Multitasking Pembawa Petaka

Status Facebook teman saya hari ini isinya begini :

“Teman sekelas Gerald, saat ini terbaring koma. Ibunya patah kaki dan masih dirawat di RS. Bapaknya sudah dimakamkan semalam.
Musibah itu disebabkan karena seorang anak muda berusia 19thn, menyetir sambil menelepon 😦

Selain mereka, ada satu korban lagi yaitu seorang ibu yang sedang hamil 7 bulan. Ibu tersebut meninggal langsung di tempat kejadian beserta bayi dalam kandungannya.

Maut memang di tangan Allah, namun tak ada salahnya jika kita meminimalisir kecelakaan di jalan raya.”

Rasanya sampai capek saya memperingatkan keluarga dan teman, atau pengemudi kendaraan yang menyetir sambil menggunakan telepon genggam. Mulai dari menegur, memelototi dan mengklakson, dengan tanggapan yang beragam. Ada yang buru-buru mematikan teleponnya, menyimpan untuk sementara (dipakai lagi kalau saya tidak ada), balas memelototi atau tetap menggunakannya.

Saya juga bukan orang yang suci-suci amat, saya pernah mengetik SMS saat sedang berkendara. Saat itu saya merasa, saya melihat tombol- tombol di telepon hanya sepersekian detik kok, karena sudah hafal letak tombolnya. Saya yakin mereka yang menggunakan telepon genggam untuk melakukan atau menerima panggilan juga meyakini hal yang sama: ‘cuma sebentar kok!’ atau ‘saya bisa membagi perhatian’. Multitasking bahasa kerennya. Hal ini tidak masalah saat kita melakukannya saat sedang diam. Masalah teman atau keluarga merasa tidak diacuhkan karena ulah kita, itu bahasan lain. Yang jadi kacau adalah kita sedang menyetir dengan suatu mesin, yang dapat menjadi mesin pembunuh. Keadaan jalan bisa berubah dengan cepat, sebagai manusia terkadang kita tidak waspada, dan urusannya dengan nyawa manusia!

Textingaccident.com membeberkan hasil penelitian pengaruh penggunaan telepon seluler pada remaja di Amerika Serikat. Berkendara sambil menggunakan telepon genggam ternyata bisa mengurangi aktivitas otak hingga 37 persen, itu sebabnya refleks kita berkurang saat ada kejadian mendadak. Misal ada orang menyebrang atau motor keluar dari gang. Sebuah studi membeberkan kegiatan texting ini meningkatkan resiko kecelakaan hingga 400 persen. Telepon genggam juga kerap diasosiasikan sebagai pengalih perhatian terbesar dalam kejadian tabrakan.

Kenapa? Karena pada dasarnya pengalih perhatian ini menyangkut 3 hal. Yang pertama adalah visual (mengalihkan pandangan dari jalan), manual (mengalihkan tangan dari setir), dan kognitif (mengalihkan konsentrasi pada kondisi jalan). Kegiatan dengan telepon genggam ini mempengaruhi 3 hal tersebut, karena itu kemungkinan terjadinya kecelakaan lebih besar. Menggunakan handsfree juga bukan solusi, karena tetap saja perhatian kita jadi teralih karena melakukan pembicaraan.

Selain telepon genggam, apalagi yang dapat menjadi pengalih perhatian dalam berkendara? Diantaranya adalah :
- makan dan minum (termasuk membuka kemasan, memasukkan sedotan, menutup kemasan),
- berbicara dengan penumpang (itu sebabnya ada larangan ‘dilarang bicara dengan supir’),
- grooming (bukan anjing aja lo…misal melihat di kaca spion dandanan kita sudah OK atau belum, menyisir, memoleskan bedak),
- membaca (misal membaca peta, koran, buku),
- merokok (mengambil rokok dari kotaknya, menyalakan, mencari asbak rokok),
- menggunakan sistem navigasi misal GPS, peta di telepon genggam atau computer tablet
-menonton video, menyalakan VCD, memilih lagu, mencari channel radio.

Ghiboo.com menjelaskan terdapat panduan yang diberikan untuk produsen mobil di Amerika Serikat agar perangkat teknologi yang digunakan dalam kabin mobil hendaknya tidak membutuhkan kedua tangan untuk mengoperasikannya atau yang bisa mengalihkan pandangan mata dari jalanan selama lebih dari dua detik.“ONE TEXT OR CALL 
COULD WRECK IT ALL”

Referensi:
www.distraction.gov
http://dmv.ca.gov

***

Advertisements