Khianat

Sebal juga ketika akhirnya kita merasakan hal yang bernama pengkhianatan. Tahu betapa menyakitkannya hal tersebut, dan membuat kita berusaha untuk tidak melakukannya pada orang lain, bukan berarti dapat lolos dari kejadian dikhianati. Uncontrollable. Unexpected.

Dan kenapa terasa sakit? Karena yang melakukannya adalah orang terdekat.

Tak heran bila cinta selalu menjadi sasaran pengkhianatan. Dia yang selalu bersama, tenyata di belakang kita bermain api dengan orang lain. Dia yang berkata akan berjanji setia sampai mati, tanpa menunggu kita tiada dengan seenaknya melupakan janji tersebut.

Pengkhianatan juga bisa dilakukan oleh teman terdekat. Dia, tempat kita menceritakan segala rahasia hanya padanya, berkhianat dengan menyebarkannya kemana-mana. Dia ternyata tertawa di atas penderitaan kita. Dia yang menyebabkan kita menjadi tertuduh dan musuh bersama.

Sakitnya lebih terasa, bila tidak hanya perasaan saja yang dia permainkan, namun juga kerepotan yang dia ciptakan. Penagih hutang datang. Penagih janji datang. Sementara si pengkhianat telah menghilang, meninggalkan kita menghadapi semua sendirian.

Apa yang harus kita lakukan? Balas dendam, melaknat dan melarikan diri, bisa dilakukan. Namun apakah ini inti dari kenapa Tuhan membiarkan ini semua terjadi? Kejadian bisa saja di luar kendali dan pemikiran kita, namun tidak ada yang di luar perencanaan Sang Maha Pencipta.

Maka mulailah percaya, meskipun sulit dibayangkan dengan akal manusia, bagaimana dapat keluar dari segala dampak pengkhianatan. Minta tolong padaNya, dan mulailah pelan melangkah. Segala yang diijinkan terjadi, menguji kemampuan kita dalam menghadapinya. Menjadi lebih baik, atau malah makin terpuruk. Saya tahu mana yang Anda akan pilih. Jadi percayalah, karena Dialah Sang Penentu Masa Depan.

‘We may not know what the future holds, but we can trust the One who holds the future’

Advertisements