Mas Pastel

20140601-124523-45923447.jpg

‘Psst!’ Mata Ajeng bergantian menatapku dan arah pintu masuk. Aku yang sedang menata onde-onde di atas etalase, mengikuti arah matanya memandang.

‘Idolamu!’ katanya sambil terkikik geli. Aku menyenggolnya. Khawatir didengar mbak Irma, supervisor bagian jajanan.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, pria itu menggunakan jaket jeans lusuhnya. Warnanya biru muda kecoklatan, entah memang warna asli atau saking kusamnya. Wajahnya terbakar matahari, sebingkai kacamata melekat setia di ujung hidungnya yang bangir. Seperti biasa juga, ia menaruh kotak kue dari aluminium di lantai.

‘Dia kesini!’ Ajeng menjerit kecil. Lalu buru-buru ia menyingkir, meninggalkanku di posisi paling dekat dengan pria itu.

‘Minta baki, Mbak,’ katanya pelan. Aku menyerahkan baki warna merah jambu. ‘Kirim berapa hari ini?’ kataku basa basi.

‘Pastelnya dua puluh, risoles lima belas,’ katanya sambil mengambil baki yang kusodorkan.

‘Oh, kok lebih sedi…’ belum lagi aku selesai, dia sudah meninggalkanku. Berjongkok mengatur kue-kuenya di baki itu. Yah, gagal deh acara ngobrolnya.

‘Mbak, minta perut ayamnya tiga ya!’ kata ibu-ibu gemuk yang sudah berdiri di depanku. Selanjutnya aku sibuk melayani pelanggan, dan tak sempat lagi bertemu dengan si pengantar kue itu.

*
‘Belum juga ngobrol?’ tanya Ajeng terheran-heran ketika kuceritakan kisahku kemarin padanya. ‘Sudah seminggu sejak kau bilang padaku, kau ingin tahu lebih jauh tentang si pengantar pastel itu. Sudah kusarankan, kalau kau mau tahu, tanya ke mbak Irma. Dia kan yang berhubungan dengan semua supplier, termasuk si mas pastel,’ kata Ajeng seenaknya memberi julukan.

‘Ah ngga Jeng, malu,’ kataku sambil mempersiapkan baki-baki kosong untuk para supplier.

‘Mau sampai kapan begitu? Ya ngga dapet-dapet Yun. Kamu bilang aku baru minggu lalu, yakin deh, pasti sudah lama kan kamu naksir dia?’ tatap Ajeng penuh selidik.

Aku mengangguk malu. ‘Sebulan,’ kataku pelan.

‘Tuh kan!’ kata Ajeng penuh kemenangan. ‘Keburu beruban tu rambut. Hayo sana, lebih berani pas nyapa!’ sarannya lagi. Pelanggan mulai berdatangan. Namun mas pastel belum datang. Lo, manggilnya kok jadi ikut-ikutan?

‘Gimana Jeng, aku ngga berani…’ kataku pasrah.

‘Sudah! Nanti coba aku yang tanya!’ seru Ajeng gagah berani.

Dan pagi itu rasanya lebih lambat dari biasanya, karena mas pastel tidak juga menunjukkan batang hidungnya.

‘Pssst!’ bisik Ajeng keras. Aku sudah hapal kodenya. Dan memang disana masuklah mas pastel, membawa dua kotak kue. Mungkin sedang banyak pesanannya. Aku sudah siap dengan baki merah jambu, senyum manis, dan Ajeng di sampingku.

‘Mbak, ote-otenya lima,’ seorang bapak memanggilku untuk mengambil jajanan yang ditunjuknya. Aku mengeluh. Kenapa harus di saat-saat seperti ini…
‘Mbak…’ serunya lagi. Sebelum ia mengulangi permintaannya, aku sudah bergerak mengambilkan jajanan. Daripada mbak Irma memelototiku dari ujung etalase, mending langsung kukerjakan deh.

‘Gimana?’ kataku buru-buru ketika bapak itu sudah berlalu. Kulihat Ajeng sedang sibuk mengatur baki-baki yang sekarang penuh terisi.

‘Ngga jadi,’ kata Ajeng sambil tersenyum penuh arti.

‘Eh? Kenapa?’ tanyaku heran.

‘Tuh…’ kata Ajeng sambil memiringkan dagunya.

Aku melihat ke bawah tempat mas pastel biasanya meletakkan kotak kuenya. Ia sedang menata kue-kuenya di baki, disaksikan seorang anak kecil yang memegang bahunya. Masih berkaus singlet dan memakai celana dalam, anak itu nampak serius mengamati mas pastel.

‘Ah…anaknyakah…’ kataku setengah termangu.

Belum lagi Ajeng menjawabku, seorang wanita muda masuk, mendekati mas pastel dan anak tadi. Lalu ia menggandeng anak kecil itu dan berkata, ‘Aku cari susu dulu,’ dan mas pastel mengangguk. Kulirik perut wanita tadi, nampaknya sedang hamil besar.

‘Sudah, ngga apa,’ tepuk Ajeng terasa di punggunggku. ‘Masih ada mas klepon, mas ote-ote sama mas getuk,’ katanya sambil tertawa.

Aku juga tertawa, meski terasa perih di dada.
*

IndriHapsari
Gambar : resepgw.blogspot.com

Advertisements