanya sambil memelukku, ‘soal anak yatim, panti jompo, kita sudah jadi donator regular. Anak asuh, sudah diatur juga sama Siska penyaluran dananya. Sekarang, saatnya kita mengurusi mereka yang di masa sekarangpun, tidak bisa melepaskan masa lalu, dan akan mempengaruhi masa depan mereka,’ jelasnya sabar.

‘Pa, apa kata media,’ bantahku putus asa. Bisa kubayangkan, saat ia menggunting pita tanda dibukanya Museum Patah Hati. Pasti masyarakat mengira, ia punya banyak kenangan pahit, sebelum akhirnya bertemu denganku. Yang lebih menyakitkan, pasti ada tuduhan selama ini aku tak bisa membahagiakannya, sehingga ia masih berkubang dengan masa lalu.

‘Mama kan tahu yang sebenarnya, Papa bahagia hidup bersama Mama,’ katanya sambil mengecup keningku. ‘Ngga usah pikirin kata orang,’ ia seolah bisa membaca pikiranku.

‘Lalu, nanti siapa yang ngurusin Pa?’ tanyaku lagi. Sebagai pengusaha, ia pastilah tidak sempat mengurusi kegiatan sosial macam begini. Selama ini ada Siska sekretarisnya yang mengatur semuanya. Namun jika ditambahi mengurus museum, aku ragu…

‘Kayanya Mama cocok deh,’ katanya sambil tersenyum. ‘Mama kan perhatian dengan masalah orang, apa namanya, kepo ya?’ katanya sambil tertawa. Aku merengut. ‘Museum ini bukan hanya mengumpulkan barang Ma, namun juga mengumpulkan kenangan. Mungkin akan ada banyak cerita di sana.’

Aku baru teringat sesuatu.

‘Pa, mengumpulkan? Barangnya berasal dari masyarakat?’ tanyaku ingin tahu.

Ia mengangguk. ‘Kita akan buat iklannya.’

*

Suamiku segera melaksanakan idenya. Sebuah bangunan di tengah kota, salah satu asset kami, dapat digunakan sementara sampai ia bertemu penyewa. Rencana jangka panjang kami adalah menyerahkannya pada pemerintah kota, agar mereka memiliki obyek wisata. Namun kalaupun tidak, semoga keuangan kami cukup lancar, untuk dapat terus mendukungnya. Suamiku berkata, ia hanya menerapkan tarif tiket masuk sekedarnya, agar semua jenis pengunjung dapat menikmati museum ini. Dana yang tersebut sebenarnya tidak cukup untuk membayar keseluruhan biaya operasional kami, namun untuk meningkatkan kesadaran pengunjung bahwa mereka membayar untuk bisa masuk, ia menerapkannya. Semoga saja mereka bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk menikmati barang-barang yang dipamerkan.

Ia meminta Siska membuat pengumuman di koran, agar mereka yang punya benda kenangan menyerahkannya pada tanggal dan tempat yang telah ditentukan. Siska juga harus mencantumkan, benda itu akan dipajang gratis selama setahun, jika lebih dari itu, maka museum akan membayar biaya sewa sesuai ketentuan yang berlaku. Suamiku membayangkan, pasti ada benda-benda yang menyedot perhatian. Sedang aku pesimis ada orang-orang yang mau menitipkan barang berharga mereka secara gratis.

Ternyata dugaanku salah.

Rasa penasaranku membuatku ikut mendampingi Siska, saat ia menemui orang-orang yang ingin menitipkan barangnya. Aku mengintip dari ruangan sebelah, seperti apa sih orang-orang yang datang. Ternyata mereka dari beragam usia, jenis kelamin, dan penampilan. Ada anak muda, pegawai, orang tua, laki-laki berpenampilan perlente, wanita dengan penampilan biasa hingga yang trendi. Dugaanku mengenai orang-orang yang tidak bisa move on dan tanpa harapan hidup juga salah. Mereka bahkan terlihat tegar saat menggenggam erat barang yang akan mereka serahkan.

Aku tergelitik untuk ikut sesi wawancara yang Siska lakukan untuk menyaring informasi yang akan mereka tuliskan di masing-masing barang.

‘Kenapa Anda menyerahkannya?’ tanya Siska pada seorang pemuda. Ia membawa sebuah kotak berisi cincin.

‘Saya bingung, akan terus menyimpannya atau memberikannya pada yang lain. Menyimpannya akan membuat saya teringat terus pada pengkhianatannya. Sedangkan menjual, atau memberikan pada orang lain membuat saya kepikiran, karena cincin itu saya buat dengan cinta. Saya tak membayangkan ada wanita lain yang menggunakannya. Mungkin, dengan menitipkannya ke museum ini, saya bisa melepaskan kenangan tentang dia, sekaligus merasa aman karena tidak ada orang yang memakainya.’

Pemuda lain, mungkin lebih agresif. Ia membawa sebuah kapak! Aku mencengkeram lengan Siska erat, takut dia ngamuk dan mengancam kami semua.

Siska tersenyum padaku, berusaha menenangkanku. Pemuda itu duduk, kapaknya ia taruh di sampingnya.

‘Aku gunakan untuk menghancurkan barang-barang kekasihku,’ jawab pemuda itu segera, ketika Siska bertanya untuk apa ia bawa barang itu. ‘ Setelah menyaksikan ia bermesraan dengan teman baikku, aku putuskan untuk menghancurkan barang-barang pemberiannya. Ia kaget ketika ke rumah dan menyaksikan barang-barangnya sudah hancur. Ia kira aku tak pernah tahu perselingkuhannya. Sejak itu ia tak pernah datang lagi.’ Kini pemuda itu menyeringai. Aku mencengkeram lengan Siska lebih keras.

Untunglah orang berikutnya seorang gadis manis, dengan wajah pucat ia menggendong sebuah boneka Teddy Bear. I love you Magda, begitu tulisan di bantal hati yang dipegang si Teddy. ‘Aku ingin menyerahkan ini,’ ia meletakkan boneka itu di meja kami. ‘Toh Fred sudah meninggal. Aku tak perlu bonekanya lagi,’ lalu ia menangis tersedu. Sambil menunggu ia menghentikan tangisnya, ia bercerita Fred mengalami kecelakaan kereta api, ketika mobilnya melintasi perlintasan untuk menjemput Magda di bandara.

Macam-macam lagi yang datang setelah itu. Seorang anak SMP menyerahkan diary berisi curhatannya. Seorang ibu menyerahkan patung rusa warna merah hadiah dari mantan pacarnya. Suaminya marah-marah setiap melihat benda itu di rumah mereka, hingga ia memutuskan untuk menyingkirkannya. Seorang kakek yang baru kehilangan istrinya, memberikan kacamata baca yang diisolasi gagangnya karena sudah retak. Ia tak sanggup melihat benda itu katanya, karena sang pemiliknya tak bisa menggunakannya lagi.

*

Kini kutahu kenapa suamiku menjadi pengusaha sukses. Ia dengan tepat bisa memprediksi potensi suatu usaha. Museum kami dalam waktu singkat penuh dengan benda-benda kenangan yang diserahkan masyarakat. Kami bahkan harus mempekerjakan dua orang lainnya untuk membantu Siska mempersiapkan barang-barang tersebut. Urusan display dan layout sudah ada tim sendiri yang mengerjakan.

Sambutannya juga luar biasa. Mungkin karena mereka sama sepertiku, memiliki sifat kepo yang sama. Ingin tahu urusan orang, kemudian menceritakannya kemana-mana. Akun Instagram kami penuh dengan hashtag #MuseumPatahHati karena mereka sibuk berselfie-ria dengan barang-barnag yang dipajang, atau berfoto di booth yang kami sediakan. Akibatnya lebih banyak lagi yang melihat dan penasaran untuk melihatnya langsung.

Aku sendiri menyempatkan tiap hari untuk datang, melihat para pegawai bekerja dan para pengunjung menikmati isi museum. Ada yang sepertinya senasib dengan para pemilik barang tersebut sehingga wajahnya keruh waktu meninggalkan museum. Kalau Barry, anakku, beda lagi. Ia dengan cengar-cengir menemuiku di kantor museum.

‘Barry sama teman-teman, Ma,’ katanya santai.

Aku sebenarnya tidak terlalu suka jika ada anak muda masuk ke Museum Patah Hati. Buat apa, jalan hidup mereka masih panjang, tak perlu berkutat terlalu lama di episode paling menyakitkan. Belum lagi kalau mempengaruhi masa depan.

‘Temanmu…jomblo ya?’ tebakku asal.

Barry tertawa. ‘Ya ngga semua Ma, ada yang sama pacarnya, ada yang baru putus, ada yang ngga pernah pacaran,’ katanya sambil terkekeh. ‘Katanya pengen tahu, seperti apa sih kisah cinta orang lain.’

‘Mama heran deh Barry, kalau ada anak muda ingin kesini. Kalau mereka pernah mengalami, ya mungkin cari teman senasib. Tapi kalau masih pacaran, buat apa?’ kataku seolah-olah sedang bertanya.

‘Malah bagus Ma, mereka jadi pada janjian, jangan sampai bernasib sama dengan barang-barang yang dipajang. Kalau bisa berhubungan sampai selamanya,’ kata-kata Barry membuatku terkejut. Wah, sedewasa itu pemikirannya?

‘Ngga rugi tuh Barry? Kalian masih muda, masa mau mengikat diri ke satu orang yang belum jelas juntrungannya?’ jawabku menggoda. Sekali-kali anak-anak muda ini harus diberi pelajaran, bahwa hidup tidak semulus yang mereka bayangkan.

‘Namanya juga orang usaha Ma,’ kata Barry sambil tertawa. ‘Mumpung masih sadar, jadi pada janjian. Ntar kalau lagi berantem, pasti pada lupa,’ katanya santai. ‘Setidaknya Ma, biarlah ketika mereka melewati tempat ini, mereka akan ingat, dulu pernah janji apa di museum ini. Siapa tahu, ada yang balikan.’

Aku tercenung mendengar kata-kata Barry. Efeknya sebesar itukah…

*

Tak perlu waktu lama menunggu pembuktian kata-kata Barry. Hal ini bermula dari usul suamiku, melalui telepon karena yang bersangkutan sedang di luar negeri, untuk mengumpulkan para pemilik barang tersebut.

‘Mereka sudah berbaik hati menitipkan barangnya ke kita. Tak ada salahnya menjamu mereka makan siang, sekalian mengumumkan mana yang kontraknya kita perpanjang.’ Setelah memastikan jadwalnya agar ia bisa datang, aku menyetujui untuk mempersiapkan segalanya.

Hari yang ditunggu tiba. Museum tutup untuk sementara. Semenjak jam sepuluh tamu-tamu telah berdatangan, karena sebelum makan siang pukul dua belas, ada pengantar dan sesi diskusi. Barry sendiri mendapat kesempatan untuk memandu acara, sesuai dengan kesukaannya bergaul dengan orang lain.

Semua tamu telah duduk di kursi masing-masing, ketika suamiku memasuki ruangan, dihujani dengan tepuk tangan. Ia tersenyum, dan memulai pidatonya dengan percaya diri. Hal ini biasa dilakukannya selama menjadi direktur beberapa perusahaan, menyemangati para pegawai untuk giat bekerja. Ia mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kebaikan para pemilik barang ini. Kemudian berdasarkan laporan yang disusun Siska, ia mengungkapkan traffic pengunjung dan pendapatan yang mereka hasilkan dari tiket masuk, sekaligus memberitahu para pemilik biaya yang dikeluarkan. Decak kagum tergambar pada wajah mereka, ini proyek rugi, tetapi suamiku bertekad untuk terus melanjutkan.

Maka pada sesi diskusi, aku terheran-heran atas keputusan para pemilik barang yang kontraknya diperpanjang, mereka dengan senang hati menitipkan barangnya tanpa perlu dibayar. Mereka memahami kesulitan yang kami hadapi, dan tak etis jika mereka justru mendapat untung dari kerugian ini. Bahkan mereka katakan, ‘sebenarnya kalau diambil pun tak masalah,’ kata salah seorang dari mereka yang disambut gelak tawa lainnya. Mereka hanya ingin museum ini bisa terus berjalan dan menginspirasi lainnya.

Banyak yang kuketahui dari mereka, bagaimana mereka berusaha menjalani hidup tanpa ada lagi kenangan yang berada di dekat mereka. Betapa kadang-kadang mereka merasakan kerinduan yang mendalam, namun mengingat barang tersebut di tempat yang aman, mereka lebih memilih menguburnya, dan kemudian berusaha menciptakan kenangan yang baru.

Namun rupanya tidak semua. Saat sesi makan siang, seorang pemuda berkacamata mendekatiku, menanyakan bisakah ia mengambil kembali barangnya, meski ia mendapatkan kontrak perpanjangan. Aku menatapnya dengan iba. Ia belum bisa move on rupanya.

Ia menggeleng cepat, menyadari mimik mukaku berubah. Dengan malu-malu ia menjelaskan, ia sudah balikan lagi dengan sang mantan, dan mereka berjanji untuk menata hari depan. Aku tersenyum mendengarnya. ‘Tentu kau boleh,’ kataku sambil menyarankan ia menemui Siska, ‘dan jangan lupa bawa ia kesini, agar ia bisa terinspirasi juga agar jangan pernah menaruh barang-barang pemberianmu disini,’ kataku sambil tertawa. Ia tertawa kecil, dan sambil menundukkan kepala meninggalkanku.

‘Sukses Ma?’ tanya suamiku yang tiba-tiba sudah ada di sampingku. Aku tersenyum padanya. Ia dan ide uniknya.

‘Ngga nyangka bisa seinspiratif begini museumnya,’ jawabku jujur. Aku menatapnya dengan mesra.

‘Semoga banyak yang terbantu ya. Contohnya itu,’ ia mengedikkan kepalanya ke arah jam 2. Nampak pemuda yang dulu membawa kapak, berbincang akrab dengan remaja putri yang dulu membawa Teddy.

‘Siapa tahu jodoh,’ katanya sambil memeluk bahuku.

Hmm…semoga saja…

***

IndriHapsari

Advertisements